
Dua jam lewat setelah tragedi pingsan pingsanan Amel, kini suasana hotel kembali tenang, namun ada beberapa tamu yang pulang karena kesibukan masing masing, ada juga yang masih di tempat, keputusan Amel yang sudah bulat membuat Pak Samuel terpaksa mengalah dan akan melangsungkan pernikahan di hari itu juga, namun dengan Faisal bin Bapak Yanto, sayang kan jika hotel yang sudah di sewa dengan harga yang fantastis di anggurin begitu saja.
Pangunduran akad nikah bukan tanpa alasan melainkan menunggu kedua orang tua Faisal yang baru di jemput keluarga Alan, karena Faisal tetap kekeh ingin menunggu kedua orang tuanya saat melangsungkan pernikahan, baginya tanpa restu orang tua rumah tangga akan sia sia dan tak mendapatkan kebahagiaan, prinsip yang sudah melekat tak akan hilang begitu saja meskipun dalam keadaan mendesak sekalipun.
Sedangkan yang membuat ide sukses itu pun tak ada yang tau larinya kemana, karena diam diam Alan sudah menyewa kamar hotel di kelas nomer satu yang kini sudah di tempatinya berdua bersama sang istri, karena tak mau ada yang mengganggu jadi Alan merahasiakan dan berharap Daka menghubunginya saat acara mulai nanti.
Menyebalkan, Di saat kedua sahabatnya bersama wanita yang di cintanya kini Daka malah sibuk membantu mengurus acara pernikahan Faisal yang harus di robak ulang dari mulai nama yang tercantum dan lainnya.
Mengenaskan bukan?
''Dokter lihat Mas Alan?'' tiba tiba suara familiar menyapa saat Daka mengangkat vas bunga yang akan di pindahkan.
Daka menggeleng, itu pesan dari biadab Alan yang saat ini lagi asyik sama istri mudanya.
Syntia terdengar mendengus kesal, sedangkan Daka tak ambil pusing karena Syntia bukan lagi orang penting saat ini.
''Jangan bohong?'' tanya nya lagi memastikan kalau Dokter itu tak menipunya.
Daka memutar tubuhnya lalu berkacak pinggang.
''Kalau nggak percaya tanya sama petugas hotel, Alan bukan anak kecil yang harus aku temani, tapi sekarang dia punya Dinda. Ya, mungkin saja mereka lagi bergulat di atas ranjang.'' Jawab Daka asal meskipun ada betulnya juga.
Rasain kamu, memang enak aku komporin.
Syntia yang terlihat semakin kesal itu pun hanya mengepalkan tangannya, ini bukan sifat Alan yang selalu menghindarinya.
''Aku harus telepon Dinda.'' gumamnya.
__ADS_1
Karena beberapa kali menelepon Alan tak di angkat akhirnya Syntia menghubungi nomor ponsel Dinda.
Tersambung.
Dinda yang saat ini berbaring di atas kasur mewah di dalam kamar hotel itupun meraih ponselnya yang berdering, belum juga sampai Alan yang meraih duluan.
Syntia, ngapain dia telepon Dinda.
''Siapa, kak?'' tanya Dinda saat Alan seperti tak niat menerimanya.
''Syntia, kamu terima saja dan jawab yang jujur, apa yang sudah kita lakukan disini.'' Ucap Alan entengnya yang membuat Dinda berdecak, bagaimana tidak, masa iya Dinda harus cerita apa yang baru saja mereka lakukan di atas ranjang tanpa baju, memalukan.
Mode loudsepeaker.
''Halo, mbak, ada apa?'' tanya Dinda, seperti biasa sapanya dengan lembut.
Nggak usah sok polos kamu, aku tau kalau mas Alan saat ini sama kamu, cetusnya, sepertinya memang omongan Daka sudah menjalar hingga membuat Syntia merasa panas karena pria itu.
Dinda menoleh menatap Alan yang sibuk dengan rambutnya.
''Memangnya kenapa. Bukankah kita sama sama istri Kak Alan, jadi bukan salah aku dong kalau dia saat ini lagi bersamaku.'' jawab Dinda dengan berani.
