
"Kak, apa aku masih ada jadwal siang ini? Jika tidak aku akan pulang lebih awal." Satya bertanya kepada sekretarisnya sambil menandatangani sebuah dokumen.
"Ada Sat, hari ini kamu ada jadwal meeting bersama pimpinan perusahaan CT Group." Jelas sekertaris itu, jangan heran jika dia memanggil Satya dengan sebutan nama saja. Karena yang menjadi sekretaris Satya adalah kakak sepupunya sendiri sehingga jika sedang berdua saja tidak ada bahasa formal diantara mereka.
"Diganti saja jadwalnya bisa nggak kak? Rasanya hari ini aku benar-benar kelelahan." Satya berkata dengan memijat pelipisnya.
Reza duduk di sofa ruangan tersebut sambil menyandarkan tubuhnya kemudian menjawab, "Tidak bisa Satya... Sebelumnya kamu sudah pernah membatalkan saat kamu pergi ke luar kota. Dan kali ini benar-benar tidak bisa, sudahlah datang saja lagipula ini adalah projek besar, sayang kalau pimpinan sana akan kecewa dan membatalkan kerja sama kita."
"Hais!" Satya bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi.
"Mau kemana?" Tanya Satya
"Makan lah, gak lihat jam ini sudah waktunya makan siang." Jawabnya kemudian berlalu begitu saja.
Reza geleng-geleng kepala melihat tingkah adik sepupunya itu, "Dasar! Sudah tua tapi kelakukan masih seperti anak kecil saja!" Kemudian dia pun segera menyusul kemana Satya pergi.
***
__ADS_1
Rendra terlihat duduk bersama seorang perempuan disebuah kafe. Dia nampak membolak-balik sebuah kertas yang ada ditangannya itu.
"Linda, sebenarnya jam berapa pertemuan ini dilaksanakan?" Tanya Rendra setelah merasa bosan menunggu cukup lama.
"Jam 1 siang pak." Jawab Linda dengan sedikit rasa takut, karena sekarang waktu sudah menunjukkan hampir jam 2 siang.
Rendra meletakkan kertas diatas meja dengan kasar, "Linda, sekarang kamu hubungi orang itu dan kita batalkan saja kerja sama ini! Saya tidak suka membuang waktu dengan menunggu orang yang tidak menghargai waktu." Kemudian Rendra bersiap untuk pergi, namun saat dia baru saja mau melangkahkan kakinya, sebuah suara membuatnya berhenti.
"Tunggu sebentar pak Rendra!" Suara seorang pria berhasil menghentikan langkah Rendra.
"Tunggu... Tunggu pak! Maaf kami datang terlambat." Suara pria itu yang tidak lain adalah Satya, dia berjalan dengan sedikit berlari menghampiri Rendra yang jelas terlihat marah.
"Apa apa?" Rendra bertanya singkat dengan nada yang terdengar sinis.
Satya menjadi salah tingkah, bingung harus menjelaskan bagaimana, "Mohon maaf pak kami terlambat, karena tadi ada sedikit masalah di perusahaan kami."
"Itu bukan urusan saya! Saya sudah membatalkan kerja sama kita, karena saya tidak suka orang yang tidak bisa menghargai waktu seperti Anda!" Rendra berbicara dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Rendra melangkahkan kakinya, namun lagi-lagi dicegah oleh Satya dengan menahan tangannya. "Mohon maaf sekali pak, tolong beri kami kesempatan sekali lagi. Saya berjanji akan menjadi partner yang baik untuk pak Rendra dan saya jamin projek kali ini akan sangat berhasil." Satya berbicara dengan menggebu-gebu.
Di sampingnya Linda berbisik kepada Rendra, "Sudah pak, setuju saja lagipula tidak ada ruginya jika kita melanjutkan kerja sama ini." Linda berbisik dengan suara pelan yang hanya didengar oleh mereka berdua.
Rendra diam seperti menimbang ucapan Linda, sebetulnya dia juga berfikir hal yang sama tapi dia sudah terlanjur kesal karena merasa tak dihargai oleh Satya. Bagaimana tidak, dia sudah menunggu hampir satu jam lamanya.
"Baiklah! Saya beri Anda kesempatan satu kali lagi, tapi ingat ini adalah yang pertama dan terakhir!" Akhirnya Rendra menyetujui saran dari sekretarisnya itu.
Tapi ada satu hal yang menganggu Rendra, dia melirik ke satu arah berusaha memberi kode kepada Satya. Namun sayangnya, Satya tidak cukup peka untuk memahami kode yang diisyaratkan oleh Rendra, dia hanya melongo kebingungan.
"Hais! Lepaskan tanganku! Mau sampai kapan Anda memegang tanganku seperti ini?!" Akhirnya Rendra berbicara yang menjawab kebingungan Satya.
Satya buru-buru melepaskan tangannya dari tangan Rendra, "Ma-maaf pak, mari kita duduk." Satya berbicara dengan terbata-bata kemudian menarik kursi untuk diduduki Rendra.
Reza yang sejak tadi diam, ikut menyiapkan kursi untuk diduduki oleh Satya, adik sekaligus atasannya itu. Mereka berempat pun duduk dalam satu meja yang sama.
'Cih! Dingin dan angkuh apanya?! Apa orang-orang melihat orang ini dengan mata yang tertutup?' Batin Rendra sambil mengamati Satya yang duduk dihadapannya.
__ADS_1
'Astaga dia terkenal sebagai orang yang ramah, tapi ternyata dia menakutkan seperti ini! Apa orang-orang sedang bercanda menganggap dia seperti itu?' Batin Satya sambil geleng-geleng kepala tak percaya.
Dan akhirnya mereka pun sepakat memulai meeting itu, walaupun di awali dengan sedikit keributan.