Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Batal


__ADS_3

Hanya bisa bertatap muka tanpa menyentuh, hanya bisa berkata tanpa memeluk, itulah yang di rasakan Dinda saat ini, namun setidaknya VC dengan kedua orang tuanya yang berada di sebrang sana bisa mengobati rindunya yang bersemayam di dalam dada, Bahkan sesekali Dinda menitihkan air mata menatap wajah yang sudah makin sepuh tersebut, meski begitu tak kurang akal untuk tetap membuat kedua orang tuanya bahagia, jarak bukan halangan untuk memberi hiburan, namun waktu yang akan menjawab akan takdir mereka.


Bu Tatik pun tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun untuk Dinda, bukannya lupa, tapi memang Bu Tatik pun berpikiran sama seperti Faisal, Alan suaminya pasti sudah merayakan ulang tahun Dinda lebih mewah dari pada sebelumnya.


''Suami kamu mana?'' bahkan dengan semangat Dinda menggeser benda pipihnya ke arah Alan yang ada di paling belakang.


Dengan malu malu pria itu pun tersenyum menyapa kedua mertuanya, meski sedikit canggung, Alan sebisa mungkin memasang wajah serinya dan merangkul pundak Dinda.


''Kapan kalian main ke sini, Ibu dan bapak kangen?'' ucap dari seberang sana, Dinda tak menjawab malah menoleh menatap wajah Alan.


Alan balas menatap karena ia pun tak tau harus jawab apa.


Akhirnya Bu Yanti menggeser ponsel hingga mengarah pada nya.


''Tiga bulan lagi bu, kami yang akan menjemput ibu untuk ke kota karena Dinda dan Alan belum bisa ke sana,'' ucap Bu Yanti lembut.


''Iya, nggak apa apa, sehat ya di sana,'' ucapan perpisahan terakhir untuk Dinda sebelum sambungan terputus.


Dinda kembali menitihkan air mata meskipun suaminya belum bisa mencintainya setidaknya masih banyak orang di sekelilingnya yang masih menyanyanginya.


''Al, suara Bu Yanti membuyarkan suasana hening.


''Iya ma, Alan menatap lekat wajah Bu Yanti, begitu pun dengan yang lain.


''Kamu sudah kasih kado apa untuk Dinda?'' tegasnya karena dari tadi Bu Yanti tak melihat Alan sekedar menawari kado untuk istrinya.


Aku jawab apa, aku kan nggak tau kalau hari ini ulang tahun Dinda juga, dan kemarin aku cuma beli mobil satu doang, itu pun sudah aku kasih Syntia.


Alan menggeleng pelan.


''Terserah Dinda, maunya apa, aku kan belum tau kesukaan dia,'' jawabnya.


''Apakah kakak akan benar benar mengabulkan permintaanku hari ini?'' Dinda memastikan kalau di hari ulang tahunnya ia tidak akan kecewa.


Terpaksa Alan mengangguk karena tak ada pilihan lain selain itu, entah apa yang di minta Alan tak tau, tapi setidaknya sekali kali ia menuruti permintaan Dinda.


Dinda menghela nafas panjang. ''Hari ini aku ingin jalan jalan di temani kakak, aku ingin melihat pemandangan luar bertiga dengan anak kita.'' ucap Dinda mengiba.


Faisal tersenyum, itu permintaan yang begitu ringan untuk Alan, menurutnya, dan Faisal tau bukan barang mewah yang di minta, namun kenangan dalam kesederhanaan yang manis yang di harapkan.

__ADS_1


Alan menatap Faisal yang mengangguk kecil, itu artinya kakak iparnya sanggup untuk menghandle pekerjaannya hari ini.


''Baiklah, kita akan jalan jalan, sekarang kamu siap siap, kemanapun yang kamu inginkan akan aku turuti.''


Dengan senang hati Dinda memeluk abang dan kedua mertuanya, seperti mendapat kado yang begitu istimewa Dinda mengartikanya.


''Kalau gitu kami permisi ya Din,'' mencium kening Dinda dan berlalu, begitu juga dengan Faisal dan Amel yang ikut pergi untuk menjalani aktivitasnya.


Dengan semangat Dinda kembali ke kamarnya untuk bersiap seperti perintah suaminya, begitu juga dengan laki laki itu, setelah mengantar kedua orang tuanya dan Faisal, Ia pun langsung ke kamarnya.


