
Belajar dalam bidang yang tidak ahli dan tidak di sukai memang sangat sulit, apa lagi Alan bukanlah orang yang banyak bercanda seperti Daka, namun kali ini pria itu tetap melanjutkan misinya untuk belajar dengan Daka menjadi psikiater di rumahnya. Meskipun Daka adalah dokter kandungan, setidaknya ia tau apa yang harus di lakukan dokter jiwa saat memeriksa pasiennya, sesekali Daka hanya bisa menerbitkan senyum melihat kesungguhan Alan, dan kali ini bukan Alan yang banyak harta yang bisa memerintah siapapun, namun Daka sang penguasa yang seenak jidatnya memerintah Alan ini dan itu sampai sesuatu yang tidak penting sekali pun, lumayan sekali kali memberi Alan pelajaran.
Dalam waktu semalam bisa dihitung hanya dua jam Alan memejamkan matanya dan kembali terbangun saat foto di dekapannya itu di tarik oleh Daka.
''Dapat dari mana?'' tanya Daka, karena malam itu Alan memang sengaja tidur di rumah sahabatnya.
''Dari rumah Dinda, di kampung.'' Jawab Alan malas dan kembali merebut gambar itu.
Daka mengernyit, kok bisa Alan ke kampung memgambil gambar itu dari sana, bukankah selama ini pria itu belum tau rumah Faisal.
''Kapan?'' tanya Daka duduk disamping Alan.
''Tiga hari setelah Dinda menghilang dan sebelum putraku di rawat.'' masih dengan malasnya Alan mengantongi foto itu kembali.
Matahari memang sudah terang, Daka sudah bersiap dengan jas putihnya untuk kerumah sakit, sedangkan Alan masih duduk santai di sofa menunggu titah Daka selanjutnya.
''Apa yang harus aku lakukan hari ini?'' tanya Alan saat Daka menyisir rambutnya.
''Ya, kerumah sakit lah, memangnya kamu mau ngapain, menunggu sampai ubanan baru ketemu Dinda.'' cetusnya menatap Alan dari bayangan cermin
Alan terbelalak dengan penuturan Daka, tak menyangka kalau ia akan secepat itu bisa menjalankan misinya.
''Kamu nggak bohong, kan?'' tanya Alan serius membalikkan tubuh Daka menghadapnya.
Daka menggeleng, karena dalam semalam Alan memang sukses dengan praktik pelajaran yang di berikannya.
Alan yang sudah siap menjalankan tugasnya itu langsung menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi, tak peduli itu handuk bekas si Daka yang penting ia sudah merasa bahagia akan aktivitas yang akan di lakukan hari ini, sedangkan Daka menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Alan termasuk jas putih ala dirinya.
Tompelnya pakai apaan ya? batin Daka.
Karena tinggal itu yang belum ketemu, untuk alis dan kumis serta jenggot, Daka sudah ada, tinggal tompel doang dan pria itu masih memikirkan cara untuk membuatnya.
''Cari apa?'' tanya Alan yang baru keluar dari kamar mandi saat Daka terlihat celingak celinguk di laci.
__ADS_1
''Bahan untuk buat tompel.'' jawabnya karena memang itu tujuannya.
Ckckck.... Alan berdecak menarik lengan Daka.
''Ya nggak usah tompel lah, kamu ini.'' Alan yang terlihat kesal itu melempar handuk kecil ke wajah Daka setelah rambutnya kering.
Kali Ini Daka mengalah setelah semalaman penuh ia yang menang.
''Ya sudah, cepetan!" menyodorkan baju yang akan di pakai Alan, mulai dari baju dalam sampai yang paling luar. Setelah selesai Alan menatap penampilannya yang luar biasa, wajahnya yang sangat tampan itu semakin pas dengan setelan putih.
Daka yang sudah siap merobak wajah Alan itu pun sudah mematung di sampingnya, bagaikan MUA yang siap merias pengantin itulah Daka, namun kali ini bukan mengubah wajah Alan makin tampan namun makin tak karuan.
