
Tak mudah untuk menenangkan istri mudanya saat ngambek, itulah menurut Alan, butuh waktu hampir satu jam bisa meluluhkan hati wanita itu, dan terpaksa Alan mengulur waktu rapatnya.
Untung saja jiwa profesionalnya itu sudah melekat, jadi Alan masih bisa memimpin rapat dengan sukses dan meninggalkan Dinda di ruangannya. Setelah mengakhiri semuanya, Alan segera kembali ke ruangannya, karena tak mau Dinda menunggu lama. Sebelum masuk pria itu melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata sudah hampir dua jam dan itu membuat Alan ketar ketir takut Dinda berubah lagi.
''Bella, nanti kalau ada tamu bilang kalau aku lagi sibuk dan tak mau di ganggu,'' pesannya sebelum memutar knop pintu.
Tanpa mengetuk, di bukanya pintu dengan pelan, ternyata Dinda masih berada di sofa dan sibuk dengan ponsel di tangannya serta buku dan pulpen. Itulah kerjakan Dinda sehari hari saat di konveksinya.
''Lagi ngapain?'' tanya Alan lalu duduk di samping istrinya.
Dinda kembali mengulas senyum dan menyodorkan ponsel ke arahnya. Baginya itu kabar menggembirakan untuk Alan.
Pesanan 100 seragam.
''Kamu terima?'' Tanya Alan, meletakkan gadget Dinda di atas meja. Kali ini terlihat lebih serius setelah membaca pesan entah dari siapa itu.
Dinda mengangguk, ''Memangnya kenapa?'' tanya Dinda saat menatap wajah Alan yang tiba tiba saja lesu dan mengendurkan dasi yang dari pagi mencekik lehernya.
Aku harus bilang apa lagi.
''Sayang, aku tau kamu itu suka banget sama kerjakan kamu,'' Alan menjeda ucapannya, masih memikirkan kata yang pas supaya Dinda tidak salah paham.
''Tapi untuk kali ini, aku mohon, itu seragam di batalkan dulu.'' menyungutkan ke arah sketsa yang sudah jadi di atas meja.
Seketika Dinda menoleh manatap tajam ke arah suaminya.
Tanda tanda marah sudah tiba, nih.
''Kakak, ini tu sudah profesi aku, jadi nggak bisa gitu dong, kakak saja yang bekerja setiap hari tidak aku larang, kadang kakak malah lembur, dan pulang tengah malam, masih aku izinin, kenapa hanya menerima pesanan saja harus aku tolak, ini namanya nggak adil.'' ucap Dinda nada marah.
Tu kan, serba salah. Baru berapa kata dia sudah berapa meter ngomongnya.
Alan meringsuk duduknya lebih mendekati Dinda, meskipun wanita itu terus menggeser hingga ke tepi, Alan tetap tak mau berhenti dan terus menempelkan tubuhnya.
''Aku tau, aku hanya khawatir dengan keadaan kamu dan bayi kita,'' mengelus perut rata Dinda.
''Lagi pula, kan nanti setelah melahirkan kamu bisa menerima orderan lagi, boleh lebih banyak dari ini.'' Mencoba seampuh mungkin mengeluarkan jurus rayunya.
Karena Alan masih ingat betul bagaimana antusianya Dinda saat mendapat pesanan, hingga terkadang lupa makan dan melupakan dirinya.
__ADS_1
''Ayolah, kak!" aku cuma mau bantuin ekonomi. keluarga kita." alasan yang tidak bermutu.
Cih... ekonomi, perasaan selama ini juga aku nggak pernah ikut campur dengan kerjaan dia, pakai bawa bawa ekonomi, dia kira suaminya ini kuli bangunan apa.
Nasib Alan hanya bisa protes dalam hati.
''Satu kali nggak, tetap enggak, ingat, aku punya alasan yang kuat, sedangkan kamu pakai alasan kok tidak berbobot.''
Mendengar ucapan suaminya Dinda hanya menyengir, benar saja, ekonomi apaan, bahkan mereka tak kekurangan apapun, tapi bisa bisanya Dinda bilang begitu.
Akhirnya Dinda memilih diam, mencerna ucapan suaminya yang ada benarnya juga.