Tidak apalah sekali kali membuatnya senang.


Setelah sampai di kamarnya, Alan masih mendapati Syntia yang masih meringkuk di balik selimut, mungkin karena begadang membuat wanita itu tenggelam dalam mimpinya, dengan cekatan Alan ke kamar mandi.


Alan mengguyur tubuhnya dengan air shower, otaknya kini mulai meraba raba tentang kepribadian Dinda yang begitu lugu.


Kenapa dengan Dinda, Dia kan bisa minta barang mewah, kenapa hanya jalan jalan, sebenarnya apa maksudnya, Alan hanya bisa bertanya dalam hati.


Selang beberapa menit berlalu, Alan keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya lebih segar, kali ini Ia menilik Syntia sudah menatap layar ponselnya dengan posisi sandaran dipinggiran ranjang.


''Kamu sudah bangun,'' Alan yang pertama menyapa.


''Kan balasannya dari hadiahmu, Alan mematung di depan cermin sembari mengeringkan rambutnya.


''Iya, kalau kamu senang aku juga senang,'' memeluk tubuh Alan dari belakang.


''Syn, panggilnya menggengam tangan Syntia yang masih melekat di dada bidangnya.


''Hari ini Dinda juga ulang tahun, dan dia minta aku menemaninya untuk jalan jalan, kamu di rumah nggak apa apa kan?''


Syntia mengendurkan pelukannya.


Apa, jadi wanita itu juga ulang tahun, dan dia meminta mas Alan untuk menemaninya jalan, itu artinya seharian ini mas Alan akan terus bersamanya dan meninggalkan aku, batin Syntia kesal.


''Syn, panggil Alan lagi setelah Syntia tak bersuara.


Aku harus cari alasan supaya mas Alan tidak keluar dengannya, tapi apa ya?


Masih mikir mikir alasan yang tepat untuk menghalangi Alan supaya tidak berduaan dengan Dinda.

__ADS_1


''Nggak apa apa.'' jawabnya kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


Syntia mengelus tengkuk lehernya dan sesekali memijat pangkal hidungnya hingga pelipisnya.


''Kamu kenapa?'' tanya nya menempelkan punggung tangannya di kening Syntia yang terlihat gusar.


''Kayaknya ku nggak enak badan deh mas.'' sedikit merengek dan terus menggenggam tangan Alan.


''Apa ini gara gara semalam?'' mengingat kejadian yang membuatnya bersemangat hingga tak memberi kesempatan Syntia untuk memejamkan mata sedetik pun.


''Mungkin, kepalaku sakit banget,'' jawabnya lagi, masih dengan nada mengiba dan terus memegang tangan Alan.


''Apa kita periksa saja, dari pada nanti kamu kenapa napa?'' ucap Alan mulai khawatir, tak biasanya Syntia manja saat di sampingnya.


Aku kan nggak kenapa napa, ngapain di periksa, gerutunya.


''Nggak usah sih mas, aku hanya ingin kamu menemaniku hari ini,'' ucapnya lagi mengharapkan kedua tangannya.


Gimana ini, aku kan sudah janji sama Dinda untuk mengajaknya jalan, tapi bagaimana dengan Syntia, dia kan lagi sakit dan butuh aku.


''Baiklah, aku akan bilang sama Dinda kalau kamu sakit, dan aku akan menemaninya lain waktu.''


Memang itu yang aku mau, kamu membatalkan janjimu.


Bergegas Alan keluar dari kamarnya, baru juga membuka pintu, Dinda sudah mematung di depan kamarnya dengan baju yang sudah rapi dan cantik.


Ternyata dia sudah siap, batin Alan, sedikit merasa nggak enak.


Biar bagaimana pun Syntia yang sakit itu lebih penting dan butuh dirinya.


''Din, sapanya mendekati Dinda.


Dinda tersenyum. ''Kakak kok belum siap?'' tanya Dinda antusias, karena Ia menunggu cukup lama.


''Maaf, aku nggak bisa menemani kamu hari ini, Syntia sakit, kamu nggak apa apa kan kita jalannya lain waktu?'' menggenggam tangan Dinda dengan erat.


Dinda yang sedari tadi menampakkan wajah cerah dan berseri, kini berubah drastis, menjadi redup dan tak bergairah.


''Nggak apa apa, Mbak Syntia lebih penting dari pada aku,'' cibirnya dengan nada ketus lalu kembali ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2