
Perjalanan pulang yang cukup lama tak membuat Dinda lelah, di bandara internasional wanita itu betah untuk mematung di samping mobil yang siap untuk mengantarkannya pulang, menyayangkan kalau ini adalah pertemuan terakhirnya dengan dokter yang sangat baik seperti Dokter Tono.
''Kenapa lagi?'' Dokter Tono yang hampir saja naik mobil jemputannya itu kembali menghampiri Dinda.
Tanpa berkata sepatah katapun Dinda memeluk tubuh kekar Dokter Tono, tiba tiba saja wanita itu sesenggukan di dada bidang sang dokter.
''Kita pasti akan bertemu lagi, tapi lain kali, ya, sekarang kamu pulang dan istirahat, aku takut kamu sakit karena kecapekan.'' Alan mengelus punggung Dinda yang bergetar.
Tak mengendurkan Dinda malah memper erat tangannya, hingga Alan merasa terhimpit dan tertawa.
''Geli.'' bisiknya malu di lihat bapak dan ibunya, meskipun dalam hati tak ingin melepaskan, setidaknya Alan masih punya sopan santun di depan mertuanya dan tak mau membuat mereka curiga.
Setelah puas Dinda mengendurkan pelukannya dan mendorong Dokter Tono menuju mobilnya.
"Dokter duluan!" membukakan pintu untuk Alan.
"Terima kasih." ucapnya diiringi dengan senyuman.
"Jalan pak!" ucap Alan pada supir kantornya yang tak pernah di ketahui oleh Dinda, lambaian tangan itu bagaikan melepas penjaga hatinya, Dinda merasa runtuh saat mobil Alan menghilang.
Apakah masih ada orang sebaik dokter Tono yang akan menemaniku nanti.
"Dinda, ayo kita pulang!" teriak Faisal yang sudah pegal menunggunya, sedangkan pak Yanto dan Bu Yanti serta Salma sudah ada di dalam, kali ini Daka yang menjadi supirnya, rencana langsung mengantar Dinda dan keluarganya ke kampung halaman.
Beberapa menit membelah jalanan, Dinda masih saja menampilkan wajah merengutnya, jangankan senyum, bicara sepatah kata pun tidak, tatapannya hanya pada luar jendela.
"Dinda," panggil Faisal, "Kamu sudah janji kalau kamu nggak mau nyusahin dokter Tono, tapi apa, sekarang kamu diam, nanti kamu ingat masa lalu, kalau kamu sakit lagi gimana, nanti kasihan dokter Tono,'' ucap Faisal panjang lebar mengingatkan kalau Dinda tidak boleh terlalu banyak melamun karena itu akan kembali membawanya ke masa pahit yang baru saja terhempas.
"Aku nggak apa apa kok bang, jangan khawatir, aku sudah bisa menerima semuanya, tapi tolong antar aku ke rumah mama Yanti sebelum pulang." pintanya.
Akhirnya Daka dan Faisal menyetujui permintaan Dinda, sekalian pamit, itu menurut Faisal.
Di sisi lain, Bu Yanti hanya bisa memberi minyak angin di dada Alan yang saat ini sudah berbaring setelah melepas bajunya, pria itu tak berdaya untuk melakukan apapun, tubuhnya terasa lemas dan pusing, wajahnya terlihat pucat, selain kurang tidur, Alan juga kebanyakan aktivitas setelah penyamarannya sampai saat ini.
"Mama panggilin dokter ya?" ucap Bu Yanti mengelus peluh dingin yang membasahi tubuh Alan.
Pria itu hanya menggeleng dengan mata terpejam.
"Tapi gimana kalau kamu sakit, Al?" ucap Bu Yanti melepas sepatu Alan.
Pria itu malah tersenyum.
__ADS_1
"Aku ini laki laki ma, nggak boleh sakit, lagi pula mama itu terlalu lebay." Kini Alan memilih untuk meringkuk memunggungi Bu Yanti yang masih setia duduk di tepi ranjang.
Bu Yanti membuka koper Alan dan menggeledah baju kotor pria itu untuk membawanya keluar, belum juga sampai membuka pintu. Bu Yanti memutar tubuhnya saat mendengar Alan berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Kali ini tak hanya Salma dan Bu Tatik serta Pak Yanto, Alan pun merasakan Jat lag pesawat.
"Tu, kan, mama bilang apa, biar mama panggil Dokter," lagi lagi Alan menghentikan sang mama yang sudah menempelkan ponsel di telinganya.
"Nggak usah, aku nggak apa apa." masih kekeh dengan pendiriannya.
Saat keduanya di kamar mandi, tiba tiba saja pintu di ketuk dari luar, Bu Yanti yang masih memondong baju Alan itupun membukanya.
