Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Khawatir


__ADS_3

Satu bulan menikah, namun Dinda masih tak mendapatkan sedikit pun kasih sayang dari Alan, mereka bagaikan orang asing, bertanya bila butuh dan hanya saling tatap, jarang sekali menyapa satu sama lain, Alan akan menjawab jika Dinda bertanya, namun tidak bagi Alan, karena Ia tak pernah menanyakan apapun pada Dinda, dunia tanpa warna itulah hari hari Dinda setelah menikah.


''Kak Aku ke atas dulu, ucap Dinda beranjak dari kursinya.


Alan tak menjawab hanya melirik piring Dinda yang masih di penuhi makanan, begitupun dengan Syntia.


''Heh.... lama lama makin ngelunjak saja, tidak tahukah cara menghormati suaminya, ucap Syntia dengan nada menyindir.


Kenapa aku harus menghormatinya jika kak Alan saja tak mau menghargai aku.


Dinda menghentikan langkahnya sejenak, dan memutar tubuhnya kembali, namun Ia segera melanjutkan saat melihat tangan Alan mengelus punggung tangan istri pertamanya.


Kenapa tidak di makan, apa dia nggak suka, tapi nggak biasanya di seperti itu, batin Alan bertanya.


''Mas, aku pergi dulu ya, izin Syntia mengecup kening suaminya dan berlalu.


Sedangkan Alan masih saja duduk dan menatap tempat duduk Dinda yang kini kosong.


''Bi, panggil Alan saat Bi Romlah lewat.


''Iya Den, jawabnya mendekati Alan dan menunduk ramah.


''Dinda nggak kenapa napa kan?'' tanya Alan serius, ada raut ke khawatiran di sana, namun Alan masih saja menyembunyikan itu semua, tak mau Bi Romlah tau.


''Kayaknya Nggak Den, tapi akhir akhir ini Non Dinda sedikit aneh, terkadang minta Bibi bikin rujak mangga muda, dan terkadang minta makanan pedagang kaki lima di depan, jelas Bi Romlah, karena itu yang Ia tau.


Alan hanya mengangguk tanpa suara dan menyuruh Bi Romlah kembali.


Kenapa dia, kayaknya dia juga belum menggunakan kartu yang aku kasih, apa dia nggak pernah beli apapun, batinnya lagi.


Saking penasarannya Alan beranjak dan kembali berjalan menyusuri tangga.


Di lihatnya Dinda duduk di sofa depan kamarnya dengan menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

__ADS_1


''Kamu kenapa?'' tanya Alan melangkah pelan mendekati Dinda.


Dinda hanya menggeleng tanpa suara,


''Kenapa kakak belum berangkat?'' tanya Dinda saat beberapa menit Alan masih mematung di sana dengan kedua tangan di masukkan ke kantongnya.


''Ada barangku yang ketinggalan, Pria itu langsung saja membuka pintu kamarnya dan masuk.


Aku fikir kamu khawatir karena aku nggak nafsu makan, namun apa, aku hanya kegeeran saja, mungkin takdirku memang tidak akan mendapatkan kasih sayang darimu kak.


Karena perutnya merasa mual, Dinda segera masuk ke kamarnya dan berlari ke kamar mandi.


Dinda memuntahkan isi perutnya sepenuhnya, tak kuat jika harus menahannya, setelah di kira habis Ia membersihkan wajahnya, di liatnya wajah ayu yang kini makin kurus saja.


''Kenapa akhir akhir ini aku sering mual, sebenarnya aku sakit apa, guman Dinda kembali ke kamarnya.


Mungkin membaringkan tubuhnya sedikit meringankan kepalanya yang kini mulai pusing.


''Apa aku telepon bang Faisal saja ya untuk ke sini, kalau Kak Alan nggak mungkin dia peduli untuk menemaniku ke dokter, tapi kalau bang Faisal yang kesini, dia pasti curiga dan menyalahkan Kak Alan, gumamnya lagi, karena selama ini Dinda selalu saja menghalang halangi saat Faisal mau datang.


''Istirahat aja deh, nanti juga sembuh sendiri, ucapnya sebelum memejamkan mata.


