
"Selama hampir tiga tahun Anika hidup dalam penderitaan dan disalahkan atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan." Elena menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya, "Rendra terus pulang malam dalam keadaan mabuk-mabukan. Sampai akhirnya Anika mendengar kabar bahwa, Rendra menghamili wanita lain yang saat ini sudah menjadi istrinya, yaitu Rani."
Kaisar membelalakkan matanya tidak percaya, dia merapatkan giginya sebelum berkata, "Brengsek! Ternyata Papa serendah itu?!"
"Lalu kenapa sampai sekarang Mama masih bertahan?" Tanya Kaisar lagi, nada suaranya sedikit meninggi.
Elena memejamkan matanya kemudian menjawab, "Dia bertahan demi dirimu." Jawabnya dengan suara lirih.
Kaisar mengalihkan pandangannya terlihat ada sedikit cairan bening yang keluar dari matanya.
"Jadi selama ini Kai menjadi beban untuk Mama, tan?" Tanya Kaisar dengan suara pelan.
Elena menggelengkan kepalanya berulang kali, "Tidak sayang, jangan pernah berfikir seperti itu! Justru kamu adalah kekuatan bagi Anika, karena ada kamu dia mampu bertahan sampai detik ini."
"Tapi Mama nggak harus seperti ini, dia bisa pergi kapan saja. Mungkin kalau dari dulu Mama mau pergi, keadaannya nggak sekacau sekarang. Dan kami pasti bisa hidup bahagia meski itu tanpa Papa."
"Tante tau itu nak, tapi keadaannya tidak sesederhana itu. Kamu tau kan Mamamu seperti apa? Dia adalah wanita yang selalu teguh dengan pendiriannya." Kasiar berdecak kesal setelah mendengar perkataan Elena.
__ADS_1
"Mamamu tidak mau pergi sebelum kebenarannya terungkap, dia tidak mau hidup dalam kebencian Rendra. Anika tidak salah Kai, untuk itu dia tidak mau pergi dan mengalah begitu saja serta disalahkan terus menerus. Kalau Anika pergi, belum tentu masalahnya akan selesai dan hilang begitu saja. Bisa jadi Rendra akan mempersulit hidup Anika bahkan lebih parah daripada ini." Lanjut Elena.
"Dan kalaupun Mamamu harus pergi, setidaknya dia bisa menunjukkan kebenaran meski hanya sedikit dan Rendra tidak terlalu membencinya." Jelas Elena lagi.
Kaisar terlihat menghela nafas berulang kali untuk menahan air matanya, Elena yang melihat itu menepuk pundak Kaisar dengan lembut.
"Menangislah, tidak apa-apa luapkan semuanya dengan air mata." Elena berkata dengan suara pelan, dia ikut sedih melihat keluarga sahabatnya hancur.
Akhirnya Kaisar menangis sejadinya-jadinya kedua tangannya menutupi wajahnya.
***
Kaisar menggelengkan kepalanya dengan lemas, "Tante aja yang pulang, Kai masih mau nungguin Mama."
Elena menarik nafas panjang sebelum berkata, "Nak, Mamamu baik-baik saja, disini ada tante yang bisa jagain Mama. Lagipula kamu harus sekolah kan?"
Kaisar menoleh ke arah Elena, "Kai izin nggak sekolah ya hari ini aja. Kai mau nungguin Mama sampai sadar dulu." Anika memang belum sadar sampai saat itu.
__ADS_1
"Tapi Kai..." Elena belum sempat menyelesaikan perkataannya sebelum dipotong oleh Kaisar.
"Please tan, hari ini aja. Kaisar janji."
Elena sebenernya tidak setuju, bagaimanapun tugas Kaisar adalah sekolah, namun karena Kaisar memaksa mau tidak mau Elena menyetujuinya juga.
"Baiklah, tapi ada satu syarat. Hari ini kamu boleh izin nggak sekolah, tapi kamu harus pulang dulu bersihkan dirimu dan makan!"
Kaisar ingin menjawab namun Elena lebih dulu berkata, "Jangan menolak!" Ucapnya dengan tegas.
"Baiklah." Jawab Kaisar dengan lemas, dia hendak berdiri namun tidak jadi karena perkataan Elena.
"Satu hal lagi Kai, jangan bahas ini dulu di depan Anika. Dia masih syok dan tidak boleh banyak pikiran."
"Kaisar tau tante. Kalau begitu, Kaisar pulang dulu nanti kesini lagi." Ucap Kaisar.
Elena tersenyum kemudian menjawab, "Iya, tante yang akan jagain Mama. Pulanglah, jangan lupa makan!"
__ADS_1
Kaisar mengangguk pelan kemudian berkata, "Kaisar pergi dulu tan."
"Iya hati-hati di jalan." Jawab Elena.