Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Tak mau gagal lagi


__ADS_3

Wajah yang berjenggot dan berkumis itu kini kembali tampan dan mempesona. Tak banyak tanya munculnya Alan dari balik kamar Dinda, karena pak Yanto dan Bu Tatik sudah mendengar cerita tentang jati dirinya saat menyamar dari Faisal. Dan itu hanya membuat Pak Yanto geleng geleng, ternyata di balik sifat dingin menantunya tersimpan sejuta kasih sayang yang di persembahkan untuk putrinya.


Tak seperti hari kemarin, hari ini Alan mencoba untuk menampilkan wajah yang biasa saja saat Dinda melayani pelanggan, bahkan Alan terkesan cuwek dan fokus membantu ibu mertuanya, tak mau membuat Dinda kesal dan marah yang ujung ujungnya akan menjadi debat kecil, namun masih tak bisa di pungkiri, rasa cemburu itu tetap ada saat Dinda terlihat sangat ramah di depan laki laki lain, apa lagi mereka yang masih muda, meskipun penampilannya jauh beda dengannya, tak menyangkal kalau keramahan dan kecantikan Dinda akan membuat siapapun pasti jatuh cinta.


"Jangan cemburu!" bisik Faisal saat Alan terlihat sesekali melirik ke arah Dinda yang ada di ruang tamu.


"Dari pada lihatin Dinda terus, mendingan kamu lanjutkan kerjaanku," menyodorkan setrikaan ke arah Alan.


"Aku nggak bisa, bang," keluh Alan seraya memegang alat pelicin yang sudah menyala.


Faisal berdecak saat mengambil baju yang juga siap untuk di antar ke rumah tuannya.


"Apapun pekerjaan yang masih nampak oleh mata, kita harus bisa, dan ingat, ini rumah mertua kamu, bukan rumah kamu, jadi kamu nggak boleh seenak jidatnya disini," ucap Faisal menegaskan.


Alan mendengus, seumur hidupnya ini pertama kalinya ia harus menurut sama orang, dan ini pertama kalinya ia harus mengerjakan sesuatu yang setiap hari di lakukan oleh pembantunya.


Emang enak di kerjain.


''Nggak usah nak Alan, nanti biar Ibu saja yang nyetrika, mendingan kamu istirahat saja.'' Sahut sang Ibu yang juga masih sibuk di depan mesin jahit.


''Nggak apa apa, Bu, Akan aku coba,'' memulai menata baju yang siap untuk di gosoknya.


Sedikit demi sedikit Alan mengerjakannya, dan untung saja tadi ia sudah melihat Faisal, jadi tak terlalu susah, meskipun masih tak semahir Faisal setidaknya ia bisa membantu keluarga istrinya. Dan pekerjaan Alan itu makin ringan saat sang istri yang ada di ruang tamu mengangkat kedua jempol ke arahnya memberi isyarat untuk tetap semangat.


Tamu terakhir telah pergi, dengan cepat Dinda membawa buku ke arah ibunya lalu menghampiri suaminya.


''Biar aku saja,'' ucapnya saat duduk di samping Alan.

__ADS_1


''Biar aku saja, tapi kasih tip dong.'' ucapnya pelan bahkan seperti berbisik takut yang lain dengar.


Dinda menoleh ke kanan dan kiri, setelah semua terlihat fokus dengan pekerjaan masing masing, wanita itu mencium pipi Alan dengan lembut.


''Kak,'' panggil Dinda menopangkan kepalanya di pundak Alan.


''Kenapa lagi, teruskan yang tadi malam?'' godanya.


Dinda menggeleng.


''Aku kangen mama,'' ucap Dinda, karena itu yang ia pikirkan semalam, keadaan Bu Yanti saat ini yang juga merindukannya.


Alan tersenyum renyah, ''Nanti kalau kita sudah balik, kita akan ke rumah mama sebelum kita menempati rumah baru kita,'' merangkul pundak Dinda setelah mematikan setrikaannya.


''Tapi aku pinginnya rumah baru kita dekat rumah mama,'' ucap lagi Dinda.


''Kakak yakin?'' memastikan kalau Alan tak membohonginya.


Pria itu mengangguk lalu memeluk Dinda.


