Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Melahirkan


__ADS_3

Dinda terus mendegus kesal saat menatap tubuh atletis yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut, bagaimana tidak, Alan sudah berhasil mengelabuhinya untuk menengok jabang bayinya siang itu, padahal Dinda sudah kekeh tidak mau, namun dengan berbagai bujuk rayuannya, Alan berhasil meruntuhkan pertahanannya.


"Jangan ngambek gitu, dedeknya saja tadi senang di tengokin papanya, masa iya mamanya marah," menoel hidung sang istri.


Yang seneng mah bukan dedeknya, tapi papanya, lihatin aja, girangnya kayak habis dapat hadiah besar.


Dinda terus menggerutu dalam hati, masih tak terima dengan perlakuan suaminya yang dengan semangatnya menjelajahinya hingga keduanya harus beradu peluh di siang bolong.


"Aku mandiin yuk." Bukan Alan yang berhenti begitu saja, ia yang berbuat ia pun yang harus bertanggung jawab untuk mengembalikan senyum Dinda.


Dinda masih saja diam tak bergeming sedikitpun masih malas untuk bangun.


Akhirnya Alan mencium kening istrinya, "Nanti airnya dingin lo, aku gendong ya." Tanpa aba aba Alan mengangkat tubuh yang beratnya tiga kali lipat itu ke kamar mandi.


"Aku mandiin sekalian nggak?" menaikkan kedua alisnya dengan cepat, masih bisa bisanya menggoda padahal Dinda masih terlihat marah.


"Sekarang kakak keluar!" Pintanya.


Terpaksa Alan menuruti kemauan istrinya supaya berhenti dari ngambeknya.


Setelah menutup pintu kamar mandi, Alan hanya bisa cekikikan semakin gemas dengan istrinya yang makin hari makin manja namun tetap ngangengin.


Baru saja Alan duduk di tepi ranjang nungguin Dinda, ponsel sang istri berdering, nama Faisal di sana.


Bang Faisal, tumben telepon siang siang apa ada yang penting.


"Sayang, abang telepon, aku angkat ya?'' teriak Alan.


''Iya,'' jawab Dinda dari dalam.


''Halo bang,'' sapa Alan.


Halo, Al, Dinda mana? tanya Faisal dari seberang sana.


''Dinda lagi mandi bang, ada apa ya kelihatannya senang banget.'' cetus Alan saat mendengar suara Faisal terdengar begitu renyah.


''Amel melahirkan, sekarang ada di rumah sakit, tolong bilang ke Dinda ya.''


Alan ikut tersenyum semringah mendengar kabar dari abang iparnya itu.


''Iya bang iya, aku bilangin, dan kami akan segera ke sana.''


Dengan antusiasnya Alan mendekati kamar mandi setelah menutup teleponnya.

__ADS_1


Alan segera membukanya, kali ini Dinda sudah selesai memakai jubah mandinya.


''Kakak," suara Dinda lemah tak seperti tadi saat marah marah.


Alan mendekati Dinda saat menampakkan wajah tak biasa istrinya.


''Kamu kenapa? masih marah masalah yang tadi?''


Dinda menggeleng, faktanya memang bukan itu yang kini meliputi hatinya.


''Kak, kok dari dari tadi aku keluar darah campur lendir ya?'' ucapnya tanpa basa basi, meskipun tak merasakan sakit perut setidaknya Alan tau apa yang di alaminya saat ini.


''Mana?'' tanya Alan penasaran menyibak jubah yang di pakai istrinya.


Dinda menunjukkan selimut yang terbawa.


Ternyata benar, Alan mendapati apa yang di katakan istrinya itu di beberapa bagian selimut.


''Apa jangan jangan kamu mau melahirkan seperti Mbak Amel?'' Tanya Alan lagi menerka.


''Mbak Amel melahirkan?'' memastikan. Karena perkiraan selisih mereka hanya lima hari, dan kemungkinan besar Alan berkesimpulan seperti itu.


''Tapi ini rasanya beda sama waktu itu kak, nggak sakit sama sekali,'' Dinda masih tak begitu percaya dengan ucapan Alan, namun apalah daya Alan pun tak bisa memastikan sendiri karena ia bukan ahli dibidang begituan.


''Ya sudah, nggak apa apa, kita ke rumah sakit jengukin Mbak Amel sekalian periksa.''


