
Seperti apa yang di katakan Alan tak mau mengingkari janjinya untuk membawa Dinda ke rumah sang mama, sepulang dari hotel tempat menginap, kini Dinda langsung ke rumah Bu Yanti melepas kangen yang terjeda karena sebuah perayaan sang abang, tak tanggung tanggung karena mereka pun memberi sebuah penyambutan meriah atas kembalinya Dinda ke rumah itu.
Sedangkan pak Yanto dan Bu Tatik memilih untuk langsung pulang setelah mampir sebentar di rumah besannya, kali ini di antar langsung oleh Dokter Daka yang memang menawarkan diri.
Setelah puas menikmati makanan dari mama mertuanya, Dinda beralih menatap sudut ruangan mewah kamar Alan, berbeda, jika dulu spray itu khas dengan pria, kali ini Bu Yanti menggantinya dengan motif bunga, meskipun Alan masih cemberut, setidaknya menghargai Dinda yang memang menyukainya.
''Kamu tau, siapa saja perempuan yang pernah masuk kamar ini?'' tanya Alan memeluk Dinda dari belakang.
Wanita itu menggeleng meskipun otaknya menerka, pastilah Syntia istrinya.
''Hanya kamu dan mama, perempuan yang pernah masuk ke sini, karena aku tidak mengizinkan siapapun untuk masuk, apa lagi mengubah kamar ini.'' ucapnya menatap bayangan dari pantulan cermin.
Dinda memutar tubuhnya dan mengalungkan tangannya di leher Alan.
''Itu artinya boleh dong aku mengubah kamar ini sesuai keinginanku?'' ucap Dinda.
''Dan kamu tau, siapa perempuan yang pertama kali berani bilang begitu?'' tanya Alan lagi.
Dinda menggeleng.
''Hanya kamu, satu satunya perempuan yang berani beraninya mau mengubah kamar aku.'' mencubit kedua pipi Dinda. Tak hanya itu Alan menggiring Dinda hingga ke ranjang.
Seperti sebelumnya, namun kali ini Dinda sadar apa yang akan di lakukan suaminya.
''Kak, aku ingin lihat rumah kita.'' akhirnya Alan tersenyum, lupa kalau hari ini mereka juga akan langsung pulang.
''Oke, sekarang kita pulang.''
''Baju aku,'' menunjuk lemari yang tertutup.
''Semua sudah di sana, dan aku punya hadiah juga untuk kamu.''
Mengambil sapu tangan lalu menutup mata Dinda.
Kira kira apa hadiahnya, masa iya sampai tutup mata segala.
Dinda diam mengikuti kemana Alan membawanya, tak mau protes dan tak mau banyak tanya, takut kesandung dan jatuh.
''Ma, aku pulang ya,'' pamit Alan, seraya tangan masih memegang Dinda.
''Baik baik ya sayang, sekarang mama nungguin papa, jadi nggak bisa ikut ke rumah kalian.'' mencium kedua pipi Dinda bergantian.
Setelah mewati jalan di depan rumahnya, kini Alan sudah tiba di halaman rumah barunya yang begitu luas.
''Sudah sampai?'' tanya Dinda saat Alan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
''Iya.'' membuka tutup matanya.
Perlahan Dinda membuka matanya yang beberapa lalu gelap gulita.
''Ini rumah kita?'' tanya nya dengan antusias saat menatap rumah berlantai dua dengan desain klasik modern.
Alan mengangguk lalu membawa Dinda menuju samping, yang juga terdapat sebuah rumah lantai satu namun luas.
''Ini untuk siapa?'' tanya Dinda penasaran, apakah Alan akan menempatkannya di sana, itu terka nya.
Alan merogoh kunci di saku kemejanya lalu membuka pintu rumah itu.
"Ayo masuk!" meraih tangan Dinda untuk melihat isi yang ada di dalam.
Kali ini Dinda tak bisa berkata apa apa lagi, lidahnya keluh dan air matanya lolos begitu saja saat menatap isi ruangan tersebut.
Aku nggak mimpi kan, ini bukan hayalan kan, jika ini mimpi aku nggak mau bangun.
Dinda menatap lekat manik mata Alan yang masih setia mematung di sampingnya.
"Ini hadiah untuk kamu, dan maaf, aku tidak bisa mengembalikan cincin yang kamu jual waktu itu, tapi aku membeli ini, semoga kamu suka." menyematkan cincin berlian di jari manis Dinda.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau waktu itu kamu jual cincin kamu untuk beli mesin jahit?" ucap Alan penuh penyesalan mengingat tuduhan yang pernah di lontarkannya.