''Tapi kan sayang kak, ini aset besar lho.'' Masih kekeh dan tak mau mengalah.
Tu kan aset, apa dia kira aku ini miskin sampai dia mencari duwit sendiri.
Melihat wajah melas Dinda, Alan kembali tak tega untuk melarangnya.
''Kalau aku masih nggak izin gimana?'' begitu juga dengan Alan yang masih dengan pendiriannya, karena kali ini bukan hanya istri, namun dua anak yang masih di dalam kandungan yang harus di jaganya.
Dinda mendengus dan beranjak menuju kamar pribadi Alan dan memilih untuk membaringkan tubuhnya, masih mikir mikir langkah apa yang akan di ambilnya.
Setelah menatap istrinya yang sudah tenang, Alan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Baru juga beberapa menit Alan fokus di depan laptop, wanita dari balik kamar memanggilnya.
''Iya, apa lagi?'' tanya Alan menghampiri tubuh Dinda yang sepertinya sudah posisi wenak.
''Pinjam ponsel.'' Menengadahkan tangannya di depan alan.
Ckckck.... Aku kira mau itu disini,'' godanya dengan senyum menyeringai.
Dinda segera menepuk lengan kekar Alan, yang berbicara semaunya sendiri.
''Itu maunya kakak, bukan aku.''
"Kita coba, yuk!" Godanya lagi, siapa tau Dinda termakan bujukannya.
"Kakak...." suara dan tatapannya menegaskan menolak, bukan apa apa, Dinda hanya nggak enak melakukannya di kantor.
__ADS_1
Setelah memberikan ponselnya, Alan keluar dan melanjutkan aktivitasnya.
Dinda mengernyit saat ada chat yang masuk dengan nomor yang tak ada namanya. Namun Dinda bisa melihat dari profilnya yaitu mantan istri Alan.
Kenapa Mbak Syntia kirim Chat ke kak Alan, apa mereka masih saling suka dan mereka menyembunyikannya di belakangku.
Meski merasa menjanggal, Dinda menepis jauh jauh rasa itu dan percaya kalau dia adalah satu satunya wanita yang kini ada di hati Alan.
Saking penasaran, Akhirnya Dinda membukanya lalu tertawa yang membuat Alan kembali menghampirinya.
''Ada apa sih? kelihatannya ada yang lucu.'' tanya Alan ikut berbaring dan menatap layar ponselnya.
Ternyata kejadian di restoran waktu itu yang benar benar ditanggapi Syntia dengan begitu serius.
''Lucu banget, kapan aku bisa bermesraan dengan dokter Tono lagi,'' rengeknya saat menunjukkan beberapa foto yang tertera.
Jangan bilang kalau besok ke kantor dia mau mendandaniku dengan wajah dekil itu. lirih hatinya, bahkan jantung Alan berdegup dengan kencang, bagaimana jika itu terjadi, mau di bilang apa nanti sama karyawannya.
''Kan dokter Tononya ada di sini.'' memiringkan tubuhnya dan mencium kening Dinda.
''Maksud Aku, _ ucapan Dinda terpotong saat Alan merapikan rambut yang menutupi jidatnya.
''Sudah sore, kita pulang.'' berusaha melupakan apa yang akan di katakan Dinda.
Akhirnya wanita itu mengangguk dan bangun.
Dasar bocah, ada aja ngidamnya, apa ini nasib punya istri muda.
Alan hanya bisa geleng geleng dan mengikuti langkah istrinya.
''Oh... iya aku lupa.'' Dinda kembali memutar tubuhnya saat di ambang pintu dan menatap wajah Alan dengan lekat.
Lupa apa lagi, lama lama kalau kayak gini aku bisa punya penyakit jantung.
''Aku batalin deh seragamnya, dan aku mau fokus sama si dedek kembar.''
Alan mengelus dadanya bernafas dengan lega saat mendengar suara istrinya.
Alan, sekarang otakmu itu harus melebihi cerdiknya si kancil, karena bukan hanya kerjakan yang kamu urus tapi ibu hamil yang super bawel di depanmu ini. Ucapan dalam hati.
__ADS_1