''Kak, gimana dengan mbak Syntia?'' tanya Dinda, selain kepikiran sang mama, Dinda juga memikirkan nasib Syntia, wanita yang di cintai Alan.


''Aku akan menceraikannya,'' ucap Alan, jika di katakan masih berat, iya, karena Syntia adalah cinta pertamanya dan juga sudah menjadi teman hidupnya hampir lima tahun. Tapi Alan tak ada pilihan lain, penghianatannya tak bisa di maafkan lagi.


''Tapi aku nggak tega sama dia, bagaimana nasibnya setelah dia bercerai dari kakak?''


Alan memegang kedua lengan Dinda. ''Dengar aku! Kamu nggak usah mikirin orang lain, jika dia sudah berani berbuat, itu artinya dia juga sudah siap menanggung risikonya, dan aku nggak peduli, selama ini aku mati matian belain dia di depan mama, aku tak pernah mempermasalahkan kemandulannya, dan aku tak pernah memperhitungkan berapa uang yang dia habiskan, tapi apa, dia malah mencari laki laki lain di belakang aku, dengan teganya dia membohongi aku, apa masih pantas wanita seperti itu di pertahankan." menjeda ucapannya untuk bernafas. "Aku tau, aku sendiri banyak kekurangan dan kesalahan, tapi aku tidak bisa memaafkan apa yang sudah di lakukan Syntia di belakangku." Imbuhnya lagi, mengeluarkan semua yang menjanggal dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Faisal dan yang lain hanya bisa mendengar keluh kesah Alan, apa lagi pria yang dulu menjadi sekretarisnya itu tau betul bagaimana Alan memperlakukan Syntia bak seorang ratu, dan Alan tak pernah mempermasalahkan apapun yang di lakukan Syntia di luaran, yang terpenting baginya adalah hidup bersama dan bahagia, tapi kini semua itu tinggal kenangan, yang akan terkikis oleh waktu.


Dinda kembali menangis di pelukan Alan. "Tapi bagaimana denganku yang tak bisa mempunyai anak lagi?"


"Kamu dengar ucapan mama kan? Kita bisa adopsi, aku nggak pernah menginginkan anak, karena semua itu sudah urusan Tuhan, kita hanya bisa menerima, dan Aldiansyah adalah putra kita, meskipun dia tidak hidup bersama kita, setidaknya dia pernah ada di antara kamu dan aku, dia bukti cintaku ke kamu yang belum aku sadari, dia adalah darah dagingku yang lahir dari rahim kamu, dan dia adalah buah hati kita untuk selama lamanya." jelasnya.


Semua yang ada di ruangan itu ikut menitihkan air mata, perjalanan hidup Dinda tak seperti yang di inginkananya itu membuat Bu Tatik pilu, tak menyangka lika liku kehidupan Dinda akan berakhir bahagia.


Tin.. tin... Tiba tiba saja suara klakson mobil menggema membuat semua penghuni rumah saling pandang.


"Biar aku yang temui." ucap Alan membantu Dinda untuk berdiri. Keduanya medekati pintu utama untuk melihat siapa yang datang.


"Benar ini rumah bapak Yanto?" tanya sang tamu.


Alan mengangguk dan meraih kertas di tangan pria itu.


"Langsung turunkan saja!" ucap Alan seketika.


Dinda hanya mengernyit dengan barang barang yang mulai masuk kedalam rumah.


"Kak, siapa yang beli?" tanya Dinda heran saat melihat brosur di tangan Alan dengan total puluhan juta rupiah.


"Aku." jawabnya singkat lalu mendekatkan mulutnya di telinga Dinda.


"Aku nggak mau nanti malam gagal lagi.'' bisiknya mengingat tadi malam, Alan gagal untuk menyentuh istrinya gara gara ranjangnya yang berdecit saat pria itu ikut naik di samping istrinya, karena Alan takut roboh pas lagi enak enaknya. Mendingan di undur dan menunggu ranjang baru yang lebih luas dan nyaman.


Seketika wajah Dinda bersemu merah mendengar ucapan absurd suaminya.

__ADS_1


Bukan hanya tempat tidur yang di beli, namun keperluan rumah tangga mertuanya pun ia beli, setelah kemarin Alan mengabsen semua alat rumah tangga Bu Tatik yang memang sudah perlu di ganti.


__ADS_2