
"Hahahahahah." Rani tertawa lantang di dalam sel penjara yang membuat sesama penghuni sel tersebut kebingungan bahkan merasa ngeri.
"Kenapa dengan orang itu?"
"Apa dia sudah gila? Tertawa sendiri tanpa sebab?"
"Dasar tidak waras! Di penjara malah dia merasa senang begitu." Begitulah suara bisik-bisik para narapidana yang menyaksikan Rani tertawa sendiri seperti orang gila.
"Hahahah aku menang aku menang!" Kata Rani yang semakin tertawa lantang.
Kemudian Rani mendekati salah satu narapidana di sana dan menangkup wajahnya sebelum berkata, "Kamu tahu? Aku menang, aku telah berhasil menghancurkan satu keluarga! Dan bodohnya, mereka baru menyadari sekarang bahwa aku lah pelakunya!"
Orang yang di ajak bicara Rani hanya geleng-geleng kepala dan merasa kebingungan akan tingkahnya.
Rani kembali duduk dalam posisi bersila kemudian melanjutkan bicaranya, "Kalian ingin tahu apa yang aku lakukan? Ya, aku berhasil membuat si suami begitu membenci istrinya bahkan membuat dia menikahiku dan menjadi milikku seutuhnya. Hahahaha luar biasa bukan?"
"Dasar keluarga bodoh! Bisa-bisanya kalian baru menyadari pelakunya sekarang!" Katanya lagi dengan tawa yang sudah terhenti.
***
"Coba cek lagi nak, siapa tahu masih ada yang ketinggalan." Anika berkata sambil mengarahkan Kaisar yang sedang memasukkan barang-barangnya ke tas.
"Enggak Ma, aman semua." Jawab pemuda tersebut sambil memasukkan baju terakhirnya ke tas.
"Akhirnya kita pulang!" Anika berseru lantang seperti anak kecil sambil mengepalkan kedua tangannya ke udara.
__ADS_1
Meski sudah dibolehkan pulang, Anika masih harus menjalankan kemoterapi karena kanker yang bersarang di tubuhnya belum benar-benar hilang tapi dirinya sudah tidak perlu dirawat di rumah sakit.
Kaisar berhambur memeluk Anika, "Kangen masakan Mama. Habis ini Mama harus masak yang banyak."
"Tenang, hari ini kita rayakan dengan makan-makan!" Jawab Anika.
"Ehem! Apa aku boleh ikut berpelukan?" Suara bariton seorang pria mengagetkan Kaisar dan juga Anika sehingga keduanya sama-sama melepaskan pelukannya.
"Aku kira siapa, ternyata kamu Revan." Kata Anika yang tersipu malu.
Revan duduk di ranjang milik Kaisar sebelum berkata, "Boleh makan-makan, tapi ingat harus tetap jaga pola makannya jangan sembarangan, apalagi kalian baru saja sembuh."
"Siap dok! Dokter mau ikut? Nanti ada tante Elena juga." Jawab Kaisar.
"Nggak boleh!" Tiba-tiba Anika berkata dengan suara yang lantang yang membuat Revan dan Kaisar menoleh ke arahnya.
"Hehe maaf, aku hanya bertanya." Jawab Revan sambil tertawa canggung namun ada sedikit rasa kecewa juga.
"Maksudku... Kamu nggak boleh menolaknya." Kata Anika sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Eh? Aku boleh ikut?"
"Ikut saja, lagian kamu juga salah satu orang penting yang merawatku selama ini."
"Yuhuu!" Kali ini Revan yang berhambur memeluk Kaisar, pemuda tersebut merasa bingung dengan tingkah dokter tampan itu.
__ADS_1
Revan melepaskan pelukannya sambil melirik ke arah Anika yang tengah menatapnya bingung, "Ehem! Lupakan, jangan melihatku seperti itu." Katanya dengan pura-pura merapikan kemejanya.
Anika hanya geleng-geleng kepala sedangkan Kaisar berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa.
"Oh ya Ma, kita pulang ke rumah kita kan?" Tanya Kaisar kemudian.
"Iya, tapi bukan rumah kita yang dulu. Tapi kita akan pulang ke apartemen milik Mama."
"Nggak papa Ma, kemana pun kita pergi, Kaisar selalu ikut dengan Mama." Jawab Kaisar yang membuat Anika tersenyum.
"Kalau begitu, izinkan saya mengantar kalian." Kata Revan.
Anika mengibaskan tangannya menolak tawaran Revan, "Ah itu tidak perlu, kami sudah terlalu sering merepotkanmu. Kami akan pulang sendiri."
Saat Revan hendak menjawab, Kaisar sudah lebih dulu berbicara, "Nggak papa Ma... Biar sekalian dokter Revan ikut aja, katanya nanti mau makan-makan."
"Kai..." Anika melotot ke arah Kaisar.
Kaisar seolah tidak peka dengan kode yang diberikan oleh Anika, dia menoleh ke arah Revan sebelum berkata, "Kalo dokter nggak keberatan, dokter bisa kok nganter kami pulang."
"Tidak sama sekali, saya justru senang bisa mengantar kalian pulang." Jawab Revan dengan antusias.
Anika menghela nafas panjang sebelum berkata, "Maaf Revan, kami sering merepotkanmu."
"Tenang saja Ika, bukan apa-apa kok." Jawab Revan dengan tersenyum lembut.
__ADS_1