Percaya diri banget kamu, kamu ingat ya, kamu itu menikah dengan mas Alan hanya untuk memberikan anak, jadi nggak usah macam macam. Lagi pula sebentar lagi kalian akan bercerai, jadi aku pikir lebih baik kamu pergi sebelum mas Alan usir kamu.
Alan terus menggenggam tangan Dinda memberi kekuatan wanita itu untuk bicara.
''Maaf ya, Mbak, kita lihat saja nanti, aku atau Mbak yang akan pergi dari kehidupan Kak Alan, dan jangan lupa, kalau saat ini, aku juga masih istri sahnya, apa mbak juga ingin dengar suara Kak Alan langsung?'' tanya Dinda menggeser ponselnya ke arah suaminya.
__ADS_1
Halo....Suara Alan menyapa, namun dari seberang sana sudah mati membuat Alan segera melempar ponsel kembali ke tempat asalnya, ganggu saja, sudah waktu yang terbatas pakai ada ponsel berdering segala bikin Alan kesal, dan mungkin akan melanjutkan malam nanti bersama pengantin baru beneran.
''Aku suka kamu yang berani seperti ini, meskipun aku akan berada di sisimu, setidaknya aku tidak lagi khawatir jika sewaktu waktu aku ada kerjaan di luar seharian.''
Dinda tersenyum. ''Aku berani karena kakak memperjuangkan Aku. Dan aku harap Kakak mengambil keputusan yang adil, menceraikan Mbak Syntia ataupun tidak, saat ini terserah kakak, tapi aku minta keadilan sebagai istri kedua.'' jelasnya karena Dinda nggak mau kalau di anggap merebut suami orang, biarlah saat ini Alan yang mengambil keputusan sendiri.
Alan mengangguk dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda, belum juga saling sentuh, suara ketukan pintu dari luar menggema, terpaksa Alan meraih jubah dan memakainya lalu menutup tubuh Dinda dengan selimut tebal.
Ceklek, pintu terbuka, namun secepat kilat Alan kembali menutupnya, tenaga Alan yang baru saja terkuras masih kalah dengan pria yang ada di depan pintu yang memang beberapa menit yang lalu baru memenuhi perutnya dengan steak dan berbagai cemilan. Siapa lagi kalau bukan Daka.
''Ada apa?'' tanya Alan membuka sedikit pintunya takut kalau sang tamu melihat istrinya yang masih terkapar di atas ranjang.
Dengan seketika tamu tak di undang menoyor jidat Alan yang nggak ada akhlak.
''Mertua kamu sudah datang, di bawah, tapi kamu malah enak enakan di kamar, Dinda kamu apain lagi?'' melirik ke arah wanita yang kini hanya terlihat kepalanya.
Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa dia bisa lupa kalau mertuanya memang mau datang, dan benar, ternyata Ia dan Dinda sudah menghabiskan waktu di kamar hotel dua jam lebih.
''Itu gaun siapa?'' tanya Daka menyungutkan kepalanya ke arah gaun yang berceceran, untung saja baju dalamnya nggak di situ, bisa malu tujuh turunan tu si Alan kalau sampai Daka lihat.
''Gaun Dinda, memangnya kenapa? udah, ah, sana, bentar lagi aku turun,'' mengusir Daka yang masih penasaran dengan apa yang di lakukan Alan.
Setelah menutup pintu Alan geleng geleng dengan sahabatnya.
''Dasar dokter kandungan kepo, pantas saja nggak laku laku, sukanya ngintip, lama lama matanya itu bintitan.'' omel Alan seraya memungut baju Dinda yang masih berada di bawah lantai.
Dinda yang dari tadi melihat debat keduanya hanya bisa tersenyum di balik selimut, karena suaminya itu yang salah tapi masih saja menyalahkan sahabatnya, dasar egois maunya menang sendiri, itulah yang ingin di katakan Dinda, namun di urungkannya, karena Dinda harus waspada sekali salah ucap, dirinya yang menjadi korban keganasan senjata Alan.
__ADS_1
Dengan segera Dinda dan Alan membersihkan diri karena sebentar lagi acara pernikahan bang Faisal dan Amel akan segera di mulai.