
Dua hari waktu yang cukup singkat bagi Dinda bertemu dengan orang tuanya, namun juga waktu yang begitu berharga di mana ia bisa melepaskan rasa rindu yang berbulan bulan di di pendamnya, meskipun rasa kangen itu masih ada, Dinda tak mau egois dan tetap merelakan kedua orang tuanya pulang.
"Besok kita jalan jalan, yuk!"
Ucapan Amel kemarin membuat Dinda begitu bersemangat, sudah lama juga ia tidak keluar bersama kakak iparnya tersebut. Dan itung itung sekalian refreshing bersama bayi kembarnya.
Alan terus menatap sang istri yang tak henti hentinya memakai make up.
"Kamu mau ke mana sih, sayang?" Tanya Alan yang memang belum tau rencananya dengan Amel.
"Aku mau jalan sama Mbak Amel kak," Akhirnya make up itu selesai juga.
O.... pantas, mukanya di poles. Batin Alan.
Setelah puas dengan dandanannya, kini Dinda beralih membantu Alan memakai dasinya.
Seperti biasa tak ada hari yang tak indah bagi pria itu untuk tidak menggoda istrinya dan itupun kini di lakukan Alan dengan menggerayangi area perut buncit sang istri.
"Kak geli," protes Dinda yang tak betah dengan tangan jahil suaminya.
"Tapi enak kan?'' ucap Alan dan terus melakukan aksinya.
Terpaksa Dinda harus diam dan menerima perlakuan suaminya karena ia tau bagaimana pun juga permohonannya tidak akan terkabul jika Alan sudah seperti itu.
"Sudah," ucap Dinda sewot.
Alan hanya tersenyum geli saat melihat istrinya ngambek, pipinya yang bulat itu makin bulat saja.
"Aku kan belum nyium bakpaonya," lagi lagi Alan hanya bisa menggoda saat Dinda mengambil tas tangannya.
Apa dia bilang, bakpao.
Dinda mendekati Alan yang masih mematung di samping ranjang.
Seperti biasanya Alan mencium kedua pipi Dinda sebelum berangkat.
"Kamu hati hati ya, kalau ada apa aja cepat telepon aku, jangan terlalu lama.'' Pesan Alan seraya mengelus pucuk rambut Dinda lalu kembali mendaratkan ciuman di kening sang istri.
Sedangkan Dinda hanya mengangguk dan tersenyum, meskipun Alan tidak mengatakan hal yang sedemikian rupa, pastilah Ia sudah hati hati demi sang jabang bayi.
Setelah Alan benar benar berangkat Kini Dinda masuk ke rumah konveksinya menunggu Amel yang belum juga datang.
"Endah," panggil Dinda pada salah satu pegawainya.
__ADS_1
"Iya bu, Ibu mau di belikan camilan?" celetuk wanita berambut keriting tersebut.
Dinda berdecak, hafal banget sih perawan tua itu sampai setiap di panggil pasti di kira Dinda minta di belikan jajan.
"Enggak, kamu mah nggak bisa jaga rahasia," celetuknya.
Endah mengernyit mengikuti langkah majikannya menuju kebelakang.
"Maksud, Ibu?" tanya Endah lagi.
Dinda menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, melipat kedua tangannya, menatap wajah Endah dengan lekat terutama jerawat yang tumbuh di hidung.
"Kamu bilang ke kak Alan kan, kalau waktu itu aku menyuruh kamu sampai empat kali."
Seketika Endah menunduk, meskipun tau Dinda tidak akan memarahinya, namun Endah takut jika wanita di depannya itu memecatnya gara gara kecerobohannya.
"Ma....maaf, Bu, habisnya bapak nanya," jawabnya ragu.
"Kamu kan bisa bohong Ndah, Aku malu." cicit Dinda karena memang itu yang di rasakan saat Alan mengadilinya waktu itu.
"Bohong kan dosa Bu." jawab Lagi Endah.
Oh... iya ya, ngapain juga aku ngajarin Endah sesuatu yang nggak baik. batik Dinda.
