Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Geger


__ADS_3

Jika kemarin Alan berharap Dinda tertidur, kali ini Alan keluar dari kamarnya membawa rasa resah yang menyelimuti saat Dinda belum juga terbangun, padahal sudah beberapa kali Alan membangunkan wanita itu dengan berbagai cara, namun masih saja tanggapannya hanya menggeliat dengan mata yang masih tertutup tapat, dengan langkah lebarnya Alan menghampiri Bi Romlah setelah menelpon mama, Faisal, dan Dokter Daka, takut terjadi apa apa dengan Dinda yang saat ini masih betah di balik selimut.


''Di mana Dinda?'' Bu Yanti terus buru buru masuk ke kamar Alan.


Di lihatnya wajah teduh dengan nafas yang teratur. Bu Yanti duduk di tepi ranjang dan merapikan anak rambut Dinda.


"Sayang bangun!" lagi lagi Alan berbisik, kali ini ia menyesal dengan doanya yang meminta Dinda supaya tertidur.


"Apa semalam Dinda tidak tidur?" tanya Bu Yanti ikut khawatir.


Alan mendongak dengan air mata yang sudah membasahi pipi.


"Tidur ma, bahkan dia lebih dulu dari pada aku. Tadi aku lihat dia juga sempat bangun, tapi nggak tau kenapa sampai sekarang dia tidur lagi.


Alan putus asa, kangen dengan suara cerewet istrinya yang manja dan menyebalkan. Karena ini sudah tiga jam lebih Dinda tidur di pagi hari, dan itu tidak biasa di lakukan istrinya.


"Apa dia kesurupan putri tidur ya, ma?"


Masih sempat sempatnya hal konyol itu terucap, karena Alan yakin Dinda tidak mengkonsumsi obat tidur.


Bu Yanti berdecak kesal lalu menepuk lengan Alan yang duduk lesehan di bawah. Sejak kapan putranya itu percaya dongeng.


"Jangan aneh aneh, mungkin saja Dinda memang kecapekan, apa kalian semalam olahraga ranjang?"


Alan menggeleng, karena Dinda memang tidak mau dan bilang kalau nggak mood.


Bukan hanya Alan, dan Bu Yanti, pak Heru pun ikut panik dan memanggil Dokter pribadinya. Bahkan Pak Heru membatalkan meetingnya setelah mendapat kabar dari Alan.


Sedangkan Bi Romlah hanya bisa berkomando di konveksi bersama pegawai yang lain untuk mengurus pesanan yang akan di antar.


Semua penghuni rumah memang panik termasuk Faisal dan Amel yang baru datang, entah kenapa Dinda membingungkan seluruh keluarganya.


Dengan langkah pelan, Faisal dan Amel menghampiri Dinda yang masih meringkuk.


"Din, bangun, maafin abang." Mengelus pipi sang adik.


Biarlah di bilang lebay, yang penting Dinda mimpi indah dan tak ingin di ganggu dengan mereka yang sudah geger.


Dokter Daka datang dan ikut mendekati Alan yang masih betah duduk di lantai seraya menggenggam tangan Dinda.


"Gimana ceritanya?" tanya Daka yang tak kalah khawatir. Meskipun kemarin di buat jengkel, nyatanya Daka kini malah kasihan dengan kasus istri dari sahabatnya tersebut.


Alan menceritakan apa yang terjadi secara detail dan tak meninggalkan satu patah kata pun.


"Apa dia pernah mengeluh sakit atau pegel?" tanya Daka memeriksa denyut nadi Dinda.


Alan menggeleng, karena Dinda memang selalu saja bekerja dan tak pernah malas malasan, apa lagi mengeluh padanya.

__ADS_1


"Silahkan, Dok!" suara pak Heru dari belakang.


Semua menyingkir termasuk Alan dan Daka yang kini menunggu sang dokter untuk memeriksa Dinda.


Setelah beberapa menit memeriksa, Dokter membalikkan tubuhnya dengan sebuah senyuman, itu menandakan kalau Dinda memang baik baik saja dan tak ada hal yang di takutkan.


"Ini mah tugas Dokter Daka." cecarnya menepuk Dokter kandungan yang mematung di samping Alan dan Faisal.


Mendengar ucapan itu Daka tercengang.


"Maksud dokter?" Tanya Daka memastikan.


"Kayaknya Nona Dinda hamil."


Sedikit ragu dokter itu mengatakan di depan seluruh keluarga Dinda.


