
Pagi yang begitu cerah se cerah hati Faisal yang terpancar sinar kebahagiaan, masih di kasur yang empuk, Faisal megerjap ngerjapkan matanya, tak menyangka ide konyol dari adik iparnya berhasil, bahkan Faisal sudah sukses membuat Amel tak mengkonsumsi pil penunda kehamilan lagi, dengan rayuan gombalannya yang di ajarkan Alan dan Daka, kini Faisal tertular virus somplak mereka berdua.
''Semoga adik Elfas cepat bersemayam di sini.'' Mengelus perut rata Amel.
Faisal segera beranjak teringat kalau pagi ini memang ada rapat penting, dan Faisal juga sudah tak sabar ingin bertemu Alan untuk mengucapkan terima kasih atas keberhasilannya semalam.
Baru juga memutar knop, Alan mengalihkan pandangannya ke arah benda pipihnya yang berdering, terpaksa Faisal mengambil ponselnya.
Alan.
Dengan cepat Faisal mengangkat panggilan dari saudara iparnya.
Abang, puas semalam sudah menjadi pengantin baru, sedangkan aku harus berjaga semalaman karena anak anak tak bisa tidur, sekarang cepat abang ke kantor, pimpin rapat! anggap saja ini balasan karena abang sudah membuatku kesal. cetus dari seberang sana.
Karena tak hanya kehadiran Fana yang membubarkan tujuannya, namun juga Elfan dan Tama yang menyusul ke kamar Alan yang membuat sang empu gedeg dengan Faisal.
Seperti tak punya salah, Faisal tertawa lepas tak merasa bersalah sedikitpun sudah menggagalkan malam adiknya.
''Iya, ini aku mau jemput dia, tenang, nanti malam tidak akan ada adegan seperti itu lagi.'' Jawabnya.
Tanpa aba aba, Alan langsung menutup sambungannya.
Mendengar suara Faisal, Amel ikut membuka mata, tubuhnya terasa remuk setelah pergulatan semalam yang tiada hentinya.
''Siapa mas?'' suara serak menyapa.
Setelah meletakkan ponselnya, Faisal kembali mendekati wajah yang baru terbangun dari mimpinya.
''Alan, tadi telepon, aku mau mandi dulu dan jemput Elfas, kalau kamu nggak ada kerjaan tidur saja.'' Pintanya.
Setelah tubuh Faisal menghilang bersamaan pintu yang tertutup, Amel pun meraih ponsel miliknya, tak hanya Alan, ternyata Dinda juga mengirim pesan untuknya.
Mbak Amel aku minta maaf yang sebesar besarnya, mulai hari ini aku mengundurkan diri, aku nggak mau kak Alan dan anak anak terabaikan, urusan butik aku serahkan sama Mbak, dan urusan fhasion sepenuhnya aku mundur.
Setelah membaca pesan dari Dinda, Amel menghela nafas dan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
Apa mas Faisal juga merasa terabaikan selama ini, tapi aku lihat dia baik baik saja dengan kerjaanku, bahkan selama ini dia tak pernah protes kapanpun aku pergi, aku harus cari tau.
Amel menyibak selimutnya dan beranjak, setelah Faisal keluar, Amel langsung ke kamar mandi.
Pasti dia telat lagi, terka Faisal dalam hati saat melihat Amel terlihat buru buru.
__ADS_1
Seperti biasa Faisal membuka lemari bajunya setelah mengeringkan rambutnya.
"Tunggu!" Namun tiba tiba tangan Faisal berhenti saat mendengar suara dari depan kamar mandi, padahal Amel hanya memakai handuk.
Dengan langkah lebarnya Amel menghampiri Faisal yang masih mematung, Amel meraih baju yang menggantung serta celana dan jas milik suaminya.
Tumben, biasanya juga nggak pernah nyiapin, apa semalam dia baru dapat hidayah saat tidur.
"Mas." Ucapnya dengan manja membantu Faisal ganti baju.
Pria itu membisu, namun tatapannya menegaskan kalau Amel harus melanjutkan ucapannya.
"Kok Dinda berhenti kerja ya, apa Alan melarangnya?" tanya nya tanpa basa basi.
Faisal tersenyum. "Tidak, Dinda memang seperti itu, paling dia merasa nggak enak saja dan suaminya, dan aku yakin berhentinya Dinda bukan karena Alan, tapi karena dirinya sendiri yang merasa akan tugas seorang istri."
Ucapan Faisal seolah olah sindiran untuk Amel, namun wanita itu tak bisa berbuat apa apa karena kenyataannya memang begitu.
