Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Salah paham


__ADS_3

Tak terasa dua tahun Dinda menjalani hidupnya sebagai istri tunggal dan juga desainer, semua itu karena bantuan Amel yang memang sudah jungkir balik di dunia fashion, dan selama itu Dinda juga menggeluti sekolah dengan desainer desainer papan atas, bahkan kini Dinda menjadi wanita sosialita bersama dengan kakak iparnya, tapi semua itu tak menyurutkan dengan tugasnya sebagai seoarang istri, Dinda pun masih patuh pada sang suami, dan hanya bisa keluar rumah saat Alan di kantor.


Jenuh, itulah yang mulai di rasakan Dinda, banyak uang, mau beli apa saja bisa, namun rasa kesepian sangat mengganggu pikirannya beberapa hari ini, apa lagi jika Dinda melihat ibu ibu yang membawa bayi mungil datang ke butik atau konveksinya, pasti air matanya tak berhenti untuk tidak menetes.


''Kamu kenapa lagi sih?'' tanya Alan saat Dinda terlihat melamun di atas ranjang. Ini hari minggu, seperti yang lalu, mereka hanya menghabiskan untuk jalan jalan dan kadang seharian penuh memilih di kamar, karena Dinda pun kini punya tiga pekerja di rumah, sedangkan butik urusan Amel.


''Apa selamanya kita akan begini.'' ucapnya putus asa.


Seakan akan tidak bersyukur dengan apa yang ia punya.


Alan ikut duduk di samping Dinda hingga keduanya menatap ke depan.


''Apa kamu kesepian?'' tanya Alan, karena beberapa kali itulah yang di katakan Dinda.


Wanita itu mengangguk dan berharap Alan bisa memecahkan masalah yang menerpa.


Bagaimana ini, pasti Dinda akan merasa bersalah karena masalah anak.


"Kita jalan yuk!" mengangkat tubuh Dinda ke pangkuannya berharap wanita itu tak terpuruk lagi.


Dinda menggeleng dan membenamkan wajahnya di dada Alan.


"Kak." rengeknya.


Inilah yang di takutkan Alan, berkali kali Dinda selalu saja menangis dengan keadaannya.


"Sudahlah, sayang, jangan nangis ya. Aku mencintai kamu sampai kapanpun dan bagaimanapun, jadi kamu jangan khawatir kalau aku akan meninggalkan kamu." Ucap Alan mengelus pucuk kepala Dinda, menenangkan wanita itu untuk kembali stabil.


"Aku gendong kamu, ya."


Tanpa menunggu jawaban Alan membawa tubuh Dinda keluar kamar, tak malu jika Bi Romlah melihat karena itu memang sering di lakukan Alan, bahkan setiap hari kemesraan mereka selalu di pamerkan pada pegawainya.


"Bi." teriak Alan dengan Dinda yang masih ada di gendongan.


"Iya Den." Sahut sang Bibi seraya berlari kecil menghampiri Alan yang tergopoh gopoh dengan beratnya tubuh Dinda.


"Lihat Nih, tuan putrinya minta gendong." seketika Dinda mencubit dada Alan hingga membuat sang empu meringis kesakitan.

__ADS_1


Malu sudah menjadi makanan Dinda perihal manja, karena Alan memang memperlakukannya seperti anak kecil, umur yang terpaut tujuh tahun kini membuat Alan mengerti dengan sifat Dinda yang memang masih sangat muda dan labil.


"Bibi jangan percaya, kak Alan yang memaksaku." kilah Dinda yang gak mau di sudutkan suaminya.


Bi Romlah hanya mengangkat kedua jempolnya.


"Kak, aku pingin ke rumah abang."


Apa sih yang tidak buat Dinda, segera Alan mengangguk, tak mau membuat Dinda ngambek gegara keinginan kecil yang tak di turutinya.


Tiga puluh menit kini Alan dan Dinda sudah tiba di depan rumah Faisal, rumah baru yang di beli sebulan yang lalu itu tak kalah mewah dari rumahnya.


Kali ini Dinda ingin membuat kejutan dengan kedatangannya yang tak memberi kabar.


Dengan jalan mengendap endap Alan dan Dinda mendekati pintu utama yang sedikit terbuka.


Sssttt.... mendaratkan jarinya di bibir memberi isyarat Alan untuk tetap diam.


