Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Hampir terwujud


__ADS_3

Suasana pagi yang begitu indah, kicauan burung yang merdu menghiasi telinga Dinda dan Alan yang saat ini duduk di gazebo tengah tengah taman yang luas nan hijau. Udara pagi yang menyeruak bersamaan dengan semerbaknya wangi bunga itu membuat Dinda lebih tenang. Tetesan embun masih sangat terasa, dres yang berlengan pendek itu membuat Dinda sesekali mengelus tangannya yang terasa dingin. Seketika Alan melepas jasnya dan memakaikannya di tubuh Dinda, tak ada percakapan, Alan membiarkan Dinda menikamti suasana yang cukup damai itu, Sedangkan Alan masih sibuk dengan ponsel di tangannya.


Dinda melirik ke arah Alan yang ada di sampingnya tersebut, ada tatapan aneh kali ini, banyak tanda tanya dalam hati Dinda dengan perhatian Dokter Tono yang menurutnya sangat berlebihan.


''Dok.'' panggil Dinda menatap ke depan di mana ada seseorang yang sedang duduk di kursi roda, sedangkan di sampingnya ada seorang laki laki yang memarahi wanita yang dari tadi mendorong tubuh tua itu dengan susah payah.


Alan menoleh dan memasukkan ponselnya ke saku celana.


''Kamu butuh sesuatu?'' tanya Alan masih dengan suara khas dokter Tono.


Dinda menggeleng, namun Jarinya menunjuk pria yang sedang memarahi seorang wanita tadi.


Alan yang ikut menyaksikan menutup mata Dinda dengan telapak tangannya.


"Kita pindah yuk!" berusaha mengalihkan pandangan Dinda yang mungkin akan mengingatkan kembali kejadian waktu lalu.


Wanita itu menggeleng pelan lalu menunduk. "Bukankah seorang wanita di ciptakan itu untuk di sayangi. Tapi kenapa aku merasa se sakit ini, pernikahanku seakan membawa petaka dalam hidupku." Alan diam dan meresapi setiap inci kata yang keluar dari mulut Dinda.


Dinda yang tak kuasa untuk mengungkapkan isi hatinya itu menangis sesenggukan, begitu juga dengan Alan yang menjadi pendengar setia, karena apa yang di ucapkan Dinda adalah apa yang dulu pernah ia lakukan.


Alan meraih kepala Dinda dan menyandarkan di pundaknya.


"Lupakan semuanya supaya kamu lega!" titah Alan.


"Bahkan dia tak pernah menghargaiku sama sekali, dia lebih memilih istri pertamanya yang jelas jelas selingkuh di belakangnya dari pada aku yang setia mengabdi padanya." tanpa sadar Dinda meloloskan rahasia yang di pendamnya selama ini.


Alan terbelalak, tak menyangka kalau Dinda, yang statusnya istri kedua itu tau kelakuan Syntia di belakangnya.


"Maksud kamu?" sontak pertanyaan itu terlontar dengan keras.


Dinda menyeka air matanya dan menggeleng.


"Maaf Dok, Kalau aku lancang membuka aib orang lain." ucap Dinda dengan raut wajah ketakutan.


Alan tau saat Ini Dinda kembali tertekan dengan suara lantangya.


"Nggak..nggak...." kembali pelan dan menarik tubuh Dinda dan memeluknya, takut kalau wanita itu kembali histeris.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku cuma kaget saja saat kamu bilang gitu." imbuh Alan.


Jadi Dinda juga sudah tau kalau Syntia selingkuh di belakang aku, tapi kenapa dia nggak bilang padaku, apa bang Faisal dan Daka juga sudah tau tentang ini, tapi kenapa mereka juga diam, apa mereka ingin mempermainkan kebodohanku selama ini.


"Dokter marah sama aku?" tanya Dinda melepaskan pelukannya.


Alan menggeleng meskipun otaknya masih traveling memikirkan apa saja yang tidak ia ketahui selain kebusukan Syntia.


"Pagi..." suara itu membuyarkan lamunan Alan. Ternyata Faisal membawa sarapan untuk sang adik.


"Abang." seru Dinda sedikit menggeser duduknya memberi ruang untuk Faisal duduk.


"Adik abang sudah cantik nih, baju dari mana?'' basa basi, padahal ia sudah tau pasti Ceo berwajah pemulung yang membawakannya.


