Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Malih rupa


__ADS_3

Hari sudah mulai siang, cuaca juga mulai panas, seperti hati Dinda saat ini yang memendam amarahnya dengan kelakuan Alan yang ada di sampingnya.


''Permisi...'' tiba tiba suara serempak sedikit membuat Dinda tenang.


Dinda beranjak menghampiri yang lain, begitu juga dengan Alan yang mengikuti istrinya dari belakang.


''Kalian kenapa?'' tanya sang Ibu menatap raut wajah keduanya yang saling berbeda.


Dinda tak menjawab hanya menyodorkan buku hasil kerja Alan pagi tadi.


Bu Tatik mengernyitkan dahinya saat membaca catatan yang begitu aneh.


''Apaan sih, Bu?'' giliran Faisal yang merebut buku dari tangan Ibunya. Sedangkan pak Yanto memilih minggir, memberi ruang untuk Salma yang kepo.


Beda ekspresi, jika sang Ibu bingung, Faisal malah tertawa lepas seraya memegang perutnya.


''Dinda, itulah hebatnya suami kamu,'' celetuk Faisal, entah itu memuji atau mengejek yang pastinya Alan ikut senang, ternyata tak sesuai ekspektasinya kalau semua akan mengepungnya dengan kemarahan.


Alan menunduk, takut jika Ibu mertuanya itu mengomel seperti istrinya.


''Ini kenapa bisa aneh gini?'' tanya Bu Tatik.


Alan menyengir, sedangkan Dinda hanya menatap suaminya dengan tatapan sinis, khawatir sang ibu kebingungan saat mengerjakannya.


Salma tak kalah heran, sekian lama baru kali ini ukuran tangan sepanjang ukuran kaki, lebar bahu terasa sempit amat, dan lingkar perut kayak ukuran orang hamil sembilan bulan.


Akhirnya garuk garuk kepala menjadi kesempurnaan rasa tak enaknya sekaligus di depan mertuanya.


''Aku minta maaf, bu.'' Rasa bersalah muncul, beda dengan rasa jeles saat di depan Sulton, kini Alan menyadari dengan kemarahan Dinda.


''Makan tu maaf,'' ucap Dinda meninggalkan Alan yang masih di ambang ketakutan karena kesalahannya yang menurutnya sangat besar.


''Tidak apa apa, lain kali harus profesional, pekerjaan dan masalah pribadi tidak boleh di sangkut pautkan. Ibu masih punya kok catatan ukuran baju Sulton yang kemarin, semoga aja badannya masih sama.'' tutur Bu Tatik menepuk lengan menantunya.


''Tapi kak Alan tetap harus tanggung jawab, Bu.'' teriak Dinda dari arah mesin jahit karena saat ini wanita itu kembali melakukan aktivitasnya.

__ADS_1


''Oke sayang, aku akan tanggung jawab, tapi jangan menyudutkanku terus dong, aku kan sudah minta maaf.'' Kini pria itu duduk di samping Dinda yang masih belum mau tersenyum padanya, bahkan wajahnya relatif marah saat ibunya dengan mudah memaafkan kesalahan Alan.


Tak menjawab, Dinda kembali menyalakan mesinnya.


Raganya duduk di samping Dinda, namun otaknya berkelana mencari cara untuk menaklukkan kemarahan istrinya.


''Kalau kamu masih marah, aku pulang ya, karena aku nggak bisa lihat kemarahan kamu.'' ucapnya mengelus pucuk kepala Dinda.


Bilang saja kalau kamu kangen sama istri tua kamu, pakai alasan lain segala.


''Pulang saja, sekalian nggak usah balik.'' ucap Dinda terbata tanpa menghentikan suaminya.


Alan beranjak dari duduk nya, dengan langkah pelan pria itu menghampiri pintu rumahnya setelah pamit dengan keluarganya.


Itu artinya kamu memang belum serius sama aku kak. Buktinya kamu nggak tahan dengan sikap aku yang seperti ini, jika itu memang pilihan kamu, aku tidak perlu ikut kamu pulang, karena aku masih takut kecewa dengan kamu yang lebih mementingkan istri pertama kamu dari pada aku.


Suara mesin mobil terdengar menjauh, itu artinya Alan memang sudah pergi dari rumahnya, seketika Dinda membuka jendela yang langsung mengarah ke halaman, benar, mobil Alan sudah tak nampak di sana.


Wanita itu menyeka air matanya yang sempat lolos di pipi.


''Nggak apa apa Bu, kelilipan saja.'' Jawab Dinda.


