Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Paris 1


__ADS_3

Siapa yang tidak pernah mendengar Paris, Ibu kota negara perancis yang terkenal dengan tempat wisatanya, pemandangan yang luar biasa membuat semua mata terpana, takjub akan keindahan berbagai arnumen yang berdiri kokoh siap memanjakan mata. Kota yang juga di sebut sebagai kota Cinta itu memang menjanjikan dengan berbagai tempat yang romantis, tak jarang mereka selalu mendambakan untuk pergi kesana hanya menembak atau melamar sang kekasih.


Setelah perjalanan kurang lebih tujuh belas jam, kini Dinda kembali membuka mata lelahnya saat tiba di sebuah hotel mewah yang hanya berjarak tiga ratus dua puluh meter dari menara itu, meskipun belum menikmati keindahan bangunan yang menjulang tinggi hingga tiga ratus meter itu lebih dekat. Hati wanita itu sudah berdebar debar, matanya berkaca seakan tak percaya kalau saat ini ia benar benar menginjakkan kakinya di kota benua eropa bagian barat tersebut.


Tanpa sadar Dinda menyandarkan kepalanya yang juga sedikit pening itu di pundak Dokter Tono, tak tau dengan hatinya yang terus merasa nyaman jika di samping Dokter yang baru beberapa hari merawatnya itu.


''Jangan pingsan!" bisik Alan merangkul pundak Dinda.


Dinda hanya menggeleng tanpa suara.


Tidak ada kata malu untuk terus mengagumi keindahan yang sudah tersorot dari jauh, meskipun nanti akan di bilang katrok, tak apalah itu faktanya. Sedangkan Alan hanya menjadi pendengar setia ocehan Dinda yang ingin kesana dan kemari. Kali ini Alan benar benar menyiapkan diri lahir batin dan uang untuk menemani Dinda kemana pun yang ia mau.


''Kapan kita kesana?'' menunjuk menara yang terlihat dari balkon hotel saat ia dan Dokter Tono serta Faisal mematung.


''Besok.'' sekarang kamu istirahat saja dulu. ujar Alan.


Tak langsung menurut, Dinda memang belum puas untuk tetap memandangnya, sedangkan yang lainnya memilih untuk istirahat, begitu pun dengan Salma yang langsung menghempaskan tubuhnya akibat Jet lag perjalanan dan tak peduli dengan Daka yang terus memanggilnya. entah ada perasaan apa Dokter kocak itu selalu mengganggunya.


Sedangkan Pak Yanto dan Bu Tatik yang terpaksa ikut pun tak kuat dan merasa pusing. Karena ini memang pertama kalinya mereka naik pesawat dengan jarak waktu yang cukup lama.


Beda dengan Faisal dan Daka serta Alan yang sudah sering karena sebuah kerjaan yang menuntut. Mereka terlihat baik baik saja.


''Sudah, besok aku akan ajak kamu kesana.'' janji Alan, meraih pergelangan tangan Dinda dan membawanya masuk ke kamar.


''Dok,'' ucap Dinda menghentikan langkah Alan yang hampir saja sampai di depan pintu setelah Dinda duduk di ranjang.


Terpaksa Dokter Tono memutar tubuhnya dan kembali mendekati Dinda.


Pria itu kini duduk di tepi ranjang samping Dinda.

__ADS_1


Sedangkan Faisal memilih untuk keluar dari ruangan itu, karena ia tau dari raut wajah Dinda yang ingin bicara serius.


''Ada apa?'' tanya Alan pura pura bodoh.


Dinda menatap manik mata yang memang familiar itu, sedangkan Alan memilih untuk melengos, takut kalau penyamarannya terbongkar.


''Kenapa Dokter rela mengeluarkan uang banyak untuk aku dan kaluargaku?'' tanya Dinda yang tak pernah terlintas oleh Alan.


''Jangan bilang kalau ini semua demi kesembuhanku semata.'' Lanjut Dinda, yang pelan pelan memang sudah mulai sadar akan masalah yang menimpanya, bahkan Dinda seakan siap untuk menerima kenyataan setelah pulang nanti.


''Aku tau, uang yang Dokter keluarkan untuk kita kesini itu tidak sedikit, dan nggak mungkin bang Faisal yang membantu biayanya.''