"Akhirnya aku hamil juga." Suara Amel dari dalam mampu mengubah wajah Dinda.


Wajah Dinda berubah kusut dan tak semangat lagi.


Dinda menoleh menatap wajah Alan yang malah tersenyum lebar lalu merangkul pundaknya.


"Kenapa, nggak jadi masuk?" tanya Alan berbisik, pura pura tidak tau dengan apa yang menyelimuti Dinda saat ini.


"Kak." Dinda kembali memeluk Alan.


"Sebentar lagi kita akan di panggil om dan tante, kamu seneng nggak punya keponakan?" tanya Alan pelan menenangkan istrinya untuk tidak terbawa suasana.


"Mas, tapi aku takut, gimana dengan Dinda, kalau kita bilang ke dia, takutnya dia minder, kalau nggak bilang, aku takut dia tersinggung." ucap Amel cemas.


Mereka memang masih belum sadar dengan kehadiran Alan dan Dinda yang masih betah mematung di samping pintu.


"Untuk sementara jangan bilang dulu ke dia, nanti kalau dia nanya kamu baru bilang." usul Faisal yang langsung di setujui sang istri.


Jedarr.... tiba tiba saja suara pintu tebuka dengan keras.

__ADS_1


Faisal dan Amel tersentak kaget saat melihat adiknya mematung di sana.


"Dinda." seru Amel dan Faisal bersamaan.


Dinda yang terisak itu menyeka air matanya, tak peduli dengan Alan yang memeluknya.


"Tega ya bang, apa maksud abang menyembunyikan kehamilan Mbak Amel dariku, apa abang takut kalau aku akan merebut anak abang. Apa abang nggak mau kalau aku ikut bahagia dengan hadirnya buah hati kalian?"


Faisal menggeleng, demi apapun bukan maksud Faisal seperti itu. Akhirnya Faisal mendekati Dinda yang masih menangis sesenggukan.


"Dek, bukan maksud abang seperti itu, tapi, _


Faisal menghentikan ucapannya saat Dinda kembali mengangkat tangannya.


"Aku tau, aku tidak bisa punya anak, tapi setidaknya abang berbagi kebahagiaan sama aku bukan menyembunyikan kabar ini."


Alan tak bisa berbuat apa apa selain memeluk istrinya, sedangkan Amel ikut mendekati Dinda.


"Din, Mbak minta maaf, bukan maksud kami ingin menyembunyikan, tapi mas Faisal takut kamu tersinggung." ucap Amel membela Faisal yang terlihat kacau melihat kondisi adiknya.


"Bang, Aku minta maaf, kayaknya aku harus bawa Dinda pulang." ucap Alan kembali membawa Dinda keluar.


Dengan hati yang tersayat Faisal mengikuti Alan sampai ke mobil.


"Al." ucapnya setelah Dinda masuk.


"Jaga adik abang, dan sampaikan maaf abang ke dia, bilang sama dia kalau abang sangat menyayanginya, dan pastikan kalau dia tidak memikirkan yang tadi. Nanti aku ke rumah kamu."


Alan mengangguk lalu kembali menancapkan gasnya.


Dalam perjalanan hanya ada hening, Dinda menatap luar jendela, sedangkan Alan fokus dengan setirnya, tak mau membuat istrinya dalam bahaya.


Namun kali ini Alan merasa aneh dengan sikap Dinda beberapa hari yang terlihat sensitif. Karena Dinda selalu saja membesarkan masalah dengan hal yang sepele, masih teringat kemarin saat Alan mengatainya dengan si gendut, Dinda langsung ngambek, bahkan seharian penuh Istrinya itu tak mau makan, dan kali ini menurutnya Faisal juga tak salah, namun Dinda menanggapinya dengan serius. Bahkan sampai marah.


Apa Dinda sedang PMS ya. batin Alan.


Namun seketika pria itu menepuk jidatnya dan menganggap dirinya sendiri bodoh.

__ADS_1


Bukankah semalam kita habis olahraga ranjang, kenapa bisa aku nggak ingat, untung saja Daka nggak dengar, bisa bisa dia menjatuhkan derajatku sebagai Ceo pikun.


Alan hanya bisa terkekeh sendiri dengan otaknya yang mulai melenceng.


__ADS_2