"Kapan kakak memberiku waktu untuk bicara, tapi sudahlah, semua sudah berlalu, yang terpenting sekarang aku sudah bahagia, itu cuma masa lalu, tak perlu kita ingat lagi."
"Jangan bilang juga kalau itu sebagai ganti laptopku waktu itu." celetuk Dinda menghampiri benda yang pernah di banting Alan.
"Kita tidak usah mengingat masa lalu, karena kita ada di pintu masa depan, teruslah bersamaku sampai kapanpun, meskipun aku pernah menyakitimu, jangan balas aku dengan penghianatan, jika kamu bosan denganku, katakan, aku akan terus berusaha untuk membuat kamu bahagia." mencium kening Dinda dengan lembut.
Dinda jadi terharu dan memeluk erat Alan.
Beralih pada benda benda yang sudah siap untuk di pakai. Karena hadiah dari Alan memang begitu istimewa, bukan harga bendanya yang mahal melainkan kegunaan benda itu yang memang ingin di miliki Dinda dari dulu, apa lagi kalau bukan mesin jahit, lengkap dengan mesin yang lainnya, bukan hanya itu, aksesoris untuk membuat baju pun sudah lengkap di beberapa etalase di sana, jadi Dinda juga tak perlu keluar lagi untuk menyempurnakan baju buatannya.
Baru juga Dinda berjinjit ingin mencium pipi Alan, suara deheman membuat Dinda gugup, karena malu wanita itu memilih untuk membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Bibi," seru Alan, ternyata Bi Romlah yang datang.
Dinda terbelalak lalu menoleh. Dinda melepaskan pelukannya menghampiri wanita paruh baya yang kini sudah berada di depan pintu.
"Non." keduanya saling pelukan, tak bisa mengelak di saat dirinya tenggelam dalam kesedihan hanya bi Romlah satu satunya orang yang memberinya dukungan, bahkan Bi Romlah sudah Dinda anggap seperti ibunya sendiri.
"Kak, bibi kerja di sini?" tanya Dinda, namun seakan menekankan kalau itu keinginannya juga.
Alan mengangguk dengan melipat kedua tangannya.
__ADS_1
Setelah paus dengan sang bibi, Dinda kembali mendekati suaminya. "Terima kasih." ucapnya melingkarkan tangannya di tubuh Alan.
"Untuk?" tanya Alan menggoda, meskipun ia tau pasti untuk semua yang ia berikan.
"Untuk semuanya yang Om berikan." ikut sewot.
Alan mengernyit mendengar panggilan istrinya barusan.
"Tadi kamu panggil aku apa?" tanya Alan memastikan kalau ia tak salah dengar.
"Om," jawab Dinda lantang.
Seketika Alan mengangkat tubuh Dinda membawanya keluar dan beralih masuk rumahnya.
''Beraninya kamu panggil aku om ya." membawanya ke kamar dan tak menghiraukan Dinda yang minta ampun untuk di turunkan.
Sedangkan Bi Romlah memilih untuk ke dapur malu sendiri melihat kelakuan konyol majikannya.
"Sekarang rasakan pembalasanku." membaringkan Dinda di atas ranjang lalu mengunci pintunya.
"Oke, sekarang nggak lagi, aku panggil kakak." ucapnya mengiba saat Alan mulai membuka bajunya.
"Terlanjur, jadi nggak ada ampun untuk kesalahan kamu lagi ya." mendekap Dinda dan mengukung wanita itu hingga tak bisa bergerak.
Lagi lagi Alan mengehentikan aksinya saat ponsel yang baru saja ditaruhnya itu berdering.
Keduanya menatap benda pipih yang terus saja mengeluarkan bunyi nyaring.
Itu pasti Dokter somplak yang telepon, batin Alan sebel.
Karena terlalu berisik akhirnya Alan mengambil ponselnya.
"Siapa?" tanya Dinda saya raut wajah suaminya berubah.
"Syntia." jawab Alan malas.
"Angkat saja, bagimanapun juga Mbak Syntia masih istri kakak." ucap Dinda.
Dengan berat hati Alan menggeser lencana hijau tanda menerima.
"Halo, ada apa?" tanya Alan datar.
Aku mau bicara sama kamu, kamu bisa pulang kan?" tanya Syntia dari seberang sana.
Alan menatap Dinda yang menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Baiklah, satu jam lagi aku sampai rumah." jawabnya lalu menutup sambungannya.