Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Cowok cewek


__ADS_3

Waktu terus bergulir, semenjak Dinda hamil, Alan benar benar merasakan menjadi seorang suami sepenuhnya, tak hanya itu, sikap Dinda pun membuatnya mengerti bahwa keharmonisan rumah tangga bukan berarti di penuhi harta yang bergelimang, namun juga kasih sayang yang tulus dan kebersamaan. Apa lagi perhatian Dinda yang tak pernah surut makin membuat Alan tak bisa menjauh darinya.


Jika ngidam Dinda penuh dengan teka teki, di umur empat bulan kehamilannya berbeda, wanita dengan perut buncitnya itu lebih banyak makan dan ngemil. Seperti saat ini hingga membuat Alan geleng geleng dengan bungkus cemilan yang berserakan.


''Kakak sudah pulang?'' tanpa menghentikan kunyahannya Dinda menyambut kedatangan suaminya yang baru pulang dari kantor.


''Si Endah berapa kali ke supermarket?'' tanya Alan melirik bungkus di bawahnya.


Dinda memutar bola matanya mengingat ingat saat dia menyuruhnya.


''Baru sekali,'' jawabnya santai.


Nggak mungkin, ini mah pasti ada tiga kali, kenapa nggak di borong saja semuanya.


Setelah mencium kening Dinda, Alan ke kamar nya untuk membersihkan diri, karena Daka menyuruhnya untuk memeriksakan keadaan Dinda.


Sedangkan Dinda memang sudah siap saat tadi Alan memberi tahunya lewat telepon.


Lima belas menit, Alan keluar dari kamarnya, kali ini pria itu mengernyit, saat istrinya masih saja memegang cemilan di tangannya.


Itu perut apa nggak ada kenyangnya.


''Sayang kita berangkat sekarang ya.'' Alan masih membenarkan jam tangannya.


Dinda mengangguk dan terpaksa menaruh cemilannya di atas meja sofa.


Setelah Dinda masuk ke dalam mobil, Alan menghampiri Endah, pegawai Dinda yang baru saja menutup pintu rumah konveksinya.


''Tadi kamu di suruh Ibu ke supermarket berapa kali?'' Tanya nya sedikit pelan, takut Dinda masih mendengarkan dan tersinggung.


''Empat kali, pak,'' jawab Endah dengan menunjukkan jarinya.


Alan manggut manggut mengerti.


Bilangnya sekali yang tiga kali pikun.


''Ya sudah, kamu pulang, besok aku kasih bonus, dan kamu turuti apa saja yang Ibu suruh!" titahnya.


Endah mengangguk ramah.


Senyum merekah di sudut bibir wanita yang sudah berumur dua puluh lima tahun tersebut. Karena akan mendapat bonus lagi yang pastinya tidak sedikit.


Dalam perjalanan tak ada pembicaraan, sedikit hening karena ternyata Dinda sudah memejamkan matanya setelah beberapa meter mobil Alan membelah jalanan.

__ADS_1


Alan tersenyum dan menggenggam tangan Dinda.


''Semua lebih indah jika saling setia, bahkan aku lupa cara berdebat dengan seorang perempuan. Kamu benar benar tulus, kepolosanmu membuat aku sadar, kalau cinta tak bisa di pandang dari harta dan tahta, tapi dari kejujuran, Aku tidak akan menyia nyiakan kamu lagi, sampai waktu sendiri yang akan memisahkan kita nanti."


Aku tidak tau kehadiranku ini perusak rumah tangga kakak dan Mbak Syntia atau tidak, yang pastinya aku pun tidak ingin jadi yang kedua, tapi takdir berkata lain. Andai saja mbak Syntia tidak mengizinkan kita menikah, aku pun mundur dan membatalkan pernikahan itu.


Meskipun matanya terpejam ternyata Dinda belum sepenuhnya terjun ke alam mimpi dan masih bisa dengan jelas mendengar ucapan suaminya.


Shhiitt.....


Aduh.....'' Keluh Dinda saat mobil Alan tiba tiba berhenti mendadak.


''Kamu nggak apa apa, mana yang sakit?'' meraih kepala Dinda yang kini memerah karena terbentur ke arah samping.


Dinda menggeleng namun masih mengelus pelipisnya yang memerah.


