Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Melanjutkan yang belum terlaksana


__ADS_3

Seperti tak bertepi, itulah rasa cinta Alan untuk istrinya, rayuan demi rayuan yang Alan luncurkan terus saja membuat Dinda risih, apa lagi saat mereka di kamar, pasti Alan tak akan membiarkan Dinda bebas, entah, kenapa setengah hari di rumah bersama sang istri membuatnya tak bisa diam dan terus saja gesrek ingin di dekat Dinda, tak ubahnya saat ini, bahkan kini giliran ia menitipkan si kembar pada Amel, kakak iparnya.


''Nanti kalau mereka nangis gimana?'' Alasan Dinda untuk bisa lepas dari dekapan suaminya.


''Nggak mungkin, kamu meragukan Mbak Amel?'' bukan Alan jika tak bisa membuat alasan yang tepat.


Dinda menghela nafas panjang mungkin pasrah adalah jalan satu satunya untuk melewati hari pertamanya menjadi seorang istri seutuhnya.


Akhirnya diam adalah jalan satu satunya bagi Dinda menerima perlakuan lembut Alan.


Baru saja Alan mendekatkan wajahnya di telinga Dinda, pintu diketuk dari luar, dan lagi lagi Alan hanya bisa memukul bantal.


Siapa sih, nggak tau apa lagi enak enaknya, pakai ganggu segala.


Terpaksa Dinda harus turun dari ranjangnya untuk membuka pintu kamarnya. ''Bibi.'' seru Dinda, ternyata Bi Romlah yang datang.


''Ada Den Daka dan Non Salma di bawah, Non.'' ucap Bi Romlah ke inti.


Tu kan, baru saja ingin seneng seneng, lemut sudah tiba saja gangguin.


Dinda tersenyum, ''Iya, nanti aku sama kak Alan turun.''


Setelah Bi Romlah pergi, Dinda kembali menghampiri Alan yang menutup wajahnya dengan bantal.


Ia harus menanggung kegagalan, di sengaja atau tidak, itu seperti sebuah rencana untuk mengganggunya.


''Kak, nggak baik kalau kita mengabaikan tamu.'' Menarik tangan kekar Alan.


Meskipun malas, Alan tetap beranjak untuk menemui sepupu iparnya.


''Kamu sengaja ke sini mau gangguin liburan aku,'' celetuk Alan saat tiba di sudut tangga paling bawah, pria itu terlihat begitu malas kedatangan sahabatnya.


''Ckckck..... biasa aja kali, apa nggak ada waktu malam, pagi pagi produksi,'' ceplosnya, karena Daka sudah tau dengan watak mesum Alan akhir akhir ini yang mengalahkan dirinya.


''Saka.....'' seru Dinda menyelak Alan yang hampir saja membuka mulut.


Mulut embernya pasti mulai jika sudah kumpul.


''Tadi malam, Elfas itu nginep di sini, Fana kesempitan pindah ke kamarku, setelah beberapa menit ketiganya ikut tidur di kamar, katanya Acnya nggak dingin.'' Alan tak mau kalah, saking kesalnya karena banyak parasit di rumahnya.

__ADS_1


''Dan sekarang kamu sama Salma.'' lanjutnya lagi lalu tertawa keras, ''Bercanda.'' imbuhnya.


Tanpa memberi aba aba Dinda langsung saja mencubit perut sispeknya hingga membuat sang empu meringis kesakitan.


''Nggak lucu.''


Alan menoleh menatap istrinya yang bersemu karena malu dengan ucapan absurdnya.


Sedangkan Daka dan Salma hanya bisa menahan tawa melihat Alan yang langsung menciut saat mendapat tatapan tajam dari Dinda.


Maaf, mungkin itulah yang ingin di ucapkan, namun itu di urungkan, demi menjaga nama baik yang tak boleh takut istri.


''Kamu kesini mau apa?'' tanya Alan dengan nada sinis.


''Saka pingin ketemu abang Tama,'' jawab Daka, karena itu kenyataannya, bahkan putra yang berumur dua tahun itu tak mau di tinggalkan ke rumah sakit sebelum di antar menemui Tama.


O.... Alan hanya manggut manggut, tak mau membuat Dinda marah karena sikapnya. Dan tak menyangka kalau putra putrinya sudah menjadi idola cilik yang banyak penggemar.


Dinda segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Amel yang ada dirumah Bu Yanti bersama anak anak.


