
Makan malam yang istimewa di kapal pesiar yang mewah bukanlah termasuk cita cita Dinda atau keinginan Dinda, namun kini wanita itu bagaikan ketiban rembulan di malam hari, bagaimana dia bisa menapaki tempat di kalangan mereka para orang kaya, tak hanya itu, Dinda merasa kalau Dokter Tono memang sangat berlebihan dalam memperlakukannya, kali ini tak hanya Dinda yang berada di kapal itu, namun seluruh keluarganya bisa menikmati indahnya malam kota Paris, lampu yang gemebyar melengkapi keindahan yang begitu menyejukkan mata.
Dinda yang berpakaian cantik dengan riasan make up yang natural itu terlihat begitu anggun dan ayu dengan sinar lampu kuning yang menghiasi kapal yang berlapis kaca, seperti tak percaya dengan dirinya sendiri yang begitu di sanjung dokter Tono.
Dinda sampai menitihkan air mata, saking bahagianya wanita itu tak bisa fokus dengan dirinya saat ini.
Bukan hanya menempati, makanan yang di sajikan pun beragam, dan Alan memesankan makanan yang begitu fantastis untuk istrinya sekaligus pasiennya itu. Tak mau menyia nyiakan momen yang indah, Dinda kembali berfoto bersama keluarganya di sana, dan tak mau melupakan kejadian bersama Dokter Tono yang dengan kilat bisa merasuk ke dalam relung hatinya.
Makan malam yang romantis di iringi musik live itu terasa begitu damai hingga tak bisa di ungkapkan dengan kata, meskipun mereka berkumpul, pandangan Dinda kini hanya mengarah pada sosok yang ada di depannya.
''Dok.'' panggilnya. ''Besok kan kita pulang, aku ingin mampir ke rumah dokter sebelum aku ke kampung.'' Tak berhenti begitu saja Dinda terus menyelidik.
Kini tak hanya Alan yang tercengang, Faisal dan Daka pun ikut terpaku mendengar permintaan Dinda.
''Tapi maaf, nggak bisa, karena kita pisahnya pas di bandara, lain kali saja ya.'' jawab Alan ragu takut Dinda kecewa.
Kenapa sepertinya dokter Tono menghindariku, apa ini cuma perasaanku saja.
Akhirnya Dinda mengangguk mengerti, mungkin saja memang Dokter Tono terlalu sibuk dengan kerjaannya, atau memang dokter itu tidak mau kalau Dinda dekat dengan keluarganya, itu menurut pak Yanto dan Bu Tatik.
Puas makan malam sembari menyusuri sungai di atas kapal, Pak Yanto dan yang lain memilih untuk pulang karena sudah larut, begitu juga dengan Faisal yang selalu menemani orang tua dan sepupunya kemanapun, namun tidak dengan Alan yang melarang Dinda ikut mereka.
"Kita dansa bentar yuk!" ajaknya mengulurkan tangan ke arah Dinda.
Dinda menggeleng tanpa suara.
"Kenapa, kamu nggak suka?" tanya Alan penuh harap.
Dinda hanya tersenyum, malu untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Aku nggak bisa." ucapnya sembari menunduk.
Alan tersenyum renyah, "Cukup ikuti gerakanku, dan aku yakin kamu pasti bisa." karena memaksa akhirnya Dinda mau menerima, itung itung belajar juga.
Dinda hanya mengikuti apa yang di ucapkan Alan, karena ini pertama kalinya ia melakukan dansa hingga membuatnya beberapa kali menginjak sepatu pria itu.
''Maaf, kata itu yang di ucapkan saat high hels nya terasa mengganjal.
''Tidak masalah, terima kasih sudah menamaniku malam ini.'' keduanya terlihat romantis saat Dinda yang sudah ngantuk itu menyandarkan kepalanya di dada Alan, tempat sandaran yang membuat Dinda nyaman dan damai.