Pria yang berprofesi sebagai dokter itu mulai memasang kumis pada tempatnya, tak ada protes dari Alan, meskipun itu sudah cukup mengubah wajahnya makin jelek, tapi Alan masih diam demi keberhasilannya.
Dan kali ini Daka memasang jenggot palsu, dan setelah selesai Daka mengambil alis palsu, belum sampai di pasangkan di tempatnya, Alan menghentikan tangan Daka.
''Kenapa?'' tanya Daka penasaran.
Daka menelan ludahnya dengan susah payah seraya manahan tawa, benar saja wajah yang sangat mulus itu kini berubah menjadi amburadul berkat karyanya, tapi Daka tak mau diam begitu saja, dan terus memaksa Alan untuk memasang alis palsu.
''Tapi kalau kamu nggak pakai alis palsu takutnya Dinda akan mengetahui dari jidat kamu.'' Ucap Daka memberi alasan.
Ini benaran apa cuma akal akalan Daka saja untuk ngerjain aku ya?
Meskipun ragu, Alan tetap nurut apa kata Daka yang menurutnya konyol.
Terserah dia saja deh, yang penting aku bisa ketemu Dinda.
Setelah semua siap, Alan dan Daka keluar dari rumah untuk langsung ke rumah sakit.
Dalam perjalanan kali ini Alan bagaikan mendengarkan ceramah Kiyai besar, karena sedikit pun Alan tak bisa membantah dan harus mengikuti apa kata sang kaisar. Mungkin jika bukan Daka seorang gurunya saat ini, sebuah tamparan entah tinju sudah mendarat di tubuh Daka, namun Alan bagaikan kacung yang hanya bisa mengangguk saja dengan ocehan pria yang duduk di sampingnya itu.
Sebelum mobil Daka mendarat di depan rumah sakit Dinda di rawat, pria itu menelepon Dokter Andra untuk tidak datang dan memberi tau Faisal bahwa akan ada yang menggantinya yaitu Dokter Tono.
__ADS_1
Seketika Daka langsung menerima sebuah tepukan di lengan dari Alan setelah mendengar pembicaraan Daka dengan Dokter Andra lewat telepon.
''Kenapa?'' tanya Daka menaruh ponselnya di saku jasnya seraya meringis kesakitan saat menatap wajah Alan.
''Apa nggak ada nama lain selain nama Tono?'' seperti menekankan saat mengucap nama yang menurutnya tak layak buatnya yang begitu mempesona saat tidak keadaan menyamar.
''Kan nyamar?'' masih berkilah padahal memang sengaja membuat Alan tersulut emosi.
Nggak banyak cek cok lagi Daka dan Alan langsung melepas seat belt masing masing.
''Nggak mungkin kan aku beri nama asli?'' masih aja ngeles, padahal Alan sudah tak betah dekat dengannya.
Lagi lagi Alan hanya bisa menerima apapun yang di katakan Daka.
''Terserah deh mau Tono kek, Tini, atau apalah yang penting aku bisa ketemu Dinda.''
Alan keluar dari mobilnya dan memasang masker, tak lupa pria itu menatap wajahnya dari pantulan spion mobil, memastikan jika wajahnya benar benar tak ada yang mengenalinya.
''Sudah cakep.'' Ucap Daka nada menyindir sebelum mereka meninggalkan tempat parkir.
Keduanya menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah bersejajar, meskipun sudah menyamar dengan sempurna serta memakai masker, Alan masih saja menunduk saat berpapasan dengan suster yang berhalu lalang.
Tiba lah kini Daka dan Alan di depan sebuah ruangan yang paling mewah.
''Ingat, jangan menangis ataupun lupa kalau kamu disini bukan sebagai Alan, dan ingat nama kamu Tono.'' tegas Daka sebelum mereka masuk ke ruangan Dinda.
Semoga semua berjalan dengan lancar.
Tadi pagi kayak ada yang mau nyumbang teh buatan emak, di minum dulu yukkk!"
Terima kasih buat kalian yang sudah doain saya sekeluarga, semoga kita sama sama sekali dalam lindungan-Nya.
Semua boleh jawab Amiiin, biar di ijabah doanya.
__ADS_1