Keluarga Yang Tak Dirindukan

Keluarga Yang Tak Dirindukan
Keadaan Darurat


__ADS_3

Kaisar langsung datang ke rumah sakit setelah mendapat telepon siang tadi si sekolah, tentu dia sudah meminta izin kepada guru untuk pulang terlebih dahulu.


Kaisar berlari dengan secepat mungkin menuju ruang ICU dimana Anika dirawat, karena dia tadi mendapat kabar bahwa kondisi Anika tiba-tiba menurun drastis dan seketika menjadi kritis.


Kaisar beberapa kali mencoba untuk masuk ke dalam ruang ICU namun beberapa perawat menahannya dengan berdalih agar tidak mengganggu pekerjaan dokter, dan akhirnya Kaisar hanya mampu melihat semuanya dari luar lewat jendela yang memperlihatkan kondisi dalam ruangan ICU.


"Mama!" Kaisar panik bahkan dia tidak mampu menahan air matanya saat melihat dokter sedang berupaya menyelamatkan Anika.


Sekilas Kaisar melihat ke arah monitor pasien yang saat itu menampilkan garis lurus yang menandakan sudah tidak ada lagi pergerakan jantung.


Kaisar semakin histeris, dia memukul-mukul jendela kaca sambil memanggil-manggil Mamanya, "Nggak, nggak mungkin! Mama nggak boleh meninggal! Mama bangun Ma!"


Revan dan Elena yang menangani Anika tak kalah panik, kedua dokter tersebut melakukan kejut jantung menggunakan alat defibrillator bertujuan untuk memulihkan detak jantung pasien agar kembali normal.


Melihat keadaan darurat itu Kaisar nekat memasuki ruangan ICU meski ditahan oleh beberapa perawat Kaisar mencoba berontak.


"Mama bangun Ma! Buka mata Mama! Mama nggak boleh meninggalkan Kaisar sendiri!" Kaisar berteriak lantang di dalam ruangan ICU.


"Dokter, bantu Mama jangan biarkan Mama meninggal dok!" Kata Kaisar kepada Elena dan Revan sambil menangis histeris.


"Tolong dek, jangan ganggu konsentrasi dokter." Perawat disana mencoba membawa Kaisar keluar dari ruangan namun Elena mencegahnya.

__ADS_1


"Biarkan dia disini." Kata Elena yang kemudian dituruti oleh perawat yang memegang tangan Kaisar.


Elena menghampiri Kaisar dengan tegas dia berkata, "Kamu ingin Mamamu selamat?"


Kaisar mengangguk berulang kali, tanpa ditanya pun sudah jelas dia tidak ingin Anika tiada.


"Kalau begitu kamu boleh disini tapi kamu harus tenang dan biarkan kami menyelamatkan Anika, Oke?" Lanjut Elena lagi.


"Tolong Mama tante, selamatkan Mama." Kaisar memohon kepada Elena.


"Pasti." Jawab Elena kemudian dia segera membantu Revan melakukan pekerjaannya.


Setelah dokter dan perawat melakukan beberapa upaya penyelamatan, akhirnya semuanya bisa bernafas lega karena jantung Anika kembali berdetak, namun dia masih belum melewati masa kritisnya.


Kaisar mencoba menghubungi Rendra beberapa kali berniat memberi kabar tentang keadaan Anika, namun pria paruh baya tersebut begitu sulit dihubungi.


Kaisar menghapus air matanya sebelum berkata, "Maaf Ma, Kai harus pergi dulu, karena ada sesuatu yang harus Kai lakukan." Ucapnya lalu mencium tangan Anika kemudian pergi seperti yang dikatakannya tadi.


***


"Den Kaisar?" Seorang penjaga langsung mengenali Kaisar dengan sekali lihat.

__ADS_1


Kaisar tersenyum sebelum bertanya, "Papa ada di kantor kan pak?"


"Iya Den, bapak baru saja kembali ke kantornya." Jawab penjaga tersebut.


"Oh kalau begitu saya masuk dulu pak." Kata Kaisar lalu memasuki kantor Rendra dan segera menuju ke ruangan Rendra tanpa bertanya ke resepsionis terlebih dahulu.


Rendra terlihat tengah melakukan panggilan video dengan Adel saat Kaisar tiba-tiba masuk ke ruangannya.


Rendra cukup terkejut melihat kedatangan Kaisar, "Nanti Papa telepon lagi ya." Katanya kepada Adel dan langsung mematikan panggilan video tersebut.


Rendra segera menghampiri Kaisar dan memeluknya, "Nak, kamu datang? Papa senang kamu mau kembali ke Papa."


Kaisar hanya diam, dia melepaskan pelukan Rendra sebelum menyerahkan sesuatu ke tangannya.


"Apa ini nak?" Tanya Rendra sambil melihat benda kecil ditangannya.


"Lihatlah, Papa akan segera mengetahuinya." Jawab Kaisar lalu tanpa basa-basi dia langsung meninggalkan ruangan Rendra.


"Kaisar!" Panggil Rendra, dia mencoba mencegah Kaisar untuk pergi namun dia juga penasaran terhadap benda yang diberikan Kaisar tadi yang merupakan sebuah flashdisk.


Rendra segera menghampiri mejanya dan memasangkan flashdisk tersebut ke laptopnya, Rendra semakin bingung saat mengetahui flashdisk tersebut hanya berisi satu berkas video.

__ADS_1


Rendra membelalakkan matanya tak percaya setelah melihat video berdurasi sekitar sepuluh menit tersebut.


"Brengsek!" Katanya sambil mengepalkan tangannya dengan geram.


__ADS_2