Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Pulang kampung


__ADS_3

''Kak bangun!" suara samar samar itu menembus gendang telinga Alan, entah kenapa pria itu tidur begitu nyenyak, bahkan bagaikan orang yang tak bernyawa, itu terbukti beberapa kali Dinda memanggilnya masih saja bergeming.


Namun kali ini Dinda terpaksa lebih keras karena Ibu dan bapaknya sudah mau pamit pulang, dan menyuruhnya untuk memanggil Alan.


Enghhh... lenguhan Alan sembari menggeliat, Alan membuka matanya dengan perlahan dan menatap langit langit, ternyata rumah mamanya.


Pria itu menoleh ke arah Dinda yang mematung di samping ranjangnya sembari menyambutnya dengan senyuman.


"Kenapa?" tanya Alan, dengan suara seraknya dan sedikit mengingat tadi malam kalau Ia sudah memindahkan Dinda ke sampingnya, namun tidak bagi Dinda yang terus menutupi dan pura pura tidak tau.


"Bapak dan Ibu mau pulang, mereka ingin pamit sama kamu," jelasnya.


"Baiklah, tunggu, aku ke kamar mandi dulu, Alan langsung berlari menuju kamar mandi setelah mengumpulkan semua jiwa raganya, tak butuh waktu lama Alan kembali dan memakai bajunya, sedangkan Dinda menunggunya sembari bermain laptop yang di pinjam dari abangnya.


Alan menatap wajah Dinda dari pantulan cermin, ingat lagi kejadian beberapa bulan yang lalu saat Ia membanting laptop milik istri keduanya itu.


"Sudah selesai?" menghampiri Dinda yang malah senyum senyum dan memainkan jarinya.


"Iya, bentar kak, nanggung." entah apa yang di ketik Dinda malah tertawa geli dan akhirnya menutupnya, tak mau kalau Alan kelamaan nunggunya.


"Milik siapa?" tanya Alan datar karena Alan Atau kalau Dinda tak lagi membeli laptop setelah miliknya rusak.


"Milik abang, aku pinjam tadi." jawabnya, seperti semalam keluar kamar pun keduanya bergandengan dengan mesra.


Perbedaan tentang sifat istrinya kini mulai di rasa Alan, jika Syntia selalu saja mengganti barangnya yang sudah bosan, meskipun baru, Dinda masih saja suka memakai barang yang sederhana seperti ponselnya yang menurutnya sudah waktunya ganti.


Setelah mengembalikan laptop milik abangnya Dinda ikut membaur bersama yang lain di ruang keluarga.


Waktu berputar begitu cepat, baru saja bertemu kemarin, kini mereka harus berpisah, sangat menyayangkan namun itulah kehidupan yang pastinya ada pertemuan ada perpisahan.


''Dinda, Bu Tatik meringsuk mendekati putra putrinya.


''Maaf Ibu dan bapak harus pulang, jika kamu kangen ingatlah kalau Ibu selalu ada disampingmu, jangan lupa kewajiban kamu, Ibu dan bapak akan kesini lagi nanti saat acara tujuh bulanan kamu.''


Dinda hanya bisa mengangguk. bagaimana tidak, Ia selalu teringat ibunya di saat senang maupun susah, bahkan kasih sayang dari semua orang itu tak ada yang mengalahkan cinta sang Ibu, yang sudah melahirkannya.


''Faisal, kata Bu Yanti kamu sudah melamar pacar kamu? kapan di resmikan, dan ajak ke rumah, kalau memang kamu serius cepat beri tau kami.'' titahnya karena Bu Tatik tak mau kalau Faisal hanya main main dengan wanita.


Faisal pun sama seperti Dinda hanya mengangguk, kakak beradik itu memang tak banyak kata jika di depan Ibu dan bapaknya, dan mereka selalu patuh dengan apa yang di katakan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Namun kali ini Ia menatap layar ponselnya, sepertinya menanti sesuatu.


Baru juga hening sejenak, menunggu pak Sujad, pintu terbuka, wanita cantik dengan senyuman manis itu mendekat.


''Ibu, bapak,'' menyapa dengan ramah, wanita yang pernah di kenalkan kepada Bu Tatik itu berlutut di depannya.


''Kamu,_ tak melanjutkan ucapannya, Bu Tatik menatap Faisal yang menunduk.