Namun sebagai seorang Ibu perasaan Bu Tatik tak pernah salah. ''Kamu sedih karena nak Alan pergi?'' tanya Bu Tatik menggenggam tangan Dinda.


''Jangan terlalu kebawa emosi, dia melakukan itu semua karena dia cemburu sama Sulton, jadi kamu harus peka dengan sikap suami kamu saat di depan laki laki lain.'' Ucap Bu Tatik yang saat ini masih di depannya.


''Tapi kak Alan nggak harus pergi kan, Bu, setidaknya dia sabar menunggu dan lebih berjuang keras lagi untuk mendapat maafku, tapi apa, dia langsung saja meninggalkan aku, itu artinya dia memang belum sepenuhnya memilih aku.'' Ucap Dinda, kali ini menahan air matanya yang hampir luruh. Karena Dinda tak mau lagi di anggap lemah dan berharap pada laki laki yang tidak mencintainya.


Setelah meluapkan uneg unegnya, Dinda berlari menuju kamarnya, tak peduli dengan yang lain karena hatinya terlalu sakit saat Alan meninggalkan rumahnya.


Mau sampai kapan kakak memberi harapan ke aku, jika memang aku tidak berarti bagi kakak, jangan mengucap janji palsu, sudah cukup apa yang kakak lakukan selama ini, dan sekarang aku nggak mau masuk ke dalam kehidupan kamu.


Tanpa sadar Dinda kembali teringat masa sembilan bulan yang penuh dengan penderitaan, wanita itu mengambil baju kotor yang ada di keranjang lalu membawanya keluar.


''Mau ke mana?'' tanya Salma saat Dinda melewatinya.

__ADS_1


''Mau nyuci, ngilangin galau,'' jawabnya malas.


Baru juga menaruh baju di bak, suara mobil berhenti di depan rumah menembus gendang telinganya.


Dinda langsung saja mengulas senyum dan meninggalkan tempatnya. Berlari kecil menghampiri pintu depan.


Namun senyum itu kembali meredup saat melihat mobil yang berbeda, namun tetap pria yang baru saja turun mengobati rasa bahagianya karena sosok suaminya yang menyebalkan.


''Dokter, seru Dinda menghampiri pria yang memakai jas putih itu mematung di samping mobil.


''Kamu sehat?'' suara khas yang menemaninya selama di Paris membuat Dinda kembali tersenyum renyah.


Dinda mengangguk setelah mencium punggung tangan pria itu. Keduanya berjalan bersejajar memasuki pintu depan.


Tak ada yang aneh dengan datangnya Dokter Tono, namun tawa Faisal seakan di persembahkan untuk Dokter Tono yang saat ini duduk di ruang tamu.


Ganti baju di mana dia, cepet banget, atau jangan jangan dia punya ilmu malih rupa.


Semua menyambut kedatangan Dokter yang sangat berjasa itu kecuali Faisal yang sibuk dengan aktivitasnya memotong kain.


Abang sialan bukan? yang cuek pada adik iparnya sekaligus mantan bosnya.


''Dok, ada yang lagi galau.'' Ucap Faisal meninggikan suaranya, karena pria itu masih sibuk memotong bagian lengan takut nanti salah jika di tinggal.


''Siapa, pak?'' tanya Dokter Tono.


Faisal hanya menyungutkan kepalanya ke arah sang adik yang saat ini hanya diam dan menautkan kedua tangannya.


''Memangnya kamu kenapa?'' tanya Dokter Tono.


''Aku hanya sebel sama kak Alan, aku pikir dia benar benar mencintaiku, tapi itu semua bohong, dia lebih memilih istri pertamanya dari pada Aku,'' ucapnya merengut.


Tak terima, itulah Dokter Tono saat ini, bagaimana bisa istrinya menuduhnya seperti itu di depannya, meskipun saat ini Alan menjadi orang lain, setidaknya hatinya tetap sama dan satu, yaitu ALAN.


''Jangan bilang begitu, mungkin saja dia ada urusan penting, dia kan CEO, jadi kesibukannya itu ekstra, nggak mungkinlah dia plin plan dengan ucapannya sendiri, percaya deh sama aku, aku jamin dia akan datang lagi.'' ucap dokter Tono meyakinkan dan menenangkan Dinda.

__ADS_1


Kok Dokter Tono belain Kak Alan, bukankah selama ini dia nggak kenal sama suami aku, dan Dokter Tono juga sering mengatakan kalau aku harus melupakan dia, tapi kenapa sekarang malah menyuruhku untuk ngerti.


__ADS_2