"Ada apa, Bi?" tanya Bu Yanti.
"Itu nyonya, keluarga Non Dinda ada di depan." jawab sang Bibi yang membuat Bu Yanti seketika menjatuhkan baju Alan.
Sedangkan Alan yang juga mendengar ucapan pembantunya pun langsung keluar dari kamar mandi mendekati mamanya yang masih mematung di ambang pintu.
"Bibi Yakin?" Alan memastikan.
"Ya elah, Den, mata bibi masih waras, masa iya bibi lupa dengan wajah imut non Dinda dan den Faisal.''
''Al, mama keluar dulu.'' menepuk lengan Alan yang masih bingung dengan apa yang akan di katakan nanti.
Setelah Alan mengangguk, Bu Yanti langsung saja menemui menantu kesayangannya.
Pintu terbuka dengan lebar, Mama Yanti merentangkan tangannya saat ada di depan Dinda, kedua wanita itu saling berpelukan bagaikan Ibu dan anak yang sudah lama tak bertemu, saling melepas rindu yang menggebu, karena Bu Yanti memang sengaja tak menjenguk Dinda saat sakit, karena tak tega melihat keadaan Dinda.
''Kamu sehat?'' mencium kening Dinda dengan lembut lalu menggiringnya ke ruang keluarga.
Dinda mengangguk dan tersenyum, namun kali ini Dinda malah celingak celinguk seperti mencari sesuatu.
''Kamu cari apa, Nak?'' tanya Bu Yanti saat menangkap wajah bingung menantunya.
''Ma, apa kak Alan nggak pernah bawa anakku main kasini?'' tanya Dinda.
Deg, semua jantung yang ada di sana berdetak dengan kencang dengan pertanyaan Dinda, ini adalah satu fakta yang masih di sembunyikan dari Dinda, dan mereka memang menunggu Dinda sampai pulih betul untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.
Bu Yanti yang ada tepat di samping Dinda itu menatap Faisal dan Bu Tatik serta Pak Yanto bergantian.
Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan, apa ini memang saatnya Dinda harus tau semuanya, atau aku harus berbohong lagi, tapi jika nanti dia tau dari orang lain pasti akan lebih marah lagi.
__ADS_1
''Permisi,'' suara dari arah pintu membuat semua menoleh, ternyata pak Heru yang baru pulang dari kantor.
Dengan segera Dinda berlari kecil memeluk pria paruh baya itu.
''Katanya ada yang baru pulang dari Paris, bawa oleh oleh apa?'' canda Pak Heru.
Dinda hanya tersenyum dan menggeleng, karena ia memang tak membeli apapun untuk mertuanya. Bukan lupa, tak enak sama dokter Tono karena sudah habis uang banyak.
''Maaf.'' ucapnya manja.
''Bercanda kok,'' Pak Heru ikut bergabung dengan yang lain, begitu juga dengan Dinda yang kembali ke tempat duduknya.
Suasana masih nampak tegang. Bu Yanti meringsuk duduknya lebih mendekat lagi dan mengelus rambut Dinda.
''Mama belum jawab pertanyaan yang tadi.''
Mungkin lebih cepat lebih baik, itulah menurut semuanya.
''Nak, kamu yang sabar ya, maafin mama, dan maafin Alan juga.'' ucap Bu Yanti mulai meneteskan air mata.
Dinda yang makin bingung hanya bisa berharap jawaban dari mertuanya.
''Sebenarnya ada apa, ma? kenapa mama malah nangis?'' tanya Dinda penasaran, sedangkan yang lain pun hanya bisa bungkam.
''Tapi kamu harus janji kalau kamu akan baik baik saja setelah mendengar apa kata mama.'' ucap Bu Yanti lagi.
Dinda mengangguk.
''Anak kamu meninggal,'' ucap Bu Yanti sembari menunduk.
Jelas tak percaya, itulah Dinda saat ini, wanita itu terus menggeleng dan menyeka air mata yang sudah membasahi pipinya.
''Nggak mungkin, mama pasti bohong kan? aku nggak apa apa kalau nggak bisa ketemu dia, tapi mama jangan bilang begitu." menggoyang goyangkan lengan Bu Yanti.
Melihat adiknya histeris, Faisal langsung saja mendekat, takut Dinda kenapa napa.
"Dinda, kamu tenanglah, Tante Yanti nggak bohong, anak kamu memang sudah meninggal karena kelainan jantung." jelas Faisal.
Seketika itu mata Dinda mulai terasa gelap dan tak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.
Dindaa.....teriak Alan sembari berlari menangkap tubuh Dinda yang hampir saja terjatuh.
__ADS_1