
Dinda menitihkan air matanya saat menatap Dokter Daka yang datang membawa sekantong kresek es krim di tangannya, tak menyangka dokter Daka orang yang baru di kenalnya itu baik padanya, bahkan Dokter Daka sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Dan itu tidak pernah di lakukan suaminya.
''Terima kasih.'' ucapnya saat Dokter Daka menyodorkan es krim berbagai varian rasa dan bentuk padanya, Karena dokter Daka tak hanya membelikan es krim dalam cup, namun juga es krim stik, siapa tau Dinda suka, itu menurutnya.
''Sama sama, sekarang di makan ya, aku mau balik lagi ke rumah sakit.'' menatap jam yang melingkar di tangannya.
Dinda mengangguk, namun pandangannya sudah teralihkan ke arah Es krim yang saat ini sibuk di bukanya, sepertinya Dinda sudah tak sabar untuk segera melahapnya.
Dokter Daka yang sudah berada di ambang pintu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alan yang ada di ruang keluarga.
Bagiamana pun juga kamu adalah sahabat terbaikku, aku tidak mau kamu menyesal nantinya karena sudah menyia nyiakan gadis sebaik Dinda, dan aku akan segera cari bukti kalau Syntia sudah main serong di belakang kamu.
Dokter Daka menaruh tas di meja depan lalu kembali menghampiri Alan yang terlihat bengong.
"Al, aku mau bicara sebentar!" wajahnya serius.
Alan tersenyum, ternyata sahabatnya itu masih sudi bicara dengannya.
"Apa?" tanya Alan menyunggar rambutnya, sedikit lega karena Dokter Daka tak benar benar cuwek padanya.
"Besok bawa Dinda ke rumah sakit, dia perlu USG lagi, kamu dan Faisal adalah sahabatku, Aku tidak mau diantara kita ada permusuhan, jadi bagaimanapun nantinya hubungan kamu dan Dinda, aku mohon sayangi dia untuk saat ini, jika kamu tidak mencintainya, anggap saja dia adik dari sahabat kamu." ucap Dokter Daka.
"Dia butuh penyemangat, mengandung bukanlah hal yang mudah, apa lagi umur Dinda masih sangat muda, jadi mulai sekarang berilah kenangan yang indah sebelum kalian berpisah, Aku lihat dia terlalu tertekan dengan keadaannya, dan itu akan mempengaruhi janin dan juga proses melahirkan." ucap dokter Daka menepuk lengan Alan.
"Ingat baik baik, kamu akan makin menyesal jika kamu sudah merasakan kehilangan, dan jangan pernah sia siakan orang yang mencintaimu, karena kamu akan tau betapa berartinya dia di saat dia pergi dari kamu, Dinda wanita yang baik, dia pantas untuk di perjuangkan, bukan di abaikan."
Tak perlu menunggu jawaban, karena pastinya Alan akan mencerna lebih dulu ucapan sahabatnya tersebut, Dokter Daka langsung meninggalkan Alan.
Alan menoleh menatap Dinda yang sedang menikmati es krimnya di ruang makan, ia melihatnya memang tak baik baik saja, kayaknya Dinda sedikit lemah, benar kata Dokter Daka kalau hamil bukanlah hal yang mudah, apa lagi saat Dinda mau bangun, pasti wanita itu kesusahan, dan selama ini Alan benar benar tak pernah mempedulikan itu semua, baginya Dinda adalah benalu yang menggaggu rumah tangganya dengan Syntia, itulah yang membuatnya benci dengan wanita itu.
Apa selama ini sikapku keterlaluan sama dia, apa kata Daka itu benar kalau aku harus memberi kenangan yang indah sebelum perceraian.
Alan menghampiri Dinda lalu tersenyum.
__ADS_1
"Enak?" tanya Alan mengambil tisu dan mengelap bibir Dinda yang belepotan.
Dinda terpaku dengan sikap lembut Alan padanya, tak pernah terlintas di otaknya dia akan menyaksikan kelembutan pria yang sudah menyakitinya berbulan bulan.
Akhirnya ia hanya mengangguk.
"Kenapa tadi nggak bilang kalau kamu mau es krim, aku kan juga tau kedainya, bukankah aku ini suami kamu, kenapa harus minta Dokter Daka?" ucap Alan membantu membukakan cup yang ketiga.