''Aku calon istri mas Faisal, Bu, Amel yang waktu itu datang ke pernikahan Dinda,'' memperkenalkan diri di depan Ibu dan bapaknya.


''O.... Pak Yanto hanya ber O ria.


''Iya, ibu ingat, kok kamu tau kalau Ibu disini, Faisal yang bilang?'' celetuknya.


Amel mengangguk masih menggenggam tangan Bu Tatik.


''Ibu sudah mau pulang?'' tanya Amel sepertinya raut wajahnya penuh dengan penyesalan karena tak bisa menemui calon mertuanya lebih awal.


''Iya, Maaf ya Ibu nggak bisa mampir ke rumah kamu, kapan kapan, ucapan Bu Tatik membuat Amel sedikit kecewa padahal gadis itu berharap kalau calon mertuanya itu singgah meskipun sebentar.


Semua kini mengantar Bu Tatik dan Pak Yanto yang sudah di depan rumah Bu Yanti, semua melambaikan tangannya, tak terkecuali.


Sekarang ibu pulang sendiri, tapi suatu saat aku akan ikut Ibu ke kampung dan kita akan berkumpul kembali.


Setelah keluarganya pulang kampung, Faisal pun kembali melakukan aktivitasnya sehari hari sedangkan Dinda pun ikut Alan pulang.


Meskipun sudah berpisah wajah sang Ibu masih saja terngiang ngiang di otaknya seolah wanita paruh baya itu ikut mengintil di belakangnya itulah yang di rasakan Dinda saat ini.


Sandiwara usai kini keduanya kembali membisu, bahkan sepanjang perjalanan pun Dinda tak mengeluarkan sepatah kata pun, begitu juga dengan Alan yang fokus dengan setirnya.


Setibanya, Dinda langsung saja masuk ke dalam rumah, sedangkan Alan malah menuju garasi ternyata mobil Syntia tak ada.


Pasti dia pergi lagi, batin Alan menilik jam yang melingkar di tangannya.


Karena penasaran Alan langsung mengeluarkan ponselnya, menghubungi wanita yang saat ini di carinya.


Tersambung, namun tak di angkat dan itu sampai beberapa kali membuat Alan jengkel dan lebih memilih untuk masuk.


''Bi, panggilnya sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


''Iya Den, Jawab Bi Romlah menghampiri Alan yang kini duduk di sofa.


''Syntia kemana? tanya Alan.


''Semalam nggak pulang den, Bibi kira juga nginep di rumah nyonya.


Alan mengernyit, ''Nggak pulang?'' seakan tak percaya dengan ucapan Bi Romlah.


Ke mana dia, apa dia tidur di rumah Bibi nya tapi kenapa tidak memberi tau aku.


Sama seperti Alan, Syntia pun bingung dan mengacak rambutnya, dengan kilat Syntia menyibak selimut yang semalam menghangatkan tubuhnya.


''Kamu kenapa, santai saja,'' ucap Rey yang dari tadi sudah rapi dan siap untuk keluar.


''Kamu itu gimana sih, kenapa nggak bangunin aku?'' mode marah. ''Kalau mas Alan curiga gimana?'' masih tak terima dengan sikap Rey yang membiarkannya terlelap.


Syntia merapikan penampilannya setelah dari kamar mandi dan meraih tasnya.


''Aku mau pulang,'' ujarnya menatap punggung Rey yang kini malah bercermin.


''Rey, kamu dengar nggak sih?'' teriaknya lagi.


''Dengar,'' pria itu begitu cuek.


Baru juga membuka pintu, ponsel yang dari tadi nggak di angkat, kini kembali berdering, nama Alan di sana, terpaksa Syntia menempelkan benda pipih itu di telinganya.


''Halo mas, sapa Syntia mengawali pembicaraan.


''Kamu di mana?'' tanya Alan dengan nada datar,


Syntia menutup pintu kamar Rey supaya bisa leluasa bicara sama Alan.


''Maaf mas, tadi malam aku tidur di rumah bibi, ini aku baru aku pulang,'' cetusnya.


''Lain kali bilang dulu, biar aku nggak bingung nyari.''


Ucapan Alan terakhir membuat Syntia merasa lega, sepertinya Alan nggak curiga dengan alasan yang di buatnya.


''Sekarang kamu memang Syntia, tapi kesabaranku ada batasnya, dan aku akan bilang sama Alan sendiri jika kamu masih menggantung hubungan kita. Rey.

__ADS_1


__ADS_2