Dalam perjalanan, Alan mulai memikirkan apa yang baru saja di ingatnya di rumah, bayangan Dinda mulai muncul di ingatannya seolah olah wanita itu mengikutinya dan duduk di sampingnya saat ini.


Shiittt..... umpat Alan saat mobilnya hampir saja menabrak pengendara lain, karena dari tadi Ia tak begitu fokus menyetir.


Alan menepikan mobilnya dan berhenti, merelasasikan sejenak dirinya yang saat ini kacau, otaknya semrawut tak karuan.


''Aku ini kenapa sih, lagi pula bukankah Dinda setiap hari memang seperti itu, manja, dan pendiam, tapi kenapa Aku khawatir padanya, gumamnya kecil seraya memukul mukul setirnya.


Setelah di kira cukup normal, Alan kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


Di depan gedung mewah yang menjulang itu dia di sambut Faisal yang sudah mematung di depan pintu, entah kenapa karena itu tak biasanya, Bahkan Faisal terus saja mengulas senyum saat mendekati mobil Alan yang sudah terparkir.

__ADS_1


Ada tatapan menyelidik di mata Alan, Aneh, mungkin itu yang kini melintas di hatinya yang tak bisa di ucapkan.


''Pagi, sapa Faisal.


Alan mengangguk, ''Ada apa, tumben nungguin disini''' tanya Alan datar.


''Hari ini kita kedatangan barang lengkap dari setiap kota dan dari luar negeri, dari serat alam maupun sintesis, Faisal mulai menjelaskan karena sudah tak sabar, ''Dan aku tau ini kesukaan Dinda, dia akan lebih berpengalaman untuk mencari cari bahan yang akan membuatnya lebih mudah untuk menguasai tentang kebutuhan desainer, dan dia pasti suka itu, ucap Faisal mengikuti jalan Alan untuk masuk ke kantornya.


''Kenapa harus ke sini, kalau di pabrik mama kan lebih lengkap dan siap pakai, jadi aku kira kurang pas jika kamu memanggilnya datang ketempat kita, biar aku yang urus, Dinda istriku, tegasnya tanpa menatap wajah Faisal.


Kenapa dengan Alan, kenapa dia terlihat marah jika aku ngomongin Dinda, aku kan cuma mau memperkenalkan salah satu bahan yang kwalitas di perusahaan suaminya, apa salah.


''Al, panggil Faisal saat keduanya berada didalam lift.


Alan menoleh masih dengan wajahnya yang kini kurang bersahabat.


''Hubungan kamu dan Dinda baik baik saja kan?'' tanya Faisal pelan namun seperti mengimintidasi adik iparnya tersebut.


Sial, apa aku tadi salah ngomong, kalau begini caranya Faisal bisa curiga.


Alan tersenyum paksa, ''Maksud aku bukan gitu, lebih baik di pabrik mama saja, di sana kan Dinda tinggal pilih dan ambil, tak perlu juga dia tau bahan utama, yang terpenting dia bisa membuat gambar, pola, dan model, bukankah itu kunci utama seorang desainer? bantah Alan.


''Tapi dia nggak kenapa napa kan Al?'' tanya lagi Faisal yang masih penasaran dengan sikap Alan pagi itu.


Terpaksa Alan menghentikan langkahnya.


''Dia sedikit kurang enak badan, aku kasihan kalau dia terlalu sibuk, jadi biar nanti saja, itu urusan gampang, menepuk pundak Faisal yang masih di sampingnya.


Kenapa dia tidak bilang padaku kalau dia sakit, sebenarnya mereka itu bahagia nggak sih, sepertinya juga ada yang di tutupi dari Alan dan Dinda, sepertinya mereka terus menghalangi aku untuk datang ke rumah, dan sepertinya Dinda juga menghindar dariku, Ya Tuhan lindungilah adikku, semoga dia bahagia hidup dengan suaminya.


Setelah Alan masuk ke ruangannya, Ia langsung duduk di kursi kebanggananya, tak terasa tiba tiba Ia teringat kembali dengan apa yang di ucapkan pada Faisal.


''Kenapa aku bisa berkesimpulan kalau Dinda sakit, Dia kan memang seperti itu, Nggak, ini mungkin cuma perasaanku saja, gumamnya dan mencoba untuk menepis dirinya yang menurutnya sedikit aneh.

__ADS_1


__ADS_2