Kenapa di saat aku sudah menutup pintu hatiku kamu baru bersikap baik seperti ini.
''Aku takut kecewa lagi.'' ucap Dinda meraih cup yang masih di pegang Alan.
''Kamu menyukainya?'' tanya lagi Alan hingga membuat Dinda melepas sendok yang masih ada di mulutnya.
Ini beneran kan Kak Alan, kenapa dia baik padaku, kesambet dari mana.
Dinda kembali mengangguk tanpa suara.
''Kata Daka besok kamu harus periksa, aku akan menemani kamu.''
Entah, yang di ucapkan Dinda itu selalu saja menyinggungnya.
''Tapi aku juga ingin tau kondisi anakku, jadi biar aku saja, Faisal mau ke kantor nyerahin surat pengunduran diri, jadi dia nggak bisa.''
Jadi Abang benar benar keluar dari Kantor Kak Alan, semoga dia cepat mendapatkan kerjaan lagi.
Tak ada jawaban lain selain mengangguk.
Kenapa Dinda seperti takut melihatku, apakah selama ini wajahku menyeramkan di matanya, apa benar dia merasa tertekan dengan sikapku selama ini, meskipun aku mencoba tersenyum dia masih saja terlihat kaku.
Setelah puas makan es krim yang di beli Daka, Dinda menguap, entah bawaan bayi atau kekenyangan, kali Ini Dinda ingin tidur, padahal juga baru jam Tujuh malam, menunggu memang menjenuhkan, kedua mertuanya itu tak kunjung tiba membuat Dinda bosan dan memilih ke kamar.
Setelah membersihkan diri, Dinda kembali menuju ranjangnya, kali ini Ia kembali merasakan sakit perut lagi, namun tak seperti tadi, kali ini lumayan ringan jadi tak membuatnya meringis dan tetap tenang.
__ADS_1
Semoga anakku baik baik saja, dia harus menjadi kebanggaan papa dan mama serta kak Alan, aku tidak boleh mengecewakan mereka.
Seperti biasa, Dinda selalu saja mengelus perutnya dan menyanyi untuk bayinya sebelum tidur, terkadang ia menyetel musik klasik dari ponselnya untuk membantu kecerdasan sang buah hati.
Pintu terbuka, Alan masuk, Dinda yang sudah menyipitkan matanya terpaksa membukanya lebar lebar.
''Maaf, kak,'' Dinda kembali terbangun saat Alan mendekatinya.
''Maaf kenapa?'' tanya Alan bingung, padahal seharian ini Alan merasa kalau Dinda tak membuat salah padanya.
''Aku sudah tidur di ranjang kakak,'' ucapnya lagi.
Alan tersenyum. ''Nggak apa apa, tidurlah, perut kamu sudah besar, nanti kalau di sofa aku takut kamu jatuh.'' pria itu menaikkan kaki Dinda yang sudah menyentuh lantai.
Akhirnya Dinda kembali membaringkan tubuhnya.
''Kenapa kakak nggak pulang?''
Alan menghela nafas, meskipun ia enggan untuk bertemu dengan Syntia, tapi Alan juga tidak mau membeberkan masalah yang di hadapi dengan istri pertamanya kepada Dinda.
''Besok kan kamu mau periksa, jadi aku tidur disini biar nggak bolak balik,'' cetusnya.
Syukurlah kalau bukan karena pertengkaran kakak kemarin.
Setelah memakai baju tidur, Alan langsung membaringkan tubuhnya di samping Dinda.
Lagi lagi Dinda yang sudah memejamkan matanya terganggu bunyi dering ponsel suaminya.
''Kenapa nggak diangkat kak, berisik,'' terpaksa Dinda mengeluarkan suaranya.
''Nggak penting,'' Alan segera mematikan ponselnya.
Ngapain dia telepon, aku akan pulang setelah aku benar benar yakin kalau kamu tidak ada hubungan apa apa dengan laki laki itu.
__ADS_1
Sedangkan Bu Yanti yang baru saja pulang tersenyum renyah saat mendapat kabar dari pembantunya tentang kebersamaan Dinda dan Alan di meja makan.
Semoga Alan bisa menerima Dinda, dan menceraikan Syntia.