Aku tidak tau kapan kita bertemu lagi, yang pastinya malam ini akan menjadi malam yang panjang buat aku dan kamu, aku tidak akan membiarkan kamu melupakan malam yang indah ini, Dinda, percayalah, jika kita sudah berpisah nanti, aku akan sangat merindukan kamu, bukan sebagai pasienku, tapi sebagai istriku, manja kamu, kepolosan kamu, kecantikan kamu, bahkan kesabaran kamu akan tetap aku ingat sampai kapanpun, jika kamu memang membenciku sebagai Alan, cukup ingat aku sebagai Dokter Tono.
Tak terasa Alan meloloskan air matanya saat menyuarakan lirih hatinya yang tak bisa di dengar oleh siapapun, sedangkan Dinda malah betah dengan posisi yang terlihat begitu mapan.
''Din,'' panggil Alan saat tubuhnya tertindih sedikit berat.
Apa dia tidur.
Dengan pelan Alan merengkuh tubuh Dinda dan mendongakkan kepalanya.
''Bisa bisanya kamu tidur saat Dansa, apa begitu nyaman saat kamu di dekatku.'' gumamnya. Dengan sengaja Alan mendaratkan sebuah kecupan di kening Dinda yang sudah memejamkan matanya.
Alan langsung membopong tubuh Dinda dan membawanya ke kursi kembali, kali ini pria itu menjadi pusat perhatian pengunjung yang masih asyik dengan aktivitas masing masing.
Merasa kesulitan, akhirnya Alan mengeluarkan ponselnya menghubungi Faisal karena ia tak bisa pulang sendirian dengan keadaan Dinda yang sudah terlelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan susah payah Alan membawa Dinda pulang, karena ia tak mengizinkan Faisal untuk membangunkan adiknya, melihat pengorbanan yang begitu besar, Faisal merasa melas saat melihat Alan membaringkan tubuh adiknya di atas ranjang, namun kali ini Faisal tak bisa berbuat apa apa selain menuruti kemauan sang adik.
__ADS_1
''Terima kasih karena kamu sudah menjaga Dinda dengan baik.'' ucap Faisal saat adik iparnya itu menyelimuti istrinya.
Keduanya meninggalkan Dinda untuk istirahat setelah seharian penuh lelah dengan belanja dan jalan jalannya.
Faisal mengikuti Alan untuk masuk ke kamarnya.
''Bagaimanapun juga dia masih istriku, dan aku minta maaf karena baru menyadari kalau dia adalah permata yang aku sia siakan, jika abang punya waktu, secepatnya datang ke kantor, aku akan urus secepatnya.''
Alan menjeda ucapannya, seperti tak ingin untuk melanjutkan, tapi kembali lagi, Alan pikir ini adalah waktu yang pas untuk mengungkapkan semuanya.
''Tadi Dinda bilang padaku, kalau dia akan melanjutkan usahanya di kampung sebagai penjahit, dan aku tau pasti dia tidak akan menerima bantuanku lagi, jadi tolong abang terima ini, anggap saja ini sebagai harta gono gini untuk Dinda.'' menyodorkan sebuah Atm.
''Dan aku pastikan isinya tidak akan habis sampai kapan pun.'' jelasnya.
Seketika Faisal menggeleng, dan tak menyentuh benda tipis itu sedikit pun.
''Nggak, aku nggak mau terima itu, aku sudah punya uang untuk modal Dinda, aku jual apartemen dan mobil aku, dan aku juga akan pindah ke kampung sampai Dinda benar benar baik dan bisa aku tinggal untuk bekerja lagi. Kamu simpan saja untuk Syntia.''
''Selamat malam.'' Setelah menepuk pundak Alan, Faisal langsung keluar dari kamar itu.
Sudah kuduga, kalau abang pun juga tidak mau menerima bantuanku, apa aku lewat mama untuk membantu Dinda.
Setelah puas bermonolog, Alan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Alan mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.
Besok aku pulang.
Kata itulah yang dikirim untuk Syntia sang istri, pamit ke luar kota dua minggu membuat Syntia lebih leluasa di luaran sana, namun kali ini wanita itu tak bisa berkutik lagi karena Alan tidak membiarkannya berkeliaran begitu saja, semua anak buahnya selalu mengikuti kemana pun wanita itu pergi termasuk pertemuannya dengan Rey.
__ADS_1