
Kedatangan Daka tak hanya mengubah rumah pak Yanto menjadi panggung pelawak, namun juga menguatkan Faisal untuk tidak bersedih karena kabar Amel yang akan menikah, pria yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu selalu menampilakan ke humorisannya saat berkumpul, dan terus membuat Salma yang pendiam itu menjadi sering bergelak tawa gara gara tingkah konyolnya. Tak hanya itu, Daka juga terlihat makin dekat dengan gadis tang selalu saja terlihat serius, itu terbukti saat Salma mulai terbiasa untuk meminta bantuan pada Daka meskipun perihal kecil sekalipun.
Suasana yang begitu damai, kebersamaan dalam kesederhanaan itu membuat Dinda terus mengulas senyum lupa akan kegusaran masalah rahim yang terkadang meliputinya, apa lagi saat Dinda berdua dengan Alan, pasti wanita itu masih memikirkan dirinya yang tak bisa mempunyai anak.
''Jam berapa besok kita berangkat?'' tanya Daka, karena pria itu pun berniat untuk menginap semalam, karena sudah ambil cuti dari rumah sakit.
''Pagi, takutnya kita sampai kesiangan, jam sembilan kan akad nikah Amel.'' jawab Faisal santai.
Meskipun hatinya masih belum menerima setidaknya Faisal tetap menjadi pria sejati yang harus menghadapi kenyataan, bukan menghindari.
Daka menepuk bahu Faisal meyakinkan kalau pria itu bisa melewatinya dengan tegar.
''Tenang, kamu nggak sendirian, biar aku nggak di ejek sama adik ipar kamu terus.'' cetusnya mengambil pisang goreng yang tinggal dua biji.
''Maksudnya?'' Alan memastikan.
''Ya, Biar aku dan Faisal sama sama jomblo lah, biar kalian nggak seenak jidatnya ngatain aku bujang lapuk lagi.'' kini Daka merasa menang akhirnya Faisal berstatus seperti dirinya.
''Itu maunya kamu, aku berharap besok yang akad nikah Abang, makan tu jomblo dan bujang lapuk,'' ejek Alan seketika, karena pria itu masih punya sejuta cara untuk mempersatukan Faisal dan Amel.
''Kakak,'' suara dari kejauhan menghentikan Alan yang hampir melanjutkan ejekannya, takut jika ujung ujungnya berdebat.
''Bu, Apa Ibu nggak kasihan calon mantu ibu di bilang bujang lapuk.'' ucap Daka merengek bagaikan anak kecil yang mengadu saat mainannya direbut.
Bi Tatik hanya tersenyum melihat kelakuan tiga pria tampan yang mirip bocah SD itu.
''Kan bentar lagi nggak jomblo.'' Melirik ke arah Salma yang berkutat dengan makanan yang di buatnya bersama Dinda.
''Maksud Ibu?'' tanya Daka serius, kali ini pria itu meminta kepastian pada sang Ibu, meskipun belum sepenuhnya serius mengatakan keinginannya untuk melamar Salma.
''Taraaammm..... Suara Dinda menghentikan mulut Daka yang sudah mangap kayak ikan mujair saat di darat.
''Siapa yang mau ini?'' meletakkan buah buahan yang sudah di iris serta bumbu yang khas dengan gula jawa di depan tiga sekawan itu.
Sedangkan Salma yang membawa air minum di belakang Dinda.
__ADS_1
''Apa ini?'' tanya Alan yang tak tau menau makanan yang di buat istrinya. Dengan sengaja pria itu mengambil satu buah irisan kedondong.
''Ini namanya soto betawi.'' jawab Daka asal dan mencicipi duluan.
''Ini namanya salad jawa.'' timpal Faisal yang juga ikut mencoba makanan yang enak di makan saat suasana terik.
Alan mengernyit, meskipun ia belum tau setidaknya Alan juga nggak bodoh amat, masa iya Soto berbahan buah buahan, kalau salad masuk akal juga namun Alan pun baru mendengar kalau ada salad jawa.
''Kakak mau?'' tawar Dinda menyodorkan irisan mangga muda yang sudah di cocol bumbu kacang di depan Alan.
Tak menjawab Alan langsung membuka mulut, baru juga beberapa kunyahan, Alan mengerutkan alis menahan rasa asam yang memenuhi lidahnya.
Sontak pria itu memeluk Dinda yang duduk di sampingnya.
''Ini apaan sih, asam banget,'' saking tak betahnya Alan meneguk segelas air, berharap rasa kecut yang mendominasi manis pedas bisa hilang dari indra perasanya.
