Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Permohonan Faisal


__ADS_3

Berhari hari Dinda menatap wajah abangnya yang sepertinya tak ada gairah sedikit pun, bahkan pria itu sesekali memilih untuk sendiri dan tak mau di ganggu, namun bukan Dinda yang hanya diam saja dengan masalah abangnya. Wanita yang sudah hamil besar itu terus mendesak abangnya untuk menceritakan apa yang di hadapinya saat ini, seperti kali Ini Dinda benar benar memaksa Faisal untuk cerita.


Nggak ada apa apa Din, meski kata itu berulang kali di ucapkan, Dinda tak percaya begitu saja.


''Kalau abang nggak mau cerita, aku nggak mau lagi tinggal sama abang.'' mengancam.


Faisal langsung menoleh memikirkan nasib adiknya, belum lagi sebentar lagi Dinda melahirkan.


"Baiklah, duduk sini!" menepuk Sofa di sampingnya yang masih kosong, karena Dinda sudah beranjak ingin pergi.


"Abang lagi nyari kerja," ucapnya masih diiringi senyuman.


"Maksud abang?" tanya Dinda memastikan, apakah ada masalah dengan pekerjaannya di kantor Alan.


"Besok abang akan mengundurkan diri dari kantor Alan, dan abang akan pindah," ucapnya lagi.


Dinda menunduk, pasti ini semua gara gara dia, itu fikirnya.


"Tapi abang juga nggak yakin kalau Om Heru akan mengizinkan abang," keluhnya lagi.


Bingung itu melanda karena kekeluargaannya selama ini yang semakin dekat, membuat Pak Heru tak mungkin melepas Faisal begitu saja tanpa alasan yang tepat.


"Maafkan Dinda ya bang," ucap Dinda meraih tangan Faisal.


''Abang yang salah, jadi kamu jangan bilang seperti itu, Abang baik baik saja kok, jangan di fikirkan, kasihan bayi kamu,'' ucap Faisal meyakinkan Dinda kalau itu bukan masalah besar.


''Oh... iya, kemarin kamu ambil barang kamu sama siapa?'' Faisal mengalihkan pembicaraan.


''Sendiri, naik taksi.''


Faisal hanya manggut manggut.


''Apa kamu ketemu Alan di sana?'' tanya Faisal lagi.


Dinda menggeleng. ''Kayaknya kak Alan berantem dengan Mbak Syntia, dan aku nggak berani manggil dia.''


Berantem, pantas saja wajahnya kusut saat di kantor.


''Ya sudah, Abang mau ke rumah Om Heru, mau bilang soal tadi, kamu mau ikut apa di rumah?'' tawar Faisal, karena Bu Yanti pasti menanyakan Dinda.


''Ikut,'' jawabnya, kebetulan weekend, sekalian Dinda ajak jalan jalan, refreshing untuk menyegarkan otaknya.


Dinda langsung masuk ke kamarnya untuk ganti baju, begitupun dengan Faisal.


Dinda mengobrak abrik isi lemarinya mencari baju yang masih longgar, karena sudah beberapa baju yang di carinya itu sudah sempit di bagian perut, padahal baru saja Amel membelikannya, namun baru beberapa minggu sudah tak muat.


''Abang....'' teriak Dinda saat mendengar pintu kamar sebelah tertutup.

__ADS_1


''Kenapa, kamu butuh bantuan?'' Faisal menghampiri Dinda yang masih betah di depan lemari.


Faisal mengernyit saat mendapati baju Dinda itu kandas di lantai. ''Ini baju kenapa, dek?'' tanya Faisal memungut dan meletakkannya di atas ranjang.


''Nggak muat.'' cercanya mengambil baju yang masih menggantung.


Faisal menatap nanar sang adik, bagaimana bisa ia tak pernah memperhatikan Dinda, sampai baju pun harus di keluhkannya.


Bagaimana bisa baju saja aku tidak memperhatikannya, aku memang abang yang nggak berguna, dan aku abang yang nggak bisa membuat Dinda bahagia.


"Kalau gitu kamu tunggu bentar ya, abang belikan!" mengelus lengan Dinda.


Baru saja memutar tubuhnya, Dinda meraih pergelangan tangan Faisal.


"Nggak usah, abang bantuin saja carikan yang muat, lagian bentar lagi kan dedeknya lahir, mubadzir juga." pintanya membawa Faisal ke depan lemari.


Akhirnya Faisal memilih baju hamil untuk Dinda, entah berapa kali coba hasilnya sama, selalu saja sempit saat di bagian perut.


Hingga sampai pada ujung Faisal menjewer dress warna cokelat susu.


"Yang ini kayaknya muat." bergantian menatap tubuh Dinda dan dress yang di pegangnya.


