
Siapa yang tak bahagia jika di sanjung, itulah Dinda saat ini, semua mata hanya tertuju padanya, kebahagaian yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya itu kini terpancar di wajahnya, baik dari saudara maupun dari keluarganya mertuanya. semua bibi dan pamannya ikut ke sana, meskipun mereka sangat terkejut saat tau status Dinda yang menjadi istri kedua, namun kini mereka ikut bahagia saat melihat Dinda dengan perut buncitnya yang di dampingi suaminya.
Mungkin Alan bisa di bilang jago dalam hal mengelabuhi keluarganya, namun tidak bagi Dokter Daka dan Faisal yang kini juga ikut curiga, bahkan keduanya itu sering melirik ke arah Alan yang dari tadi tak pernah senyum ke arah adiknya.
Aku akan buktikan semuanya, jika kamu memang tidak mencintai Dinda, baiklah Aku akan membawa Dinda pergi, itulah yang di katakan hati Faisal.
Setelah keluarga memberi selamat pada sang calon ibu, kini mereka menikmati hidangan yang tersaji, begitu juga dengan Dokter Daka yang merasa capek, karena membantu Faisal dengan tugasnya.
''Kenapa lagi?'' tanya dokter Daka mengambil minuman di depan Faisal.
Faisal menggeleng, jika urusan Syntia ia minta bantuan dari Dokter Daka, namun tidak untuk urusan adiknya yang harus di selesaikan sendiri.
Prosesi yang berjalan lancar itu mengundang tepuk tangan, dan ruangan semakin ramai saat tawa riuh menggema.
Dinda yang ada di sudut sana bersama Alan ikut tersenyum, masih bingung dengan prosesi acara adat dari kampung.
''Kak aku capek,'' Dinda manja dan duduk kembali, Alan yang sedari tadi mendampinginya ikut duduk di sampingnya sembari menyalami tamu yang masih bergilir.
''Apa perlu aku ambilkan minum?'' tanya Alan pelan.
Dinda mengangguk karena betisnya benar benar merasa nyeri, jangankan untuk jalan, untuk berdiri saja hampir tak kuat.
Tak lama Alan datang membawa segelas air putih.
''Nih, menyodorkan ke arah Dinda.
''Terima kasih,'' jawabnya.
Setelah meneguknya Dinda memijat betisnya tang makin terasa nyeri.
''Biar aku pijitin, mengangkat kaki Dinda dan membawa ke pangkuannya saat tamu sudah mulai sepi.
Dinda melongo tak percaya, apakah itu Alan yang berbicara selembut sutra, apakah itu Alan yang memangku kakinya.
__ADS_1
Alan melirik sedikit ke arah wajah Dinda yang saat ini tersenyum.
''Nggak usah kak, mencoba menarik kembali kakinya untuk ke bawah, namun dengan cepat Alan mengeratkan pegangannya membuat Dinda tak bisa bergerak.
Alan memicingkan bibirnya. ''Jangan besar kepala, ini semua hanya demi anakku, sampai kapanpun aku tidak akan mencintaimu, kamu hanya menikah denganku untuk melahirkan anak, ucap Alan dengan santainya.
Seketika Dinda menarik kakinya, tak peduli di lihat banyak orang, yang pastinya ia harus pergi dari laki laki berengsek di sampingnya, dengan jalan yang terseyok seyok wanita itu membelah tamu dan menahan air matanya, beruntungnya tak ada yang sadar dengan kepergiannya karena semua sibuk berbincang.
Tak sengaja, di belakang dekor Faisal yang tadinya mau memberi ucapan selamat itu mendengar ucapan Alan yang tak enak di dengar, pria yang berstatus sebagai sekretaris itu mengepalkan tangannya, mungkin jika di tempat yang sepi ia sudah memukul laki laki yang sudah merendahkan adiknya.
Jadi selama ini itu yang kamu perbuat pada adikku, aku nggak nyangka, kalau kamu dengan kasarnya berkata seperti itu.
Setelah bermonolog, Faisal ikut pergi meninggalkan acara mencari Dinda yang berlari ke belakang.
''Dinda, panggilnya sembari mengetuk pintu kamar Alan.
Terdengar isakan dari dalam, Faisal kembali berlari menghampiri Dokter Daka dan membisikinya sesuatu, setelah sang Dokter mengangguk Faisal kembali berlari menuju kamar Alan.
''Din, buka dek, ini abang,'' serunya.
