
Setelah pemeriksaan selesai, Dinda kembali ke ruangan Dokter Daka berbincang bincang, saling mengenal lebih jauh, apa lagi sudah tidak ada pasien di jam segitu memudahkan untuk keduanya ngobrol.
Tak tanggung tanggung, Dokter Daka pun menyiapkan makanan untuk Dinda yang memang butuh asupan dua kali lipat.
''Gimana dengan Faisal?'' tanya Dokter Daka menyeruput kopi yang baru saja datang.
''Baik, bentar lagi abang juga mau nikah.'' jawabnya masih canggung, baru kali ini Dinda bicara panjang lebar dengan orang yang baru di kenalnya.
''Sama Amel?'' memastikan apakah Faisal cukup satu atau ganti lagi, karena akhir akhir ini Dokter Daka dan Faisal serta Alan jarang komunikasi di karenakan kesibukan masing masing.
Dinda mengangguk tanpa suara.
''Kalau dulu aku tau dia punya adik secantik kamu, sudah aku lamar duluan,'' cetusnya lagi membuat keduanya tertawa, Dinda tak menyangka dokter yang ada di depannya itu ternyata kocak habis, bahkan Dokter Daka bisa saja membuat candaan yang membuatnya tersipu malu.
''Memangnya dokter temenan sama abang sudah lama?'' tanya Dinda penasaran, sepertinya mereka memang sudah lama kenal.
''Kami bertiga itu teman, bahkan aku sempat ngekos satu kamar sama Faisal sebelum Om Heru ngasih tempat tinggal sama kita, Dokter Daka membuka masa lalu yang sedikit mengenaskan itu, di mana Ia dan Faisal sama sama berjuang untuk mencapai cita cita.
Dinda manggut manggut mengerti, karena abangnya pun dulu sering cerita kehidupannya saat kuliah, namun Dinda tak mengerti siapa yang di maksud, dan ternyata dokter kandungan di depannya itu adalah salah satunya.
Papa memang orang yang baik, bahkan bukan hanya bang Faisal yang di tolong, dokter Daka pun sekarang sukses berkat dia.
''Di makan Din, Bi,'' suruh Dokter Daka saat keduanya melupakan makanan yang sudah tersaji.
''Terus bagaimana dengan kak Alan?'' tanya Dinda kali ini Ia kepo dengan sifat asli suaminya.
''Alan itu sahabat aku dan Faisal yang paling baik,'' kembali mengingat masa lalu, di mana saat Ia butuh uang hanya Alan satu satunya teman yang mau membantunya, bukan hanya itu, bahkan Alan bicara langsung dengan papanya kalau dua sahabatnya itu membutuhkan sesuatu.
''Dan kami tidak akan melupakan jasanya yang sudah baik sama aku dan Faisal, karena selama ini Aku se sukses ini juga berkat dia.'' tuturnya lagi membuat Dinda terharu, meskipun hati Dinda masih terasa sakit, Dinda tak bisa memungkiri jika suaminya itu tak seburuk saat di matanya, mungkin memang keadaan yang membuat Alan bersikap angkuh padanya.
Pantas saja abang memaksa aku untuk menikah dengannya, ternyata kak Alan begitu baik sama Dia, dan semoga masalah aku dan kak Alan tidak memecahkan persahabatan mereka nantinya.
Dinda meletakkan sendok dan garpunya menatap wajah tampan yang kini sibuk dengan makanannya.
''Kalau dokter sudah punya kekasih?''
__ADS_1
Uhukk... uhuk... seketika Dokter Daka batuk dan menyemburkan makanan yang sempat masuk ke kerongkongannya, mendengar pertanyaan Dinda, pria itu merasa tenggorokannya buntu dan tak bisa menelan apapun.
Dinda yang terkejut hanya bisa menyodorkan segelas minuman ke arahnya sembari minta maaf.
''Nggak apa apa.'' ucapnya setelah meneguk segelas air putih.
''Aku belum punya pacar, belum ada yang nyantol,'' kelakarnya sambil cekikikan, karena memang selama ini Dokter Daka belum menemukan yang pas dalam hatinya.
