Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Curiga


__ADS_3

Tinggal di apartemen Faisal membuat Dinda lebih lega, meskipun tak semewah rumah Alan, namun Dinda merasakan nyaman berkali lipat, mau apapun tak ada yang melarang, namun kali ini Dinda merasa ada yang aneh dengan abangnya tersebut.


Semenjak ia tinggal disana, Faisal terus saja terlihat sibuk, bahkan saat malam pun pria itu terus saja bergulat dengan laptop maupun buku, entah apa yang di kerjakannya, Dinda juga belum tau.


Memangnya apa yang di kerjakan Bang Faisal, sampai istirahat pun tak sempat, batinnya.


Merasa kasihan, Dinda membuatkan kopi hitam yang biasa Faisal minum sebelum tidur.


''Abang, panggilnya mengetuk pintu yang sedikit terbuka.


Faisal yang dari tadi sibuk dengan gadget di tangannya itu kini mendongak menatap wajah adiknya.


''Kamu kok belum tidur?'' menghampiri Dinda yang membawa secangkir kopi.


''Abang juga belum, memangnya kerjaan abang dikantor belum selesai ya?'' tanya nya duduk depan Faisal.


Dinda nggak boleh tau kalau aku cari pekerjaan lain, dan dia juga nggak boleh tau kalau aku akan keluar dari perusahan Alan, pasti dia akan sedih dengan semua ini.


Faisal menggaruk alisnya yang tidak gatal, menutupi rasa resah yang melandanya saat ini.


''Nggak, ini cuma lihat file saja kok untuk presentasi besok, ucapnya, namun bukan Dinda yang tak tau wajah Faisal yang memang menyembunyikan sesuatu, meskipun tak bertanya secara langsung Dinda memendam rasa curiga.


''Sekarang kamu tidur gih, nggak baik buat anak kamu, abang juga mau tidur kok setelah ngabisin kopi dari kamu, cecarnya.


Tak mau membantah, Dinda langsung keluar meninggalkan Faisal yang masih di sana.


Aku tau abang menyembunyikan sesuatu dariku.


Setelah Dinda keluar, Faisal menyembulkan kepalanya memastikan kalau adiknya itu benar benar masuk kamar.

__ADS_1


Pria itu langsung menutup pintunya dan kembali bergelut dengan ponselnya untuk mencari lowongan pekerjaan.


Meskipun keahliannya sudah pasti, namun untuk mendapatkan posisi seperti saat ini memang sulit, belum lagi Ia juga merasa sungkan dengan pak Heru selaku orang yang sudah berjasa banyak padanya, tapi tiba tiba saja ia pergi meninggalkan perusahaan anaknya setelah menguasai semuanya.


''Ya Tuhan, kapan aku bisa keluar dari masalah ini, semoga Dinda juga mendapatkan jalan yang terbaik setelah pisah dari Alan.'' gumamnya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Tiga jam Faisal harus memutar otak mencari jalan keluar, namun masih saja belum menemukan cara yang tepat, akhirnya pria itu menyudahi dan memilih untuk tidur di kamarnya, mungkin bangun tidur akan membuat fikirannya lebih jernih.


Dinda yang sedari tadi curiga itu langsung membuka pintu kamarnya saat Faisal sudah berada di biliknya.


''Aku harus tau apa yang membuat abang gelisah, dan aku akan bantu dia, aku nggak mau lagi menjadi beban untuknya, sudah cukup selama ini ia berkorban untuk keluarga. ucap Dinda pelan.


Dengan jalan mengendap endap Dinda ke ruang kerja sang abang.


Belum juga membuka laptop, Dinda menyenggol beberapa dokumen yang ada di meja kerjanya, dan itu membuatnya mengernyit.


Surat lamaran kerja, ucapnya dalam hati.


Memangnya kenapa dengan pekerjaan abang saat ini, apa Kak Alan memecat abang, apa gara gara masalah aku dengannya, abang jadi di ikut ikutkan kena imbasnya, ini nggak boleh di biarin, kasihan abang, selama ini dia susah payah mendapatkan pekerjaannya, tapi gara gara aku dia harus kehilangan semua ini, aku harus temui Kak Alan, batinnya.