Dinda menyungutkan kepalanya ke arah Alan yang kini memandang jauh ke depan pura pura cuwek dengan Faisal.


"Sekarang Dinda sarapan ya!" Faisal menyiapkan se porsi nasi serta lauk.


Tak mau di suapi, wanita itu meraih piring dari tangan Faisal.


Faisal mengangguk, karena sebelum mencari Dinda ia sudah menemani bapak dan Ibunya serta Salma untuk sarapan pagi.


"Pasti Dokter Tono belum makan?" cetusnya.


Dinda langsung menyendok nasi dan menyodorkannya di depan Alan.


A.... buka maskernya!" ucap Dinda manja.


Alan menggaruk alisnya yang tidak gatal, meskipun sudah memakai kumis dan jenggot palsu, namun selama pertemuannya dengan Dinda, laki laki itu belum pernah sekali pun membuka masker yang di pakainya, masih takut kalau Dinda akan mengetahuinya.


Akhirnya Alan menggeleng dan melambaikan tangannya.


"Tadi sebelum aku ke kamar kamu, aku sudah sarapan kok." Alan berkilah, tak membuat Dinda tersenyum malah wanita itu cemberut dan meletakkan piringnya di nampan.


"Kalau gitu aku juga nggak mau makan." ucapnya.


Seketika Faisal menatap Alan dengan tatapan tajam menekankan untuk mengikuti apa yang di minta Dinda.

__ADS_1


Tapi bagaimana kalau Dinda tau, aku belum siap untuk pergi darinya.


Namun tatapan tajam itu seakan menusuk jantungnya dan memintanya untuk cepat menyetujui permintaan istrinya.


"Baiklah, aku mau." melepas masker dari mulutnya, sedangkan Dinda yang merasa senang langsung menyambar nasinya kembali.


Tak menunggu apa apa lagi wanita itu langsung menyuapi Alan yang berwajah Dokter Tono, yang menurut sahabat dan abang iparnya persis pemungut barang rongsok.


Setelah mendaratkan satu sendok, Dinda menurunkan piringnya dan menatap lekat wajah yang menurutnya sangat familiar itu.


"Kok kayaknya aku pernah lihat Dokter, apa kita pernah bertemu sebelumnya?'' ucap Dinda menyelidik.


Alan terbelalak, otaknya berkelana mencari cara untuk bisa mengelabuhi Dinda.


"Emmm.....mungkin saja yang kamu lihat itu mirip denganku, tapi bukan aku." jawab Alan melirik ke arah Faisal yang terlihat begitu tenang, padahal kegugupannya sudah berada di ubun ubun.


Dinda hanya manggut manggut mengerti dan melanjutkan makannya.


Syukurlah Dinda percaya dengan ucapanku, itu artinya sekarang aku aman meskipun buka masker.


"Oh... iya, besok kita jadi kan ke Paris?" tanya Dinda, malah mengingat tentang ucapan Dokter Tono kemarin.


Alan mengangguk, "Jadi dong, kita akan berlibur di sana selama seminggu, bersama yang lain juga lo." Menunjukkan gambar beberapa paspor dan tiket dari ponselnya.


"Ini benaran untuk aku?" memastikan kalau kali ini ia akan benar benar menggapai impiannya yang sudah lama.


Alan mengangguk. "Kamu akan berlibur dengan bapak dan Ibu serta Salma dan bang Faisal, jelasnya lagi, dan lagi lagi Dinda melingkarkan tangannya di tubuh Alan.


"Bersama istri dokter juga?" tanya Dinda lagi, yang masih memeluk Alan.


Iya, karena istriku adalah alasan aku kesana.


"Tidak, dia nggak bisa ikut, jadi aku dan Dokter Daka yang akan menemani kamu."


Dinda menangis bahagia, akhirnya apa yang di inginkan akan terkabul juga, padahal Dinda sempat pasrah kalau memang ia tidak akan bisa meginjakkan kakinya disana, namun kedatangan dokter Tono tak hanya membuat suasana hatinya lebih haik, namun juga mengisi ruang hatinya yang sempat kosong.


Dinda terlihat bahagia saat Alan menjadi Dokter Tono, tapi bagaimana jika sampai dia tau sandiwara ini, apa dia akan kembali seperti dulu, dan bagaimana dengan Alan, apakah dia akan rela selamanya menjadi dokter Tono jika menemui Dinda.

__ADS_1


__ADS_2