
Satu jam kurang lima belas menit, lebih tepat dari waktu yang di janjikan Alan sudah tiba di halaman rumahnya, banyak kenangan indah di sana, di mana ia sudah menjalani kehidupannya beberapa tahun bersama istri nya, Syntia. Namun perselingkuhan Syntia seketika melenyapkan semua benih cinta yang tertanam di dalam hatinya, menyayangkan, tapi semua sudah terjadi, Sekarang hanya perlu melangkah maju dengan keputusan yang di ambilnya.
Sebelum turun dari mobil, Alan mengambil map yang di bawa dari pengacaranya.
Dengan langkah gontainya laki laki itu menuju rumah yang sudah lama tak di tempatinya.
Belum juga mengetuk, pintu sudah terbuka lebih dulu, ternyata Syntia yang membukanya dari dalam. Wanita itu menyambut Alan dengan mata sembabnya.
''Akhirnya kamu datang juga.'' memeluk Alan dengan erat.
Bahkan Syntia langsung terisak saat berada di pelukan pria yang saat ini masih sah menjadi suaminya.
"Lepaskan!" ucap Alan datar, mencengkal tangan Syntia.
"Aku kangen sama kamu, mas.'' ucap Syntia di sela sela tangisnya.
Alan memejamkan mata, kasihan lihat keadaan Syntia, tapi bagaimana lagi hatinya sudah tertutup dengan apa yang di lakukan Syntia selama ini.
Alan masuk ke dalam dan di ikuti Syntia dari belakang.
''Ini surat perceraian kita, melemparkan map di atas meja. ''Dan aku sudah meyerahkan semuanya pada pengacara, jadi kamu nggak usah khawatir dengan harta yang aku kasih.'' ucap Alan tanpa basa basi.
Syntia membuka map itu dan membacanya berulang ulang, tak menyangka Alan akan secepat itu melepaskannya.
''Tega kamu, demi wanita kampungan itu kamu menceraikan aku.'' kata nya dengan lantang, bahkan tak menyadari kalau perceraian itu terjadi karena dirinya.
Alan menyunggingkan bibirnya, namun ia masih menahan emosi yang sudah menggebu, ingat dengan pesan Dinda kalau ia tak boleh menghadapi Syntia dengan kekerasan.
''Dinda maksud kamu?'' Alan menjelaskan lalu mendekati Syntia yang masih memegang mapnya.
"Lihat Aku!" titah Alan, kini keduanya saling tatap.
__ADS_1
"Demi kamu, aku membiarkan Dinda kesepian di rumah ini. Demi kamu, aku mengabaikan apa yang dia inginkan. Dan demi kamu, aku sudah memisahkan dia dari anaknya. Apa semua kurang jelas, kalau aku sangat mencintai kamu, bahkan mama pun tidak bisa memisahkan aku dari kamu." ucap Alan dengan pelan dan lugas, Alan benar benar tidak meninggikan suaranya, karena ia tau, bagaimanapun juga Syntia pernah memenuhi sudut hatinya.
"Tapi apa yang kamu lakukan di belakang aku, kamu selingkuh dengan pria lain, seakan akan aku ini nggak mempunyai harga diri. Dimana otak kamu saat kamu bersama laki laki itu, sedangkan aku, siang malam aku berjuang demi kamu, demi membahagiakan kamu, apa kamu masih juga menyalahkan Dinda, perempuan polos itu. Yang dengan kesabarannya menghadapi sikapku yang begitu angkuh, bahkan di usianya yang masih sangat muda dia rela mengandung anak aku,_ Alan menyeka air matanya yang sempat luruh, memori kejahatannya sembilan bulan kembali melintasi otaknya. Di mana ia tak mempedulikan Dinda selama hamil.
Syntia makin sesenggukan saat mencerna semua kata kata Alan yang baru saja meluncur. Kini ia sadar apa yang di ucapkan Alan adalah kenyataan.
"Dan saat ini juga aku talak kamu, aku harap kamu bisa menerimanya, dan semua akan aku urus secepatnya, jangan khawatir, aku tidak akan mengusirmu dari sini, kecuali kamu sendiri yang masih punya malu untuk keluar. Semua yang aku berikan sudah menjadi milik kamu."
"Mas, aku minta maaf, Aku tau aku salah, Dan aku akan minta maaf sama Dinda juga, tapi aku mohon, beri aku kesempatan." Ucap Syntia menangkupkan kedua tangannya di depan Alan, bahkan Syntia rela berlutut demi mendapat maaf dari Alan.