Deg, kini bukan hanya Daka yang terkejut, namun semua yang ada di kamar itu pun ikut kaget dengan pernyataan sang Dokter.


Apa maksudnya?


Kenapa Dinda bisa hamil?


Tak ada yang bahagia, bahkan Alan terlihat marah, wajahnya berapi api saat di depan Daka.


"Jelaskan padaku, kenapa Dinda bisa hamil!"


Daka menggeleng, pikirannya malah berkelana mengingat yang terjadi waktu itu.


"Al, sabar, biarkan Daka berpikir!" Faisal menghentikan tingkah konyol adik iparnya.


"Dokter yakin?" kini Bu Yanti beranjak dan memastikan.


"Maaf, Bu, Saya bukan dokter kandungan, lebih baik Dokter Daka sendiri yang periksa, biar lebih jelas."


Di saat suasana denting, Alan menjambak rambutnya sendiri, masih tak percaya dengan apa yang sudah di katakan Dokter pribadi papanya.


Dengan tangan gemetar Daka mendekati tubuh Dinda yang menggeliat karena terusik dengan keributan di sekelilingnya.


"Ada apa ini?"


Suara Dinda membuat Alan seketika berlari menghampirinya, ini yang Alan rindukan, Dinda dengan suara khasnya yang membuatnya tak bisa jauh.


"Kamu sudah bangun."


Berulang kali Alan mencium kening Dinda di iringi tetesan air mata.


"Kakak kenapa, ini ada apa sih?"

__ADS_1


Kini malah Dinda yang bingung seraya manatap keluarganya bergantian.


Alan menggeleng pelan dan memeluk Dinda yang baru saja mengangkat kepalanya.


Hamil atau tidak, aku tidak peduli, yang penting kamu tetap di sisiku.


Dinda menatap Bu Yanti yang juga menitihkan air mata, dan itu makin membuat Dinda takut dan mengeratkan pelukannya.


"Kak, katakan, ada apa?" tanya Dinda lagi mendongak menatap wajah Alan yang masih terlihat gusar.


"Tidak ada apa apa, semua baik baik saja."


Kenapa aku malah takut, aku nggak mau Dinda mengeluarkan darah seperti waktu itu, dan aku nggak mau Dinda kesakitan lagi gara gara kehamilan.


Alan mengendurkan pelukannya dan memberi ruang Dokter Daka yang akan memeriksanya.


''Ngapain kamu pegang perut aku, aku nggak sakit perut.'' menepis tangan Daka yang hampir membuka piyamanya.


''Dinda sayang, kamu harus periksa, ini cuma ngecek kesehatan kamu saja kok.''


Dinda kembali membaringkan tubuhnya setelah mendengar ucapan Bu Yanti, karena hanya ucapan wanita itu yang di dengar.


Masih dengan rasa khawatir Daka menempelkan stetoskop di area perut Dinda. Karena kurang puas Daka pun menggunakan jarinya memencet bagian bagian perut mendeteksi letak sang janin.


Setelah merasakan keanehan Daka kembali terbelalak.


Sepertinya Dinda memang hamil, tapi bagaimana bisa terjadi. bukankah Dokter Edwin sudah mengangkat rahimnya waktu itu.


Daka mengambil tas yang ada di mobilnya.


"Dinda, kamu tes sebentar pakai ini, ya!" menyodorkan tespek di depannya.


Seketika Dinda menepis benda itu hingga jatuh.


"Dokter mau menghinaku, sudah tau aku nggak bisa hamil, tapi kenapa dokter menyuruhku periksa."


Dinda melengos, kini air matanya mulai terjatuh membasahi pipinya.


Lagi lagi hanya Bu Yanti yang tau bahasa kalbu wanita itu.


"Sayang, mama tau, tapi kamu percaya kan, bila Tuhan sudah berkehendak apapun bisa terjadi, termasuk kehamilan kamu."


Bu Yanti mengelus rambut Dinda berharap wanita itu tidak tersinggung.


"Tapi nggak mungkin ma, dan aku nggak mau kecewa, harapan aku itu nol, meskipun aku menginginkannya, aku nggak mau berlebihan, dan mama tolong jangan paksa aku, aku tau kalau mama ingin sekali punya cucu, tapi, _


Bu Yanti mendaratkan jarinya di bibir Dinda lalu memeluk tubuh Dinda.

__ADS_1


"Kalau kamu nggak mau, tidak apa apa, mama nggak akan maksa."


__ADS_2