Semoga kamu juga sadar kalau aku dan Elfan juga penting di banding karir kamu.
"Mas." Masih dengan handuk yang melilit, Amel mendekati Faisal dan memasangkan dasinya.
"Apa lagi, pagi pagi jangan menggodaku, Alan sudah kayak kebakaran jenggot karena Elfas dan anak anak mengganggunya malam tadi." jelasnya meraih pinggang Amel ke dalam dekapannya.
Aku yakin ini pasti memang dapat hidayah, tumben banget mesra di pagi pagi gini, biasanya juga sudah berangkat duluan. batinnya melirik ke arah wajah Amel yang terlihat manja.
"I Love You to..." membalas ciuman Amel dengan lembut.
Sedangkan di sisi lain kebahagiaan itupun makin terasa saat Alan melihat Dinda yang bergulat dengan peralatan dapur, wanita itu benar benar menepati ucapannya semalam yang akan menjadi istri yang baik. Dan kini ia pun berperan sebagai suami yang perhatian pula yang harus rela mengurus anak anak saat bangun.
Setelah puas melihat kesibukan istrinya, Alan kembali ke kamar, baginya ini hari santainya setelah menyerahkan kerjaannya pada Faisal.
"Papa, mama mana?" Tanya Fana saat pertama kali membuka mata, raut wajahnya sudah terlihat kecewa karena pertanyaan itu biasanya di jawab dengan kata, "Sudah berangkat".
"Mama ada di dapur," gadis cilik itu menganga, tak menyangka kalau jawaban dari sang papa membuat hatinya gembira.
"Beneran, pa?" masih tak percaya dengan ucapan Alan.
Sedangkan Tama dan Elfas yang sedang rebutan mainan ikut mendekati Alan yang ada di atas ranjang.
"Papa nggak bohong kan?" tanya Tama menggoyang goyangkan lengan papanya.
__ADS_1
Alan menggeleng tanpa suara.
Seketika ketiga bocah itu keluar, tak peduli dengan suara Alan yang berteriak memanggilnya.
Ternyata mereka sama sepertiku, aku juga merasa kalau pagi ini adalah pagi yang paling indah, bisa melihat istriku di rumah.
Alan beranjak dari ranjangnya lalu keluar menghampiri istrinya yang kini di kerumuni anak anaknya yang minta gendong.
"Mama nggak akan kerja kan, mama tetap di rumah sama aku dan abang kan?" tanya Fana yang ada di gendongan Dinda.
"Mama akan di rumah bersama dengan kalian," ucapnya berjongkok memeluk Elfan dan juga Tama.
"Hore..."
Tama dan Fana langsung berlonjak kegirangan, menurutnya itu adalah hadiah istimewa dari Dinda. Kecuali Elfan yang masih nampak sedih.
"Loh, Abang Elfan kok cemberut, kenapa, kangen mama ya?" tanya Dinda memeluk tubuh mungil yang mematung di depannya.
Elfan menggeleng dan menunduk.
"Terus kenapa, lapar?" tanya Alan ikut berjongkok.
Bocah itu menggeleng lagi.
"Aku juga ingin seperti Dedek Fana dan dede Tama, om dan tante bisa nggak bilang ke mama, kalau aku juga butuh teman seperti mereka," menunjuk Fana dan Tama yang berlarian.
Alan dan Dinda saling pandang memikirkan jawaban apa yang harus di luncurkan.
Kasihan Elfas, tapi apa boleh buat aku harus bicara sama abang.
Alan mengelus kepala Elfas dengan lembut.
"Nanti om akan bilang ke mama, sekarang tersenyum dong!"
Menarik kedua sudut bibir Elfan hingga terlihat gigi putihnya.
"Nggak usah di bilangin, karena mulai hari mama juga akan menemani Elfas setiap waktu seperti tante Dinda."
Anak laki laki itu langsung berhamburan memeluk kedua lutut Amel yang sudah mematung di belakangnya.
Dinda tersenyum, ternyata kebersamaan itu lebih indah dari segala galanya dan itu terbukti dari wajah anak anak yang lebih ceria dengan keputusannya.
__ADS_1
Faisal ikut memeluk putra semata wayangnya yang akan memiliki kasih sayang Amel sepenuhnya.
"Tapi abang jangan lupa, sebagai hukumannya semalam, hari ini abang harus selesaikan pekerjaanku." Alan mengingatkan kalau Faisal masih punya tanggung jawab atas ulahnya yang sudah menitipkan Elfas.