Dinda terus mengucap dan tak memberi kesempatan Alan untuk bicara.


Apa ini saatnya aku katakan jati diri aku yang sebenarnya, tapi aku nggak mau kalau Dinda makin membenciku, aku tidak mau kalau ia sampai tau bahwa Dokter Tono adalah Alan, orang yang di benci.


Akhirnya Alan tersenyum kecil walaupun masih tertutup dengan masker, Alan terus berusaha menjadi orang lain bukan dirinya.


''Kalau begitu aku harus sembuh secepatnya, aku akan melupakan masa laluku dan akan berjalan menghampiri masa depan yang lebih baik, aku tidak ingin menyia nyiakan usaha Dokter selama ini, dan nanti setelah aku sembuh, aku tidak akan melupakan orang baik seperti Dokter, Semoga apa yang dokter inginkan tercapai.'' ucapan Dinda membuat Alan terenyuh tapi juga merasa sedih.


Tapi yang aku inginkan adalah bersatu dengan kamu, apa itu juga akan tercapai setelah kamu tau siapa aku.


Alan hanya tertawa kecil melihat kesungguhan Dinda.


''Sekarang kamu istirahat, aku takut kalau besok kamu ketiduran dan nggak jadi jalan jalan.'' mengacak rambut Dinda hingga berantakan.


Setelah punggung Dokter itu menghilang, Dinda membaringkan tubuhnya dan menatap langit langit kamar hotel itu.


Siapa Dokter Tono itu, kenapa dia begitu baik sama aku, apa dengan pasien yang lain dia juga seperti itu, tapi aku merasa aneh, kayaknya dia bukan orang asing, tapi siapa, apa aku hanya terlena dengan kebaikannya hingga menganggapnya begitu dekat denganku.

__ADS_1


Dinda yang mulai curiga dengan pria itu kini memilih untuk memejamkan matanya, dari pada harus berfikir keras dan menguras tenaganya.


Alan membuka masker setelah menutup pintu dengan rapat, namun kali ini pria itu bagaikan patung sembari menatap sahabatnya yang ada di depan kamar Salma.


"Kamu ngapain disini?" tanya Alan khas suaranya sendiri, namun sedikit berbisik takut kalau pak Yanto dan Bu Tatik ada di sana.


"Mau ketemu Salma," ucapnya cemberut.


"Tunggu sampai jenggot kamu tumbuh!" bisik Alan lalu melewati tubuh Daka yang sudah lemas.


Sedangkan Daka hanya mengelus dagunya yang bersih dari apa yang di katakan Alan.


Sesampainya di kamar, Alan kembali menyalakan ponselnya yang dari tadi di matikan, kali ini Ia tersenyum sinis saat melihat layar benda pipih itu, ternyata ada sepuluh panggilan dari Syntia dan sebuah Chat masuk darinya, namun yang di lihat adalah pesan dari sang mama yang menanyakan tentang perjalanannya, tak menjawab dengan tulisan Alan langsung menghubungi Bu Yanti.


Tersambung.


''Halo ma." sapa Alan pertama kali.


Bu Yanti terdengar menangis mendengar suara anaknya yang saat ini berjuang demi menantunya.


Bagaimana, apa Dinda baik baik saja? tanya Bu Yanti, yang memang sudah tau penyamaran sang putra.


Alan tersenyum renyah.


''Semua baik ma, perjalanan kami lancar, mama terus doakan semoga setelah pulang dari sini Dinda bisa menerima semua yang terjadi, termasuk kepergian anaknya, semoga aku siap bercerai darinya dan kehilangan dia untuk selama lamanya, dan aku akan terus menjadi dokter Tono jika bertemu dengannya.'' ucap Alan terbata.


Baiklah, hati hati, jangan buat dia menangis lagi, jaga dia buat mama, titah dari seberang sana.


Alan meng iyakan permintaan mamanya lalu memutuskan sambungannya.

__ADS_1


Apakah setelah ini aku akan kehilangan dua istriku, aku harus menuruti semua keinginan Dinda, tapi aku juga nggak bisa lagi bersama dengan Syntia, karena penghianatannya sudah terlalu menyakitkan.


__ADS_2