''Maaf kalau aku lancang.'' Dinda maupun Dokter Daka dan Bi Romlah kembali melanjutkan makannya.
Di sela sela makannya, Dokter Daka mengeluarkan ponselnya dan menatap layarnya.
''Ngapain jam segini VC, aku sibuk.'' celetuk suara yang familiar di balik ponsel.
Dinda hanya bisa menatap dari belakang ponsel tanpa bicara.
''Santai dikit kenapa, kamu nggak kangen sama Dinda?''
Kini Alan mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah ponsel Dokter Daka, di mana wajah dokter Daka malah cengar cengir tak karuan.
''Mana Dinda?'' tanya nya antusias, kok bisa dokter konyol itu masih bersama adiknya, bukankah Dinda keluar dari apartemennya berapa jam yang lalu, itu artinya Dinda dan Dokter Daka sengaja ngobrol.
Dokter Daka menyerahkan ponselnya ke tangan Dinda, karena tak ingin kedua laki laki itu curiga Akhirnya Dinda menerimanya dan tersenyum kikuk.
''Kak, bang, sapanya ramah.
Alan Diam dan menggigit bibir bawahnya seperti memikirkan sesuatu, entah apa hanya Ia dan Tuhan yang tau.
''Kamu di apain saja sama Dokter jelek itu?'' ucap Faisal membuat guyonan.
Dinda tersenyum manis. ''Aku cuma di periksa saja kok bang, nggak lebih, lagian Abang jangan sinis gitu, dokter Daka baik lo sama aku,'' ucapan Dinda bagaikan tusukan jarum yang menancapkan di hati suaminya, karena selama ini Alan tak pernah baik padanya, sedangkan laki laki lain di puji karena kebaikannya.
Alan menunduk seperti ada rasa malu yang menghindapi wajahnya.
''Seperti abang dan Kak Alan yang juga selalu saja baik padaku,'' lanjutnya lagi.
__ADS_1
Kali ini bukan pujian, melainkan sindiran keras untuk Alan yang memang sebaliknya.
Faisal tersenyum dan merangkul pundak Alan yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Alan mendongak, Ia menatap wajah Dinda yang ada di samping Dokter Daka yang masih cengengesan.
Kenapa dia membelaku, apa maksudnya, bukankah aku tak pernah baik padanya, kenapa dia bilang seperti itu, apa dia memang sengaja membuatku tersinggung.
''Kakak nggak apa apa kan?'' sapa Dinda mencairkan suasana yang sempat hening sejenak.
Alan menggeleng, masih tanpa suara.
''Kak, anak kita cowok, ucap Dinda lagi sembari menitihkan air mata, karena bisa leluasa bicara sama Alan jika ada orang lain, dan Alan bagaikan orang asing kembali jika mereka hanya berdua.
''Bangga nggak kamu punya istri seperti Dinda, sudah cantik, baik, muda, dan pastinya bisa memberi kamu anak,'' teriak Dokter Daka yang masih ada di sampingnya.
''Al, seru Faisal mengagetkan Alan yang terbang bersama otaknya, bahkan Ia tak begitu mendengar ucapan Dokter Daka.
''Apa?'' masih nada sinis.
''Daka tanya, kamu bangga nggak punya istri seperti Dinda?'' jelas Faisal mengulangi ucapan Dokter Daka.
''Iya, jawabnya seperti tak ada semangat.
''Ya sudah, kamu hati hati kalau pulang, jangan lama lama di sana, pintanya, kali ini raut wajahnya menunjukkan rasa cemburu saat Dinda dan Dokter Daka terlihat akrab.
Daa...da..da....
Dinda memberanikan diri untuk melambaikan tangannya, kapan lagi ia bisa bercakap dengan suaminya selain saat berkumpul seperti itu.
Terpaksa Alan pun membalas lambaian tangan Dinda seperti yang di lakukan Faisal.
Setelah menutup sambungannya, Alan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari memejamkan matanya.
Kenapa aku merasa bersalah sama Dinda, Dia itu gadis yang baik dan lugu, tapi harus menerima pelampiasanku setiap hari, apa yang harus aku Lakukan?
__ADS_1