"Bohong demi kebaikan mah nggak apa apa." Dinda masih tak mau kalah.
"Iya deh bu, lain kali saya nggak akan bilang lagi ke Bapak." ucap Endah, karena menurutnya mengalah lebih baik dari pada terus membuat Dinda jengkel.
Tin... tin.... Suara klakson mobil dari depan.
Seketika Dinda meninggalkan Endah dan yang lain.
Dinda tersenyum mendekati mobil yang baru saja datang.
"Kita langsung berangkat sekarang, Mbak?"
Ternyata mobil Amel.
"Iya, nanti kalau kesiangan panas, Alan marah lagi." jawab Amel.
Setelah memilah milih tempat, keduanya menjatuhkan pilihannya di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota, karena tidak ada tempat yang asyik bagi mereka para Ibu hamil untuk memanjakan mata selain tempat itu.
Tak ada yang di beli, Amel maupun Dinda hanya mengelilingi setiap toko di dalamnya.
__ADS_1
"Kamu lapar, nggak?" Tanya Amel saat keduanya sudah hampir satu jam di dalam.
Apa orang hamil itu nggak sama ya, kenapa Mbak Amel nanya seperti itu.
"Lapar," jawab Dinda antusias karena itu yang ia rasakan setengah jam yang lalu.
Kini keduanya masuk ke dalam restoran mewah, di mana Dinda akan memberi asupan untuk kedua putra putrinya.
"Kita duduk di sana yuk!" Amel menunjuk kursi kosong paling pinggir.
''Ibu... ibu tau nggak modus laki laki sekarang saat selingkuh.''
Seketika Dinda menoleh ke arah sekelompok wanita yang terlihat juga dari orang kaya.
''Apa, Bu?'' tanya yang lain.
''Jadi ya, Ibu ibu itu jangan gampang percaya dengan sikapnya yang romantis, lembut, banyak memberi hadiah, karena biasanya suami yang seperti itu punya wanita lain di luar sana.''
Deg, jantung Dinda berpacu begitu cepat saat mendengar ucapan itu.
''Masa sih, Bu.''
''Iya, temanku saja ngalami lo, Bu, padahal itu dia lagi mengandung, otomatis nggak bisa dong merawat tubuh, kasih sayangnya sih meluap setiap hari, e... taunya punya wanita lain di luar, Apa lagi mereka yang punya jabatan tinggi pasti lah dengan mudahnya memilih wanita kriterianya.
''Makanya kita sebagai wanita harus pintar pintar memikat suami untuk betah di rumah.'' timpal yang lain.
''Gimana caranya?''
''Ya kita harus jaga tubuh kita agar tetap ideal, sering perawatan, dan juga luangkan waktu sepenuhnya untuk suami saat di rumah.''
Dinda diam, otaknya buntu, jangankan untuk berpikir, Dinda tak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya termasuk makanan yang sudah datang.
''Din, kamu nggak makan?'' Tanya Amel untuk yang ketiga kali, namun masih saja Dinda tak merespon karena pikirannya traveling entah kemana.
Apa benar yang mereka katakan, apa itu adalah ciri ciri laki laki yang punya selingkuhan, apa kak Alan juga begitu, dia menutupi kebohongannya dengan kasih sayangnya dan barang mewah yang hampir tiap hari ia berikan. Apa aku ini adalah perempuan yang terlalu percaya diri bisa menjadi satu satunya suami aku.
''Din.'' Akhirnya Amel menepuk tangan Dinda.
''I.. iya... Mbak,'' Dinda yang terlihat gugup itu langsung meminum jus pesanannya.
''Kamu mikirin apa sih?'' Tanya Amel, karena dari tadi Amel sibuk dengan ponselnya dan tak mempedulikan omongan orang.
''Nggak ada apa apa kok, Mbak.''
__ADS_1
Tanpa aba aba Dinda langsung melahap makanan yang sudah tersaji.
Aku juga ingin menjaga postur tubuh, tapi aku nggak bisa untuk meninggalkan makan banyak, gimana caranya supaya aku tetap seksi meskipun hamil.