Setelah membantu Dinda mengganti baju dan mengeringkan rambutnya, kini Alan pun membantu Dinda untuk memakai make up.


''Istriku sudah cantik, sekarang kita berangkat.''


Tak menunggu waktu lagi Alan mulai terlihat cemas saat Dinda makin terlihat lemah saja.


Sebelum pergi Alan memberi tau Bu Yanti tentang kondisi Dinda, meskipun bu Mil itu bilang tidak merasakan sakit, setidaknya Alan harus waspada, takut kejadian yang lalu terulang lagi.


Dalam perjalanan Dinda hanya diam dan sesekali mendesis, sedangkan Alan pun sibuk dengan setirnya, sebisa mungkin untuk tidak memperlambat jalannya.


''Gimana?'' Sesekali pria itu bertanya dan mengelus rambut istrinya.


''Masih sama seperti tadi,'' ucap Dinda, kedua tangannya menyangga perutnya yang terasa hampir melorot.


Ya Tuhan selamatkan istri dan anak anakku, jangan Engkau ambil lagi mereka dariku, karena aku nggak akan sanggup untuk kehilangan mereka lagi.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, kini Alan memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit di mana Amel melahirkan.

__ADS_1


''Hati hati.'' membantu Dinda untuk keluar.


''Abang,'' Dinda memeluk abangnya yang terlihat berseri seri.


''Gimana mbak Amel?'' Tanya Dinda.


''Masih di dalam, baru saja abang keluar.'' jawabnya.


''Selamat ya bang, akhirnya aku resmi menjadi om.'' Alan.


Keduanya berpelukan berbagi hari bahagia.


''Loh, dek, kamu kok pucat, kamu sakit?'' Tanya Faisal yang baru menyadari dengan raut wajah Dinda.


''Bang, dari tadi dia keluar lendir campur darah, aku mau periksakan dulu.''


Faisal segera mengangguk dan mempersilahkan Alan membawa sang adik. Dan beruntung Daka sudah keluar dari kamar bersalin Amel.


Ya Tuhan semoga Dinda baik baik saja.


Setibanya di ruangan Daka, Alan langsung mengatakan keluhan sang istri, karena semenjak hamil baru kali ini Dinda merasa mengeluh.


''Sekarang kita periksa ya,'' Daka mengambil sarung tangan menuju ruang periksa.


Terlihat ada ketakutan yang kini menyelimuti gadis itu, Dinda mengeluarkan keringat saat Daka mulai memeriksanya.


''Kak, aku takut,'' mencengkeram lengan Alan, meskipun ini bukan yang pertama, kejadian lalu seakan membuat Dinda sedikit trauma.


''Jangan takut, semua akan baik baik saja, ada aku di sini yang akan menemani kamu,'' menangkup kedua pipi Dinda, meyakinkan kalau ia tak sendiri.


''Dinda sudah pembukaan dua, dan dia akan melahirkan secara normal, untuk itu harus di pindahkan ke ruangan bersalin.''


''Tapi dia baik baik saja kan?'' Tanya Alan.


Daka menepuk pundak sahabatnya yang kali ini terlihat begitu rapuh.


''Kamu tenang saja, Dia akan baik baik saja, semua ini berkat kamu juga yang siaga menjadi suami.''


Daka bersama suster yang lain mendorong brankar Dinda menuju kamar lain.


Melihat kondisi Dinda di atas ranjang, Alan kembali menitihkan air mata, hatinya tak bisa tenang, biarlah semua orang bilang cengeng yang pastinya Alan ingin menumpahkan air matanya saat itu juga.


Jika Tuhan mengizinkan, biarlah aku yang merasakan sakit, rasanya ini tidak adil untuk Dinda, dia sudah rela mengandung anakku, tapi dia juga yang harus merasakan sakit saat menghadirkan mereka ke dunia.

__ADS_1


''Dok, apakah normal akan lebih sakit dari operasi?'' tanya Dinda saat perutnya mulai mengalami kontraksi kecil.


''Tidak, sakitnya hanya sebentar, tidak seperti operasi yang akan berkelanjutan, tenang saja, nanti kalau kamu merasa sakit, gigit saja tangan suami kamu, kalau perlu cakar dia, jangan kasih kendor.'' titah Daka, entah serius atau tidak saat ini Alan hanya bisa manggut manggut mengerti, bahkan tak ada sedikitpun niat ingin membalas ucapan sahabatnya.


__ADS_2