Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Aditama dan Aldifana


__ADS_3

''Morning....'' suara lembut menyapa, Dinda yang baru saja terbangun hanya bisa menerbitkan senyum saat mendapati wajah yang semalam menamaninya tidur itu terlihat berseri seri, bahkan pagi ini Alan terlihat sudah rapi dan tampan dengan baju casualnya serta celana jeans hitam yang melekat.


Dinda menoleh, ternyata bukan hanya Alan yang ada di ruangannya itu, bapak serta mertuanya juga di sana, Akhirnya Dinda kembali menarik selimutnya hingga menutupi sekujur tubuhnya, malu, seakan akan ia hanya wanita pemalas yang terlambat bangun.


''Lho, kenapa di tutup, waktunya mandi.'' Alan berbisik, karena ia tau wajah istrinya yang sudah nampak sangat merah.


''Kenapa nggak dari tadi banguninnya, terlambat.'' balas berbisik.


Dengan perlahan Alan menyibak selimut sang istri.


''Tidak perlu malu, ini kan keluarga sendiri.'' cicitnya membantu Dinda untuk mengangkat kepalanya.


''Dedeknya mana?'' tanya Dinda setelah menyusuri sudut ruangannya, ternyata dua bayinya tak ada di sana.


''Bentar lagi ke sini,'' sekarang mamanya mandi,'' tanpa aba aba Alan mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi.


Benar saja, baru saja pintu kamar mandi tertutup rapat, Daka dan Salma masuk dengan kedua bayinya yang sangat lucu.


''Lo, ini mamanya ke mana?'' tanya Daka saat mendekati brankar kosong.


''Mandi bentar,'' sahut dari dalam, entah itu suara siapa yang pastinya Alan tak mau keluar dan tetap senantiasa menemani Dinda di dalam, sedangkan Bu Yanti dan bu Tatik kini yang mengambil alih dua bayi imut Dinda.


''Kamu seperti nggak tau Alan saja, kalau sudah ada maunya ya, seperti itu,'' cetus Bu Yanti.


Suasana ruangan itu makin terlihat damai, kehadiran buah hati Alan dan Dinda membawa kebahagiaan tersendiri bagi dua keluarga yang terjalin dalam satu ikatan.


''Tu, mamanya sudah cantik,'' suara Bu Yanti menirukan gaya anak kecil saat pintu kamar mandi terbuka.


Dinda hanya bisa tersenyum saat Alan membawanya kembali ke brankar, ini memang bukan pertama kalinya ia melahirkan, namun Dinda merasa ter istimewakan saat di samping Alan, sang suami.


''Nih dedeknya haus,'' Bu Yanti menyerahkan bayi laki laki di pangkuan Dinda.


Alan yang memang di sampingnya hanya bisa berdecak, kini benar benar tak ada kesempatan baginya untuk berduaan saat bayinya itu terbangun, bahkan Alan merasa di duakan oleh istrinya yang dengan telatennnya membuka barang berharganya untuk sang buah hati.


''Kenapa?'' tanya Dinda saat mendapati wajah suaminya itu cemberut.

__ADS_1


Alan menggeleng dan mencium kening putranya lalu mengambil alih putri kecilnya dari tangan Bu Tatik.


''Kamu lihat, dia persis sekali seperti abangnya,'' menoel hidung bayi mungil yang lagi asyik menyusu.


Raut wajah Dinda berubah saat mengingat memori lama, di mana ia harus kehilangan putra pertamanya.


Alan merangkul pundak Dinda dengan satu tangannya, sedangkan yang satu masih membopong putri kecilnya.


''Jangan di ingat lagi, ini adalah Aldiansyah kita yang hadir menunggu adik kecilnya.'' cecarnya mencoba membuat Dinda untuk tidak sedih.


Dinda mencium pipi Alan dengan lembut. ''Aku mencintaimu.'' bagaikan tersiram bongkahan es, hati Alan begitu sejuk mendengar ucapan perdana istrinya, bahkan Alan tak bisa berkata apa apa lagi.


''Aku Lebih mencintai kamu, jangan pergi lagi dariku, demi apapun kalian adalah kehidupanku.''


Tak mempedulikan yang lain Alan terus mencium pipi bulat Dinda.


Kini hanya kebahagiaan yang terpancar di wajah kedua pasangan yang resmi menjadi orang tua itu, dan juga kedua keluarga yang yang menyandang status oma dan opa serta Om dan tante.


''Jangan bikin iri, aku dan Salma belum halal,'' celetuk Daka yang mematung di belakang Alan.


''Makanya, cepetan halalin, nungguin apa lagi, gigimu ompong.'' cetus Faisal yang baru saja datang bersama Amel yang ada di kursi roda.


