Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Menjenguk


__ADS_3

Tiga jam di dalam mobil, faktanya tak cukup puas bagi Dinda untuk menumpahkan air matanya, padahal baju Alan sudah basah, tisu sekotak sudah habis, namun Dinda masih melanjutkan tangisnya saat turun dari mobil.


Sesampainya di rumah sakit umum daerahnya, pun kini Dinda masih terisak saat memasuki ruang rawat pak Yanto, dengan jalan tertatih tatih Dinda mendekati tubuh ringkih bapaknya.


''Bapak....'' panggilnya di sela sela tangis, Dinda berhamburan memeluk pak Yanto yang terlihat kurus.


''Bapak sakit apa, Bu?'' tanya Dinda mengelus tangan yang di pasang infus tersebut.


''Bapak cuma kecapekan saja, mungkin dia memendam rindu sama kamu dan abang, dari semalam hanya nama kalian yang di sebut.'' jelasnya.


''Pak, aku sudah datang, bapak cepat sembuh ya!" ucap Dinda merangkum wajah sang bapak.


Mata yang menyipit itu mengangguk tanpa suara.


"A... bang mana?" tanya nya lemah.


"Faisal di sini pak." sapa suara berat yang baru saja datang bersama istri dan anaknya.


Sama seperti Dinda, Faisal berlari kecil untuk memberi semangat pada pak Yanto untuk cepat pulih.


Elfas ikut merangkul kakeknya. "Kakek cepat sembuh ya."


Pak Yanto tersenyum, "Iya, nanti Elfas mau kan nginep di rumah kakek?"


Elfas menatap Papanya yang mengangguk kecil.


"Iya, tapi kakek janji harus sembuh dulu."


Akhirnya pak Yanto bisa mengulas senyum setelah berhari hari merasakan gundah.


"Cucu kembar bapak mana?"


Seperti sebuah kebetulan, dua bocah cilik itu membuka pintu yang baru saja di tutup oleh Amel.


"Kakek....." teriaknya, tak seperti Elfas yang sedikit anteng, bocah dua itu langsung naik ke atas brankar dan ikut berbaring di samping kiri dan kanan pak Yanto.


Tak ada yang bisa melarang ataupun mencegah dengan aksi keduanya. Seakan semua yang ada di ruangan terhipnotis dengan tingkah lucu mereka.


"Nak, kakek sakit," Alan mencoba mengambil Tama yang sudah posisi enak.


Pak Yanto menggeleng menegaskan untuk membiarkan cucunya bersamanya.


"Itulah tingkah mereka pak." cecar Bu Yanti.

__ADS_1


Semua hanya bisa tertawa di tengah tengah kesedihan yang melanda.


"Saka nggak ikut ke sini?"


"Ikut pak, tadi jemput Bu Entin, mungkin bentar lagi sampai. Om Samuel juga ikut kok."


Mendengar penuturan Dinda pak Yanto makin nggak enak hati, sebenarnya ia hanya ingin melihat cucu cucu dan anaknya, kenapa semua besannya malah ikut. merepotkan.


"Bapak jaga kesehatan, jangan terlalu di berat beratin, sekarang kedua anak bapak sudah berkecukupan dan bahagia, kalau bapak butuh apa apa bilang sama Alan, happy saja.'' Giliran pak Heru yang bicara.


"Maklum pak, sudah tua, di kuat kuatin kayak apa ya nggak bisa, umurnya nggak bisa bohong."


Semua tertawa termasuk si kecil saat mendengar ucapan pak Yanto.


"Iya, pak, anaknya saja sudah tua, apa lagi bapaknya." timpal Alan dari samping.


Dinda menoleh ke belakang, "Anaknya yang mana?" tanya Dinda penasaran.


"Ya, anaknya kan kamu sama bang Faisal." jawab Alan.


Dinda berdecak. "Maksud aku yang kakak maksud tua itu siapa?"


"Kamu, kan anak kita sudah tiga, sedangkan bang Faisal baru satu, itu artinya kamu yang tua." cetusnya lagi menggoda, ingin Dinda melupakan kesedihannya.


Yang lain hanya bisa menjadi penonton perdebatan kecil antara suami istri yang kini di rundung kebahagiaan itu.


"Pak, anak bapak nggak mau dibilang tua." mengadu.


Seketika Fana menepis tangan Alan yang ada di sampingnya.


