
"Cerai? Kenapa Mama sampai mengigau seperti itu, apa masalah Mama sama Papa begitu besar?" Kaisar menoleh ke arah Anika sekali lagi yang masih duduk di atas sofa.
"Hais malah gue kepikiran gini jadinya. Udah Kai, itu cuma mimpi iya mimpi." Kaisar menggelengkan kepalanya berulang kali kemudian melangkah memasuki kamarnya.
Sementara itu Anika juga hendak pergi ke kamarnya bersiap untuk membersihkan diri karena hari sudah sore, namun baru beberapa langkah dia berjalan, dia mengentikan langkanya karena mendengar suara mobil yang berhenti di pelataran rumahnya.
"Siapa yang datang, apa itu Rendra?" Anika bertanya pada dirinya sendiri kemudian berjalan menuju pintu depan, sebelum dia membuka pintu dia mengintip lewat jendela terlebih dahulu untuk mengetahui siapa yang datang.
Anika tersenyum kala mengetahui siapa yang datang, "Ah Rendra rupanya." Kemudian dia membuka pintu rumah menyambut kedatangan Rendra.
Saat Anika membuka pintu bersamaan dengan itu juga Rendra sudah berada tepat di depan pintu hendak melakukan hal yang sama.
Rendra mengernyitkan dahi saat melihat Anika yang tersenyum lebar ke arahnya kemudian dia bertanya, "Ada apa?"
Anika hanya geleng-geleng kepala tapi senyumannya masih terukir jelas di bibir mungilnya itu.
__ADS_1
"Minggir." Tak mau bertanya lebih jauh, Rendra menyuruh Anika untuk minggir karena dia masih berdiri di ambang pintu yang mengahalangi Rendra untuk masuk ke dalam rumah.
Rendra hendak melangkahkan kakinya namun lagi-lagi dihalangi oleh Anika, "Ada apa lagi?" Tanya Rendra yang sudah mulai jengah, sungguh dia sudah ingin masuk dan beristirahat karena hari ini hari yang cukup melelahkan baginya, namun ada saja tingkah Anika yang selalu membuatnya ingin naik pitam.
"Berikan tasmu." Anika mengulurkan tangannya meminta Rendra memberikan tas yang sedang di bawanya.
"Ah tidak perlu! Cepat minggir aku mau masuk!" Rendra berkata dengan cukup keras sambil mendorong Anika dengan tubuhnya, tapi hanya dorongan yang cukup pelan kemudian masuk secepat kilat.
"Aw!" Anika mengaduh kesakitan yang membuat Rendra menoleh ke arahnya.
"Cih! Siapa juga yang bertanya." Rendra berkata dengan sewot.
Anika mengikuti langkah Rendra dari belakang sambil tangannya dia sembunyikan dibalik punggung. Ya, tingkahnya seperti anak kecil.
Rendra yang menyadari sedang diikuti oleh Anika pun menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba yang membuat Anika menabrak punggung Rendra.
__ADS_1
"Aw! Bisakah kamu tidak berhenti mendadak seperti ini hidungku jadi sakit tauk!" Protes Anika sambil mengusap hidungnya yang sakit akibat menabrak punggung Rendra.
Rendra membalikkan tubuhnya, dia bukannya minta maaf justru hanya diam sambil menatap tajam ke arah Anika, dari tatapannya itu dia seperti mengatakan, "Berhenti menggangguku atau kamu akan tau akibatnya!"
Anika yang mendapatkan tatapan mengerikan dari Rendra termundur dua langkah kemudian berkata, "Baiklah-baiklah aku pergi."
Rendra tidak menghiraukan Anika lebih lama dia segera pergi menuju kamarnya, namun sebelum benar-benar sampai di kamarnya dia mendengar teriakan Anika yang menggema.
"Mandilah suamiku! Aku akan menyiapkan makanan untuk makan malam kita bertiga!" Anika berteriak lantang kemudian berjalan cepat menuju dapur.
Rendra yang mendengar teriakan itu hanya geleng-geleng kepala, tapi siapa sangka saat dia membalikkan badan ada senyuman yang mengembang di bibirnya.
Bersambung...
Jangan lupa klik like dan favorit ya 🐣🐣🐣
__ADS_1