Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Senyum Kemenangan


__ADS_3

"Apa! Dia masuk rumah sakit?" Rani terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


"Kenapa dia bisa masuk ke rumah sakit?" Rani bertanya dengan raut wajah yang cemas, dia sesekali diam karena mendengar jawaban dari seseorang dari seberang telepon.


Raut wajahnya sedikit terkejut saat mengetahui jawabannya, "Kanker? Kasihan sekali dia."


"Hahaha baguslah kalau dia sakit. Bahkan kalau bisa dia mati sekalian!" Lanjutnya dengan diiringi suara tawa yang lantang seolah mendengar sesuatu yang lucu.


"Kerja bagus! Baiklah, aku tunggu kabar selanjutnya." Selepas berkata demikian Rani memutuskan panggilannya. Namun saat dia menoleh ke arah lain, dia terkejut Rendra sudah berdiri di dekatnya.


"Mas, k-kamu kapan datang?" Dengan gugup Rani memberanikan diri untuk bertanya, dia takut Rendra mendengar percakapannya dengan seseorang di ponsel tadi.


"Baru saja, teleponan dengan siapa kamu tadi?" Rendra bertanya sambil duduk di samping Rani.


'Apa tadi dia mendengar semuanya? Bagaimana ini jika aku ketahuan dan dia marah padaku?!' Batin Rani dengan panik.


Rendra mengibaskan tangan kanannya di depan wajah wanita tersebut, karena dia hanya melamun.


"Rani, dengan siapa kamu teleponan tadi? Kok malah melamun." Tanya Rendra lagi, dia bertanya dengan nada suara yang terdengar biasa saja, tidak terlihat ada kemarahan di wajahnya.

__ADS_1


"Ee anu itu mas, temen lama. Dia nawarin tas ke aku tapi aku nggak mau, Hehe." Jawab Rani, dia berusaha bersikap biasa saja.


Rendra hanya mengangguk pelan, kemudian dia tidur di pangkuan Rani sambil memejamkan mata.


"Ada apa mas? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Rani bertanya sambil mengusap-usap rambut Rendra dengan lembut.


"Banyak." Jawab Rendra singkat.


"Kamu bisa cerita padaku kalau kamu mau."


"Kaisar sudah tahu semuanya Rani, apa yang harus aku lakukan?" Kata Rendra dengan masih dalam posisi tidur.


"Apa?! Bagaimana dia bisa tahu mas?"


"Lalu bagaimana? Apa dia marah?"


Rendra menganggukkan kepalanya yang masih di pangkuan Rani.


"Lalu bagaimana dengan Mbak Ika? Apa dia baik-baik saja sekarang?" Tanya Rani lagi.

__ADS_1


Rendra mengambil posisi duduk kemudian berkata, "Untuk apa kamu mengkhawatirkan wanita murahan itu? Aku sama sekali tak peduli dengannya!"


"Mas, jangan terlalu kasar padanya. Bagaimanapun dia masih istrimu, ibu dari anak mu."


"Berhenti membahas Anika di depanku!" Selepas berkata demikian Rendra bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Rani sendiri.


Tanpa Rendra sadari, ada senyum kemenangan menghiasi wajah Rani saat itu.


"Permainan akan segera berakhir, Ika. Rendra akan menjadi milikku seutuhnya." Rani berkata dengan tersenyum sinis.


***


"Aku harus mencari tahu kebenarannya, aku harus bisa demi Mama." Kaisar berbicara pada dirinya sendiri saat dia sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia saat ini tengah duduk di kamarnya.


"Satu hal yang pasti, apa alasan orang itu menjebak Mama, apa Mama pernah melakukan kesalahan dimasa lalu?"


"Jika pelakunya sampai tertangkap, aku tidak akan membiarkannya begitu saja! Aku pasti akan memberinya pelajaran yang setimpal!"


"Lihat saja, aku pasti akan menemukanmu!" Kaisar bertekad untuk mencari tahu semuanya sendiri.

__ADS_1


Kaisar sudah tidak tahan melihat Anika terus menderita seperti itu. Apalagi dia sudah mendengar dari mulut Rendra langsung, bahwa laki-laki itu sama sekali tidak peduli dengan Anika.


"Ma, saatnya aku yang akan berkorban demi Mama." Ucap Kaisar pelan, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya untuk pergi ke rumah sakit, tak lupa dia membawa berbagai keperluan yang akan dibutuhkan Anika disana.


__ADS_2