
"Hei bro, gimana kabar? Sehat?" Tanya Yoga saat melihat Kaisar sudah duduk di bangku kelasnya.
Hari ini Kaisar memang mulai masuk sekolah setelah kemarin izin menemani Anika operasi.
"Ya gini lah." Jawab Kaisar singkat.
Yoga meletakkan tas di atas mejanya kemudian duduk di samping Kaisar.
"Sorry ya, gue nggak bisa bantu apa-apa." Ucap Yoga serius sambil menepuk pundak Kaisar.
Kaisar meringis sebelum berkata, "Santai aja kali, lagian sekarang udah baik-baik aja kok. Operasi Mama juga sukses."
"Oh ya, keadaan tante Ika gimana? Udah baikan?" Tanya Yoga kemudian.
"Mama sih sampai sekarang masih belum sadarkan diri, gue nggak tau kenapa tapi mungkin karena pengaruh obat bius kali ya?" Jawab Kaisar sambil memainkan pulpen di atas meja.
"Gue harap nyokap lo bisa segera pulih, Kai." Ucap Yoga.
Kaisar mengangguk pelan kemudian tersenyum ke arah Yoga sambil berkata, "Thanks ya."
"Gimana nih, elo udah ngerjain kisi-kisi yang dikasih guru buat UKK Minggu depan belum?" Tanya Yoga kemudian yang mengalihkan pembicaraan.
Kaisar mengalihkan pandangannya ke arah lain sebelum berkata, "Gue mana sempet ngerjain."
"Halah gembel lo! Boong kan, mana coba sini tasnya gue mau lihat!" Jawab Yoga yang sudah meraih tas Kaisar kemudian mulai membukanya dan mengambil beberapa buku pelajaran.
"Nah ini apa hah?! Kadal mau dikadalin, nggak usah pelit gue mau nyalin!" Kata Yoga kemudian yang langsung melancarkan aksinya untuk menyalin jawaban Kaisar.
Kaisar menjitak kepala Yoga sebelum berkata, "Kampret lo!" Walau berkata begitu, Kaisar justru tertawa dan diikuti oleh Yoga.
Sepertinya sudah begitu lama Kaisar tidak tertawa serenyah seperti yang terlihat sekarang.
***
__ADS_1
Kaisar memilih pergi ke rofftop sekolah saat istirahat tiba, tentu dia hanya ingin menenangkan pikirannya di sana.
Kaisar terlihat tengah duduk di atas sebuah meja kecil yang terdapat di rofftop tersebut sambil memandang ke kejauhan dalam diam saat tiba-tiba ada seorang murid yang datang ke sana juga.
Murid itu sedikit terkejut ketika melihat ada orang lain di sana, karena biasanya setiap kali dia mendatangi rofftop sekolah tidak pernah ada siapapun kecuali dirinya. Dia mendekat agar mampu melihat Kaisar lebih jelas.
"Elo?! Ngapain di sini?" Tanya murid itu ketika sudah mengenali Kaisar.
Kaisar menoleh ke arah murid itu sebelum berkata, "Fanya? Ngapain lo kesini?"
"Yee ditanya malah nanya balik. Gue udah biasa kali dateng kesini tiap istirahat." Jawab Fanya yang ikut duduk di samping Kaisar.
Kaisar tidak menjawab, dia hanya memperhatikan Fanya yang membuka tas kecil yang sejak tadi dibawanya, isinya ternyata bekal makanan dan sebotol air mineral.
Kaisar mengangkat kedua alisnya sebelum bertanya, "Lo dateng kesini cuma mau makan bekal doang? Kenapa nggak di kantin aja sih, dasar nggak ada kerjaan."
Fanya mencimbikkan bibirnya sebelum berkata, "Males gue ke kantin, yang ada gue dibully, mending di sini adem dan tenang."
"Kenapa dibully?"
"Lo sendiri ngapain di sini? Tumben-tumbenan." Tanya Fanya kemudian.