Benar, Dinda sudah berlinang air mata, meskipun ia menyeka saat Faisal datang, faktanya pria itu tau apa yang terjadi pada adiknya.
''Peluk abang, dirinya merengkuh tubuh mungil sang adik, tanpa kata Dinda berhamburan memeluk tubuh kekar Faisal.
''Kamu kenapa?'' tanya Faisal basa basi memancing sang adik untuk bicara apa yang membuatnya makin terisak.
''Aku bahagia,'' jawab Dinda masih enggan mengatakannya.
''Bahagia tapi kok nangis?'' Faisal menggodanya, padahal hatinya sudah tak karuan setelah mendapati kenyataan tadi.
''Terharu aja bang, masih mengelak, dan tak mau jujur.
''Baiklah, kalau kamu tidak mau jujur abang akan keluar, mengendurkan pelukannya.
__ADS_1
Namun tidak bagi Dinda yang terus mengeratkan peluakannya dan menggeleng, menegaskan kalau ia lagi butuh abangnya.
Dinda mendongak dan menatap wajah seseorang yang dari kecil menjadi pahlawannya, orang yang sudah menyekolahkannya sampai tamat SMA, orang yang selalu menjadi ayah di saat bapaknya sakit dan orang yang selalu ada di saat ia butuh bantuan.
"Tapi abang jangan marah sama kak Alan!" pintanya.
Faisal hanya mengangguk tak mau menampakkan wajah marahnya.
"Bang, setelah bayiku lahir aku ingin bercerai dari kak Alan," kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Faisal.
"Maksud kamu apa?" tanya Faisal lagi, "Apa kamu nggak bahagia menikah dengan Alan, apakah dia tidak mencintai kamu?" tanya sang abang bertubi tubi.
Dinda diam, apa yang harus di katakan pada abangnya, apa ini saatnya Dinda untuk jujur dengan masalah rumah tangganya, ya Dengan perkataan Alan tadi, Dinda sudah tidak kuat untuk menelannya sendiri.
"Sebenarnya selama ini kak Alan tidak mencintaiku, ucap Dinda pertama kali, Dia menganggapku sebagai istrinya karena aku bisa mengandung anaknya, dan selama ini dia nggak pernah adil padaku, bahkan setiap malam pun dia nggak pernah menemaniku untuk tidur, ucapan Dinda membuat Faisal kaget bukan kepalang, kejujuran adiknya bagikan pisau yang juga menyayat seluruh tubuhnya.
Faisal hanya bisa mencerna perkataan Dinda, dan dengan bodohnya selama ini Ia tidak tau tentang itu.
Faisal ikut menitihkan air mata membayangkan bagimana selama tujuh bulan adiknya menderita, dan selama tujuh bulan Faisal memasukkan adiknya ke dalam perangkap iblis yang berwajah tampan.
"Baiklah, abang akan kabulkan permintaanmu, maafkan abang yang sudah menghancurkan hidup kamu," Ucap Faisal menangkup kedua pipi Dinda.
"Maafkan abang yang sudah memaksa kamu untuk menikah dengan Alan."
Dinda menggeleng, "Tidak ada yang perlu di maafkan bang, Ini memang takdir, meskipun kak Alan tidak mencintaiku, aku tetap bahagia menikah dengannya, karena dengan begitu aku bisa memberi seorang cucu untuk mama Yanti, dan aku akan menyerahkan anak aku untuk kakak Alan dan istrinya."
Faisal kembali merengkuh adiknya, bagaimana bisa selama ini ia tersakiti, namun bisa bisanya ingin menyerahkan darah dagingnya pada suaminya, namun Apa yang bisa di lakukan Faisal selain mendukung sang adik.
Cukup saat ini saja aku menyakiti kamu dek, aku akan bawa kamu untuk pergi sejauh mungkin, aku nggak membiarkan kamu hidup di antara orang orang yang membenci kamu seperti Alan, kamu sangat berharga untuk di lukai.
Bang, suara Dinda kembali membuyarkan Faisal yang bergelut dengan otaknya.
''Tapi selama aku belum melahirkan, Abang harus janji sama aku, Abang akan merahasiakan semua ini dari Ibu dan bapak, serta mama Yanti dan papa Heru, aku nggak mau mereka memarahi kak Alan gara gara semua ini, biarkan waktu yang akan membuka mata mereka.
__ADS_1
Terpaksa Faisal mengangguk meskipun berat.