"Ya sudah, aku coba ya?'' membawa dress yang belum pernah di pakainya itu ke kamar mandi.


Benar apa terka Faisal, ternyata baju itu pas di tubuh dan bagian perut, bahkan Dinda terlihat begitu cantik.


"Kamu cantik sekali dek," puji Faisal menatap Dinda dari atas sampai bawah.


Setelah siap, Tak menunggu waktu lagi, Faisal langsung melajukan mobilnya menuju rumah Bu Yanti.


"Nanti kita beli es krim ya, bang!" ucap Dinda saat mereka sampai di depan rumah mertuanya.


Faisal mengangguk tanpa suara.


Mobil Alan juga disini, itu artinya dia juga kemari. batin Faisal saat baru saja turun dari mobil.


Sama seperti Faisal, pandangan Dinda pun mengarah ke mobil yang sangat familiar di matanya.


''Kita masuk yuk!" mengalihkan pandangan Abangnya dari mobil itu. Seperti ucapannya, Alan bukan lagi urusan Dinda karena sebentar lagi mereka akan berpisah.


"Mama,'' panggil Dinda setelah membuka pintu.


Semua yang ada di ruang keluarga itu menoleh termasuk Alan saat mendengar suara khas Dinda.


"Dinda,'' Bu Yanti langsung beranjak menghampiri menantu tercintanya.


"Kamu mau nginep sini kan?'' Mama kangen sama kamu, lama sekali kamu nggak main kesini." mengelus rambut Dinda.

__ADS_1


Sedangkan Faisal pun masih mematung di sampingnya.


Belum memberi jawaban, Dinda menoleh ke arah Faisal.


"Nggak apa apa kalau mau nginep," lampu hijau menyala, itu artinya bang Faisal memang mengizinkannya.


"Baiklah, kalau gitu aku akan nginep sini."


Alan yang ada di ruang keluarga hanya menatap tanpa ingin menyapa, entah, semenjak Dinda keluar dari rumahnya, Ia canggung juga dengan Faisal, meskipun mereka masih satu kantor, yang pastinya tali persahabatan itu sudah pudar dan kini mereka hanya sebatas partner kerja saja.


"Om, mencium punggung tangan Om Heru.


"Al, mengulurkan tangannya ke arah Alan.


Alan menerima uluran tangan itu, begitu juga dengan Dinda yang mencium punggung tangan Alan, karena bagaimana pun mereka masih berstatus suami istri.


Setelah Faisal duduk, suasana ruang keluarga itu sedikit hening, tapi Faisal tak mau mengulur waktu lagi.


"Om, kedatanganku kesini aku mau bicara," ucap Faisal masih ragu.


"Kamu ini kayak sama siapa, bicara saja kalau kamu butuh sesuatu, nggak usah sungkan sungkan, anggap saja Om ini keluarga kamu."


Faisal sedikit melirik Alan yang kelihatannya memang sedikit kacau.


"Aku mau keluar dari perusahaan Alan, aku mau cari kerja yang lain." ucapnya tanpa basa basi.


Semua tercengang termasuk Alan, Dinda yang tau itu memilih untuk pergi kekamarnya.


"Kenapa?" tanya Om Heru serius.


"Apa gajimu kurang? Apa kalian berantem?" tanya Om Heru lagi.


Faisal tersenyum, "Tidak Om, selama ini Alan begitu baik sama aku, soal gaji dia selalu kasih lebih.''


"Terus?" kini giliran Mama Yanti yang bertanya.


Aku harus bilang apa, nggak mungkin kan, aku bilang karena Alan dan Dinda mau bercerai, dan nggak mungkin kalau aku bilang ada masalah dengan mereka. batinnya.


"Aku hanya ingin cari suasana baru, aku ingin membantu Dinda mengembangkan usahanya untuk membuat baju, Aku mohon om, kabulkan permintaanku,'' Faisal menangkupkan kedua tangannya.


"Kamu yakin hanya itu alasan kamu?" seakan tak percaya itulah Om Heru saat ini.


Faisal mengangguk.


"Om sih terserah Alan, dia kan bos kamu," melihat permohonan Faisal Om Heru menyerahkan keputusan itu pada Putranya, meskipun ingin sekali pria paruh baya itu mencegahnya, namun semua itu di luar kuasanya saat mendengar alasan Faisal.


Alan yang dari tadi diam itu terpaksa menatap wajah Faisal.

__ADS_1


"Baiklah, besok siapkan surat pengunduran diri ke kantor." ucap Alan lalu meninggalkan ruangan itu.


Jika itu memang pilihanmu saat ini, aku tidak bisa memaksa, tapi pintu kantor akan tetap terbuka untuk kamu sampai kapanpun.


__ADS_2