"Papa jangan bikin mama nangis, aku nggak mau mama sedih kayak tadi," kata Fana, masih teringat jelas bagaimana cengengnya Dinda saat mendapat kabar pak Yanto sakit.


"Nggak deh, papa minta maaf, mama kalian itu masih sangat muda, masih perawan." menarik pinggang ramping hingga jatuh ke dalam pelukannya.


Lagi lagi Dinda hanya bisa menahan malu di depan mertua dan orang tuanya serta abangnya.


Ciihhh.... perawan, anak sudah tiga juga, perawan dari mana.


Daka yang baru saja membuka pintu sudah berdecih dalam hati.


"Paman," seru Salma mendekati brankar.


Bu Entin dan Daka yang mnggendong Saka mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Salma, ngapain kamu ke sini, paman tidak apa apa, kasihan bayi kamu.'' Meskipun juga mengharapkan kedatangan keponakannya, Pak Yanto sedikit menahan karena Salma yang sedang hamil besar.


"Paman nggak mau aku datang?"


Pak Yanto tersenyum. "Bukan begitu, paman hanya tidak mau merepotkan kamu dan Daka, lagi pula, sekarang paman sudah sembuh kok."


Pak Yanto mencoba untuk bangun dengan bantuan Faisal dan Alan.


Ruangan yang tadinya sepi itu kini bak mall, semua besan datang termasuk pak Samuel dan sang istri, semua memberi semangat dan doa untuk pak Yanto supaya cepat sembuh.


Selang beberapa jam berlalu, pak Yanto terlihat lebih bugar setelah berbincang dengan seluruh keluarga besarnya, ternyata obat yang paling manjur adalah pertemuan yang memang di inginkan beberapa hari yang lalu.


"Pak, maaf kami harus pulang, tidak bisa menginap," ucap Bu Yanti, merasa nggak enak, tapi memang itu kenyataannya.


"Tidak apa apa, Bu, terima kasih karena sudah menjenguk bapak," jawab Bu Tatik memeluk Bu Yanti dan yang lain tanda pamit. Begitu juga dengan Bu Yola, Bu Entin serta Daka dan Salma, mereka juga ikut pulang karena Saka yang rewel dari tadi, kini tinggal Faisal dan Amel, Dinda dan Alan yang masih di sana untuk beberapa hari.


Karena tak memungkinkan anak anak tidur di rumah sakit, Amel dan Faisal serta Bu Tatik pulang ke rumah bersama ketiga bocah yang sudah terlelap masing masing, mungkin karena capek perjalanan. Dan hanya tinggal Alan dan Dinda yang masih menunggu pak Yanto


Hari sudah mulai sore, dari jendela rumah sakit lantai dua, senja itu nampak sangat indah. Dinda hanya bisa menatap tanpa bisa menggapai. Baginya langit yang berwarna jingga itu kini menggambarkan hatinya yang sangat cerah, Alan memberinya begitu banyak kebahagiaan yang tak bisa di ukur dengan apapun.


"Lihat apa?" Alan merengkuh tubuhnya dari belakang.


Dinda terkejut lalu menoleh, ternyata Pak Yanto sedang tertidur.


"Langit," jawabnya singkat


Alan ikut mengarahkan penglihatannya ke atas seperti Dinda.


"Ada apa di sana?" Alan mulai membual, hari harinya tak akan menjadi indah jika tak menggoda istrinya.


"Ada emas, uang, Black card, mobil lamborghini, dan masih banyak lagi." Jelasnya, kini Dinda ikut berpartisipasi dengan tingkah absurd suaminya.


Namun Alan merasa kalau itu sebuah sindiran, meskipun kaya di penuhi banyak harta, Alan belum pernah sekalipun memberikan itu semua untuk Dinda. Bukan pelit, karena memang Dinda tak mau menerima apapun pemberian Alan kecuali sebuah rumah konveksi.


''Kamu menyindirku?''


Dinda membulatkan matanya lalu pelan pelan memutar tubuhnya dan menatap wajah Alan.


Wanita itu hanya bisa tersenyum kecut, ''Aku cuma bercanda.''


''Tapi nggak lucu,'' jawab Alan melepaskan pelukannya lalu keluar.


Apa kak Alan marah padaku, apa dia tersinggung dengan ucapanku tadi, aku kan sudah bilang kalau aku bercanda.

__ADS_1


__ADS_2