''Ada apa sih, kak?'' tanya Dinda penasaran, nggak biasanya suaminya seperti itu.


''Tadi ada kucing lewat,'' jelasnya.


''Ketabrak nggak?'' tanya Dinda antusias.


''Nggak kok.''


Dinda membuka kaca dan melihat ada kucing yang makan di pinggir jalan.


''Timbang dulu. Naik berapa kilo?''


Dinda hanya tersenyum simpul, sedikit malu dengan berat badannya yang naik delapan kilo.


''Wah... ini pasti kamu banyak makan ya?'' Goda Daka.


''Nggak juga sih dok, hanya saja aku suka ngemil.'' jawabnya.


''Iya, ngemil pizza, burger, roti bakar, belum yang ringan,'' celetuk Alan yang mendapat cubitan dari Dinda telah membongkar rahasianya di depan dokter Daka.


''Nggak apa apa, tapi lain kali di kontrol juga, ibu hamil harus lebih hati hati saat makan, jangan asal enak di mulut tapi juga yang bergizi.''


Daka tersenyum renyah saat menatap layar monitor yang ada di depannya.


''Bayinya sehat, dan kemungkinan lengkap, cewek dan cowok.'' ucap Dokter Daka langsung.


''Beneran?'' tanya Alan dan Dinda bersamaan.

__ADS_1


''Ya, ini kan cuma perkiraan saja, Tuhan yang lebih tau, yang terpenting kamu, Al, jaga dengan baik istri cantikmu ini, jangan sampai dia pindah ke lain hati, apa lagi ke hatiku.''


Alan yang dari tadi menciumi wajah Dinda mendongak menatap tajam ke arah Daka yang berpura pura tidak tahu.


Aku suka saat kamu marah karena cemburu.


''Sekali lagi kamu bilang seperti itu, aku pastikan kamu tidak akan menjadi sepupu iparku.'' Ancam Alan.


''Kakak...'' seketika Dinda terbangun.


''Nggak boleh kayak gitu, kalau nggak sama Dokter Daka kasihan Salma nya dong, Dia kan sudah cinta banget sama dokter Daka. Dan Dokter Daka juga gitu, masa kakak mau misahin orang yang saling cinta, nggak baik.''


Daka hanya menjulurkan lidahnya ke arah Alan saat mendapat dukungan dari Dinda.


''Lagian, dia bilang kamu cantik, bikin aku emosi saja.'' gerutunya.


Ya aku kan emang cantik, kenapa di puji nggak boleh.


Setelah semua kembali ke ruang kerja Daka, Dinda hanya bisa celingak celinguk ke sembarang arah.


''Kamu cari apa sih?'' tanya Alan yang dari tadi penasaran dengan sikap istrinya.


Dinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


''Dokter nggak punya cemilan?'' tanya nya tanpa basa basi.


Daka meletakkan pulpennya di atas meja lalu menatap Dinda, sedangkan Alan menepuk jidatnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tempatnya duduk.


Perasaan tadi habis hampir sepuluh bungkus, masa iya lapar lagi, itu yang rakus anak anak aku apa emaknya sih, heran, apa setiap wanita hamil semua seperti ini ya.


''Sayang,'' ucap Alan menyetop Daka yang juga hampir saja membuka suara.


''Daka itu nggak pernah makan disini, jadi dia nggak punya cemilan, tadi aku lihat kamu kan sudah habis banyak, nanti saja ya kita beli lagi.''


Mendengar ucapan suaminya Dinda hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


''Siapa bilang, tu.'' Daka menyungutkan kepalanya ke arah meja kecil, bukan hanya camilan, dari buah sampai makanan berat pun ada.


Dinda menoleh, begitu juga dengan Alan.


''Wah.... banyak banget.''


Dinda menghampiri makanan itu dan duduk manis memulai ritualnya untuk memenuhi perutnya. Seperti mendapatkan hadiah terindah, Dinda sampai lupa minta izin saat makan.

__ADS_1


''Dapat dari mana sih?'' tanya Alan jengkel, tak biasanya Daka punya banyak makanan di ruangannya.


''Dari ibu ibu yang aku bantu persalinannya seminggu yang lalu, katanya itu ucapan terima kasihnya,'' jawabnya.


__ADS_2