Ini kapan ada waktu buat bikin adiknya si kembar, kayaknya rumah ini mulai nggak aman, apa aku harus pasang spanduk di larang bertamu.


Sepuluh menit, bocah yang ditunggu itu datang bersama dengan Amel dan Bu Yanti, kini Saka pun langsung lepas dari gendongan Daka berlari menghampiri yang lain, di saat yang lain merasa senang, Alan malah merasa sebel, bagaimana tidak, semenjak anak anaknya tumbuh besar rumah selalu ramai di kunjungi saudaranya, bagaikan pasar tradisional saja.


''Kamu nggak kerja, Al?'' Tanya Mama Yanti saat mendekati ruang keluarga.


''Nggak,'' jawabnya, semua mata kini tertuju pada pria yang mendongak ke atas dengan mata terpejam tersebut.


Kasihan juga kak Alan, sudah berapa kali gagal ingin itu gara gara anak anak.


Meskipun Dinda cekikikan dalam hati, namun ia tak bisa berbuat apa apa selain diam dan ikut merasakan penderitaan suaminya.


''Kesel dia tante,'' Daka mendekati Alan dan menepuk pahanya dengan keras.


''Ini paha, bukan meja, tu meja, sepuasnya kalau mukul, sampai tanganmu berdarah juga nggak apa apa.'' menunjuk ke arah meja kaca di depannya, saking jengkelnya Alan benar benar menyembunyikan senyumnya yang hanya di ukir bersama sang istri.


''Sadis banget sih,'' melihat kemarahan Alan yang tak bisa di bendung benar benar membuat Daka heran, kayak cewek lagi PMS saja.


''Kamu kenapa sih, Al, sakit?'' kini giliran mama Yanti yang mendekati Alan dan menempelkan punggung tangan di jidat putranya.

__ADS_1


Aku sakit hati ma, gara gara gagal terus dan udah nggak nahan nih burung beo nya sudah mau lepas.


Nyatanya Alan hanya bisa menggerutu dalam hati seraya melirik semua yang ada di sana bergantian.


''Nggak panas.''


''Aku nggak kenapa napa, ma,'' jawabnya mencoba sabar bertahan siang ini. Bu Yanti hanya mengangguk, meskipun tak mengerti dengan kegusaran Alan, karena di antara semua hanya Dinda yang paling tau akan sikap suaminya.


''Opa....datang,'' suara pak Heru yang baru saja membuka pintu depan.


Semua anak anak berhamburan memeluk pria tua itu, kedatangannya yang jarang sekali memang sangat di tunggu Tama dan Fana untuk melepas rindu.


''Kok Opa lama nggak ke sini, tadi juga nggak ada di rumah.'' rengek si cewek cantik itu mengadu.


Pak Heru tersenyum seraya mengangkat sekantong kresek mainan.


''Kan Opa beli ini, sekarang Opa juga mau ajak kalian jalan jalan lo, mau nggak?'' kata Pak Heru menerbitkan senyum di bibir keempat cucunya, meskipun Saka belum paham benar karena umurnya baru dua tahun, yang penting ia ikut tertawa saat yang lain tertawa. menggemaskan.


''Mau dong,'' jawabnya serempak lalu berebut memeluk tubuh kekar pak Heru.


''Let's go....''


Tanpa menunggu waktu lagi, pak Heru langsung membawa keempat bocah itu keluar di ikuti Amel dan Bu Yanti dari belakang.


Papa memang benar benar bawa hoki, akhirnya aku bisa olahraga siang juga.


Alan melirik ke arah Salma yang menjawil lengan Daka.


''Mas, aku juga ingin ikut anak anak.'' ucapnya pelan, namun masih bisa di dengar Alan dan Dinda.


''Tapi kan,_ ucapan Daka menggantung saat Alan berdecak menatapnya.


''Ngidam itu, masa iya permintaan sederhana gitu aja nggak di turuti.'' cecarnya.


Terpaksa Daka harus menuruti istri tercintanya untuk jalan jalan.


Setelah semua hengkang, Alan mencubit kecil pinggang Dinda.


''Apa?'' Tanya Dinda saat Alan menaikkan kedua alisnya dengan cepat.

__ADS_1


''Masa iya lupa, yang tadi belum terlaksana. Mumpung sepi,'' tanpa meminta Izin Alan mengangkat tubuh Dinda dan membawanya ke kamar, tak peduli dengan asisten rumah tangganya yang hanya bisa gigit jari saat menatap Alan sempoyongan menuju kamarnya.


__ADS_2