"Tapi sayang, aku tak sebaik Dinda yang dengan gampangnya memaafkan orang, lagi pula percuma, mau sampai nangis darahpun aku akan tetap menceraikan kamu."
Setelah meluapkan isi hatiya, Alan langsung saja keluar dari rumah itu tanpa menoleh. Baginya saat ini tak ada lagi yang perlu ia tengok karena Syntia hanya kenangan masa lalu yang tak perlu ia ingat, dan ada Dinda yang akan menuntunnya ke depan.
Kini Syntia hanya bisa meratapi penyesalannya, tak pernah menduga kalau pernikahannya akan kandas karena kelakuannya sendiri.
Selamat tinggal Syntia, aku memang pernah bilang akan mencintai kamu apa adanya, tapi kamu sendiri yang membuat aku begini, kamu yang membuat aku tidak bisa lagi mempercayai kamu, sekarang kita punya kehidupan masing masing, semoga kamu mendapatkan pria yang lebih baik dariku.
Setelah puas menatap rumahnya, Alan kembali melajukan mobilnya untuk membelah jalanan.
"Bi," Dinda menghampiri Bi Romlah yang ada di dapur, wajahnya terlihat cemas saat menatap pintu depan.
"Ada apa, Non?" tanya Bi Romlah mengelus lengan Dinda menenangkan wanita itu untuk tenang.
"Aku takut." ucapnya memeluk Bi Romlah.
"Aku takut kalau Kak Alan kembali lagi sama Mbak Syntia dan meninggalkan aku." ucapnya, entah kenapa Dinda merasa kalau Alan masih ada hati dengan istri pertamanya.
"Non tenang saja, Bibi yakin Den Alan tidak seperti yang Non kira."
Baru saja duduk di ruang makan, suara Mobil membuat Dinda berlari menuju depan.
__ADS_1
"Kakak...." teriak Dinda menghampiri Alan yang baru saja turun dari mobil.
Pak Tedi yang melihatnya hanya tersenyum simpul.
"Kenapa sih?" tanya Alan heran seraya mengelus pucuk kepala Dinda.
"Kangen, Den." sahut Bi Romlah yang berada di teras.
"Maaf, ya, aku tadi mampir ke kantor bentar, bilang sama Bela untuk mencari sekretaris baru, kan abang nggak mungkin kerja di kantor lagi." jawabnya mengajak Dinda untuk masuk ke dalam.
Ternyata bukan hanya Bi Romlah dan Pak Tedi, Bu Yanti dan Pak Heru pun menyaksikan kemesraan keduanya dari balkon lantai dua rumahnya.
"Gimana dengan Mbak Syntia?" tanya Dinda mendongak menatap wajah Alan, berharap suaminya itu mengatakan apa yang sudah terjadi.
"Aku sudah mencerakannya. Jadi kamu tenang saja, dia nggak akan berani untuk mengusik kamu, dan aku pastikan dia akan menjauh dari keluarga kita.
Dinda tersenyum, bukan marasa menang, tapi ada hal lain yang akan di sampaikan pada Alan.
"Itu artinya besok aku sudah mulai buka jahitan dong." memainkan kancing kemeja Alan.
Alan memutar bola matanya masih berpikir dengan ucapan Dinda.
"Boleh," jawabnya membuat Dinda langsung kegirangan.
"Tapi, _ lanjut Alan yang kembali meredupkan senyum itu.
"Kamu kerjanya saat aku di kantor, jika aku di rumah, sedikitpun kamu nggak boleh pegang mesin jahit, meskipun penting." tegasnya dengan jelas, karena Alan nggak mau di duakan dengan benda mati tersebut.
Dinda mengangguk, lalu mengajak Alan ke ruang makan, karena hari pertama di rumah baru Dinda sudah memasak makanan untuk mereka makan.
"Siapa yang masak?" tanya Alan saat Dinda mengambilkan nasi.
__ADS_1
"Aku lah, sekarang Bibi itu cuma bantuin aku, nggak boleh masak, kasihan kan sudah tua." kelakarnya.
Kamu memang sangat jauh berbeda dengan Syntia, apa yang kamu lakukan selalu bertolak belakang dengannya, sekarang aku ngerti, kenapa mama begitu menyayangi kamu, karena kamu adalah perempuan yang tulus mencintai aku apa adanya.