Jam sudah menunjukkan delapan malam, Dinda kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya, maksud hati ingin menghubungi Alan, namun di urungkannya, masih mikir mikir langkah yang tepat.


Wanita itu membolak balikkannya dan belum membukanya, takut jika Alan menganggapnya masih mengharapkan diri dan cintanya, padahal di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Dinda sudah membuang namanya sejauh mungkin.


''Kalau telepon kak Alan, itu artinya aku meminta bantuan padanya, dan aku nggak mau dia mengira aku ini mengemis mengharapkan kebaikannya, tapi jika aku tidak telepon Kak Alan, aku harus bantu Abang dengan cara lain, tapi bagaimana caranya, sedangkan aku saja tidak tau apa apa tentang pekerjaan abang.''


Dinda yang merasa dilema itu membaringkan tubuhnya dan menatap langit langit kamarnya sembari mengelus perutnya yang kini makin membuncit dan aktif saja.


Jika Alan merasa biasa saja dengan kepergian Dinda dari rumahnya bohong, buktinya saat ia hendak masuk ke kamarnya saja Alan menoleh ke arah kamar Dinda yang kini tertutup rapat, jika biasanya suara mesin jahit itu menggema kini kamar yang tanpa penghuni itu terasa sepi.

__ADS_1


Entah kenapa, kali ini Alan menghampiri kamar itu lalu membukanya.


Di tatapnya ruangan yang penuh dengan baju yang masih menggantung di setiap sudut, belum lagi Dinda membuat telapak dan terpasang di meja kamarnya.


Meskipun Alan tidak mencintainya, namun ia merasakan sedikit hampa, wanita yang sudah mendampinginya selama delapan bulan itu sudah memberi kenangan indah di kamar itu, masih teringat dengan jelas di otaknya bagaimana Alan memaksa Dinda untuk melayaninya, dan bagaimana gadis itu sampai pendarahan setelah di bergulat ranjang dengannya.


Dan kini semua itu tinggal kenangan, entah penyesalan atau apa, kini Alan menatap nanar layar ponselnya dan mencari kontak yang bernamakan Dinda.


Namun Alan segera mengembalikan ponselnya di saku celana, baru juga ingin memegang baju bayi yang menggantung, suara deheman dari pintu membuatnya menoleh.


''Syntia, serunya menghampiri istri pertamanya yang mematung di ambang pintu dan melipat kedua tangannya.


''Kamu sudah pulang?'' merangkul pundak wanita yang terlihat dengan wajah datarnya.


''Kamu kenapa kaget gitu?'' ucap Syntia memastikan kalau Alan tidak lagi memikirkan Dinda.


''Nggak kok biasa saja, kita tidur ya, pasti kamu capek,'' mengalihkan pembicaraan untuk tidak membahas dirinya yang saat ini memang sedikit kacau.


Karena tidak ingin Syntia curiga dengan apa yang menyelimutinya saat ini, Alan langsung naik ke atas ranjang dan memejamkan matanya, sedangkan Syntia yang baru pulang itu pun ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Baru juga pintu kamar mandi tertutup, ponsel Syntia berdering, karena merasa risih, akhirnya Alan bangun dan meraihnya, di lihatnya sebuah chat dari seorang pria yang di beri nama Rey,


Apa kamu sudah sampai rumah?


Isi pesan dari sana.


Alan terbelalak, baru kali ini ia membuka ponsel Syntia yang ternyata isinya mengejutkan.


"Siapa Rey, apa dia juga teman Syntia, kenapa selama ini dia nggak cerita kalau punya teman laki laki juga." gumamnya masih menerka nerka siapa pria yang mengirim pesan untuknya.

__ADS_1


Tak mau ketahuan, Alan mengembalikan ponsel milik Syntia ditempat semula.


Aku akan tanyakan pada Syntia, siapa Rey itu, kelihatannya juga perhatian sekali, apa hubungan mereka.


__ADS_2