"Gue cuma nenangin diri aja." Jawab Kaisar tanpa menoleh ke arah Fanya.
"Heleh nenangin diri, kayak banyak masalah aja lo."
"Bokap gue selingkuh." Jawab Kaisar tiba-tiba yang seketika membuat Fanya tersedak makanannya sendiri.
Fanya segera mengambil air mineral dan meminumnya sebelum berkata, "Sorry gue nggak tahu."
Kaisar menyunggingkan senyumnya sambil memandang ke kejauhan dia berkata, "Santai aja kali, gue juga udah biasa aja sekarang."
"Lo pasti belum makan siang ya? Ini gue ada roti, lo mau? Lumayanlah buat ganjel perut." Kata Fanya sambil menyodorkan sebungkus roti kacang ke arah Kaisar dia memilih mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
"Nggak, gue nggak laper." Jawab Kaisar singkat, namun tak lama perutnya berbunyi menandakan dia memang tengah lapar yang membuat wajah Kaisar memerah karena ketahuan berbohong.
Dengan menahan tawa Fanya kembali menawarkan rotinya ke Kaisar, "Udah ambil aja nggak usah malu-malu."
Kaisar memandangi roti yang disodorkan oleh Fanya, dengan ragu-ragu dia pun menerima roti tersebut, "Thanks." Ucapnya singkat.
"Lo nggak perlu berpikir bahwa cuma elo satu-satunya anak yang menderita karena broken home." Fanya tiba-tiba berkata demikian disela-sela makannya.
Perkataan Fanya membuat Kaisar menghentikan makannya kemudian berkata, "Maksud lo?"
"Lo pasti berpikir kan karena orang tua elo pisah, elo jadi mikir kalo elo orang paling menderita di dunia ini."
"Tapi tanpa lo sadari, di luar sana masih banyak anak-anak yang bahkan lebih menderita daripada elo, harus pisah dari kedua orang tua mereka karena broken home sampe hidup di jalanan." Lanjut Fanya lagi.
"Gimana elo bisa tahu? Elo nggak ngerasain apa yang gue rasain, jadi stop ngomong sesuatu yang nggak jelas."
Fanya tersenyum sinis sebelum menjawab, "Gue juga lahir dari keluarga broken home, nyokap gue lebih milih laki-laki lain karena nggak kuat ngurus bokap gue yang sakit-sakitan."
"Itu sebabnya gue dibully karena latar belakang gue sampe gue gak punya temen, dan bisa dibilang, elo satu-satunya yang gue anggap sebagai temen." Lanjut Fanya.
Kaisar bisa melihat, walaupun Fanya menunjukkan senyumnya saat bercerita, namun tatapan matanya menunjukkan dia menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Lo masih mending, lo masih dikelilingi orang-orang baik yang peduli sama elo, sedangkan gue sama sekali sendirian. Cuma bokap gue yang mau nerima gue." Lanjut Fanya lagi.
Kaisar tertawa kecil sebelum berkata, "Mending apanya, nyokap gue baru aja operasi pengangkatan rahim, dan selama nyokap gue dirawat di rumah sakit bokap gue gak pernah nemenin gue ataupun nyokap, dan gue harus ngurus semuanya sendirian udah kayak anak yatim tau nggak."
"Hidup itu kejam ya nggak sih?" Ucap Fanya sambil memainkan makanannya menggunakan sendok.
Kaisar ingin mengatakan sesuatu namun ponsel di saku bajunya tiba-tiba berdering, dengan cepat Kaisar mengangkat telepon itu.
"Halo?" Sapa Kaisar.
"Apa?!" Kaisar begitu terkejut ketika mendengar perkataan dari orang di seberang telepon. Wajahnya seketika menjadi pucat dan dia begitu panik.
__ADS_1
"Baik, saya kesana sekarang." Jawabnya yang langsung menutup telepon dan pergi meninggalkan Fanya sendirian, tanpa memperdulikan Fanya yang terus-menerus memanggilnya.