Semua bergelak tawa, sedangkan tersangka hanya bisa garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


''Mbak Amel, Kok ke sini sih, tadinya Aku mau ke kamar mbak lo,'' ucap Dinda merasa nggak enak sudah di tengokin saudara tuanya.


Sok sokan mau ke kamar Mbak Amel, bangun saja minta di bangunin. gerutu Alan dalam hati.


''Nggak apa apa, aku yang sudah nggak sabar ingin lihat si kembar.'' ucap Amel.


Terpaksa Dinda harus beralih duduk di sofa bersama yang lain, suasana ruangan Dinda semakin ramai saat kedatangan para karyawan dari kantor, bahkan Alan sempat sempatnya membatasi bagi mereka yang ingin masuk karena tak memungkinkan untuk Dinda terus menerima tamu di saat kondisinya yang kurang sehat, kini pria dua anak itu lebih posesif pada istrinya, lebih lebih Dinda sudah melupakan makan pagi itu gegara saking sibuknya tertawa meladeni semua tamunya.


Hampir tiga jam Alan hanya menjadi penonton istrinya dan yang lain di ruangan itu, kini kesabaran Alan sudah habis dan perlu mengusir tamunya. Untung Faisal dan keluarga yang lain sudah pergi dulu, tinggal karyawan kantor yang di sana, Alan tak perlu sungkan dengan mereka.


''Sayang makan dulu,'' terpaksa Alan harus lebih tegas demi kesehatan Dinda.

__ADS_1


Bela yang masih di sana merasa terharu dengan perhatian bosnya pada sang istri, ternyata di balik angkuhnya Alan saat di kantor tersimpan berjuta kasih sayang untuk keluarganya.


''Maaf, aku makan dulu ya.''


Bela dan yang lain mengangguk ramah lalu keluar memberi ruang Alan untuk menyuapi Dinda.


''Mentang mentang tamunya banyak aku di lupakan,'' celetuk Alan.


Dinda menghentikan kunyahannya sejenak menatap wajah Alan dengan lekat.


''Nggak gitu juga kak, kan nggak enak sama mereka, lagi pula mereka nggak mungkin datang lagi kok, sedangkan kakak pasti selalu ada bersamaku setiap waktu, lihat, kado dari mereka banyak banget.'' menujuk beberapa kotak yang memenuhi ruangan.


Itulah yang membuat aku tak bisa jauh dari kamu, kamu selalu menanggapi omonganku dengan serius, padahal, aku kan cuma bercanda supaya bisa berduaan.


''Kak, aku ingin pulang, kangen sama rumah,'' ucap Dinda, kini sudah tak sabar dengan Alan yang begitu lelet saat menyuapinya hingga Dinda merebut sendok dari tangan suaminya dan melahapnya sendiri.


''Kamu harus sembuh dulu, jangan buru buru, kamu nggak lihat mbak Amel saja belum pulang.''


Dinda mengangguk mengerti meskipun ia sudah merasa sehat setidaknya harus menunggu waktu.


''Nama anak kita siapa?'' tanya Dinda, entah kenapa ia merasa nggak enak belum mengetahui nama kedua bayinya.


''Apa kamu nggak ingin memberi nya nama?'' menarik tubuh Dinda dan membawa ke pangkuannya.


''Aku nggak tau, kakak saja.'' menyerahkan semuanya pada Alan.


''Jika anak pertama kita Aldiansyah Sudrajat, sekarang aku kasih nama, Aditama Sudrajat dan Aldifana Sudarajat.'' Jawabnya, karena sudah jauh jauh hari Alan mempersiapkan nama itu, hanya saja pria itu bungkam, menurutnya tak terlalu baik membeberkan sebelum kelahiran kedua buah hatinya.


''Diambil dari mana?'' goda Dinda, padahal ia tau apa jawaban dari suaminya, setidaknya ia mendengar langsung alasan sang suami.


''Mereka adalah bukti cinta kita, maka mereka tidak akan jauh dari namaku dan nama kamu, aku ingin di setiap waktu mengingat kamu sebagai istri yang sangat aku cintai, meskipun terlambat, setidaknya aku masih bisa memilikimu di sisa umurku.'' Alan mengeratkan pelukannya seakan tak mau melepas Dinda untuk jauh darinya.


''Nama yang bagus, aku suka, semoga kelak mereka menjadi anak yang berguna untuk semuanya, dan berbakti kepada kita.''


Dinda menyandarkan kepalanya di dada bidang Alan menatap bayi yang anteng di tempatnya.

__ADS_1


Mereka tidak akan mengikuti jejakku yang pernah menyia nyiakan kamu, tapi mereka akan mengikuti kamu sebagai wanita yang kuat menelan pahitnya kehidupan sendiri hingga semua terasa indah.


__ADS_2