Dinda dan yang lain hanya bisa tertawa melihat tingkah anak mama tersebut.
''Aku juga mau dong di suapi.'' seraya membuka mulutnya ke arah gadis di samping Faisal.
Kok nggak asam sih, buah apa ini.
Meskipun tak merasakan asam, Daka pun memejamkan matanya dan merentangkan tangannya ke arah Salma, seperti yang di lakukan Alan. Berharap dapat pelukan hangat dari gadis yang mungkin akan menjadi pendamping hidupnya.
Eitttss.... Bukan Salma yang di dapat melainkan Faisal yang memeluknya.
Seketika Daka mengendurkan pelukannya setelah tau siapa yang ada di pelukannya yang membuat semuanya kembali bersorak.
Kebersamaan di bawah pohon mangga itu pun tak luput dari pandangan orang yang melintas. bahkan sempat sempatnya para tetangga mendekat hanya sekedar cipika cipiki dengan Daka yang terus membuat candaan.
''Mau lagi?'' goda Dinda ke arah Alan.
Seketika Alan menggeleng tak mau lagi terkena jebakan sang istri yang begitu menyukainya.
Tapi bukan Alan namanya kalau kini tak punya sifat jahil seperti Daka.
__ADS_1
''Mau, tapi dikamar,'' bisiknya yang tak dapat di dengar siapapun selain Dinda.
Seketika wajah Dinda bersemu karena bisikan setan, eh salah, bisikan suaminya tercinta.
Seharian penuh tiga sekawan itu mengisi harinya dengan hal konyol membuat canda yang tak bermakna sekalipun dan itu menumbuhkan kebahagiaan tersendiri bagi Bu Tatik dan Pak Yanto yang besok tidak akan menemukan momen itu lagi.
Malam yang begitu dingin, apa lagi angin semilir dari balik kebun membuat hawa dingin semakin semerbak, namun Dinda masih kekeh ingin menikmati bintang didepan teras rumahnya, karena ini adalah malam terakhir baginya, mungkin besok hanya polusi yang akan di nikmatinya saat di rumah sang suami.
''Belum ngantuk?'' tanya Alan memakaikan jaket di tubuh istrinya.
Dinda menggeleng lalu mendaratkan kepalanya di pundak Alan.
''Kak, kasihan bang Faisal, selama ini dia sudah jagain aku, tapi aku nggak bisa bantu dia,'' ucap Dinda pelan karena rasa bersalah itu masih tetap ada.
Alan tersenyum renyah, ''Kamu tenang saja, cinta mereka begitu kuat, dan aku yakin, Bang Faisal dan Amel bisa melewati ujian ini, kita doakan saja besok tidak akan terjadi apa apa selain pernikahan mereka.''
Dinda mengangguk lalu memeluk suaminya.
''Masuk yuk, dingin, masa iya kasur itu hanya di pakai satu kali doang.'' Godanya membalas dengan ciuman.
''Kakak.'' mencubit pinggang Alan dengan kencang hingga membuat sang empu meringis.
''Karena kamu mencubitku sesakit ini, aku nggak akan membiarkan kamu tidur malam ini.'' mengangkat tubuh Dinda dan membawanya masuk, tak peduli suara Faisal dan Daka dari ruang TV yang terus mengejeknya, yang terpenting di dalam kamar Alan akan beradu peluh bersama sang istri.
''Akhirnya mereka bahagia juga, semoga Alan mencintai Dinda dengan tulus meskipun adikku tidak bisa memberikan anak,'' ucap Faisal penuh harap.
''Jangan khawatir, Alan pria yang baik, dan aku yakin dia akan mencintai Dinda tanpa celah.'' jawab Daka sebelum keduanya kembali nonton acara komedi kesukaan mereka.
''Terus bagaimana kabar Syntia?'' tiba tiba saja Faisal ingat wanita itu.
Daka menoleh menatap wajah Faisal hingga keduanya saling pandang.
Daka menggeleng lalu keduanya tertawa keras, traveling dengan otaknya masing masing dengan nasib Syntia yang mungkin di ambang mengenaskan.
''Abang, Daka jangan berisik, gangguin Dinda lagi tidur!" ucap Alan dari pintu kamarnya dengan telanjang Dada.
__ADS_1
Seketika bantal melayang tepat di depan adik ipar yang tak tau adab. Untung saja Alan cepat tanggap jadi bantalnya nyium pintu yang sudah kembali tertutup rapat.