
Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Faisal bersama kedua orang tuanya datang ke rumah Amel, tak ingin di anggap pengecut, pria itu tetap dengan gagahnya menghadap Pak Samuel dan sang istri, di tatapnya wajah sembab yang kini duduk di depannya, ada rasa melas di diri Faisal untuk Amel, wanita yang begitu setia mendampinginya tiga tahun terakhir itu.
Tak banyak kata, Faisal langsung mengatakan inti dari kedatangannya ke sana, meskipun masih berat untuk melepaskan perempuan baik nan cantik itu, namun bagaimana lagi, itulah yang harus di lakukan untuk bisa fokus demi kesembuhan sang adik. Dan Amel kembali terisak seakan memohon Faisal untuk melanjutkan pernikahannya.
Pria yang peka itu langsung tersenyum ke arah Amel.
''Jangan menangis, masih banyak laki laki yang lebih baik dari aku.'' Faisal menyeka air mata Amel.
Sedangkan wanita itu hanya menggeleng.
''Kalau kita tidak menikah sekarang, kita bisa menikah nanti, lima tahun lagi, bahkan sepuluh tahun lagi aku akan tetap sabar menunggu.'' ucap Amel lagi.
"Tidak!" seketika pak Samuel menyahut, menghentikan ucapan Amel yang menurutnya konyol.
"Kamu akan menikah secepatnya, dan papa akan mengadakan acara pertunangan kamu besok.'' tegasnya.
Kali ini tak ada yang membantah termasuk Amel yang makin sesenggukan di pelukan mamanya.
Apa yang harus aku katakan lagi, pasti Amel sangat hancur, Tuhan berikan aku jalan.
"Om," suara Faisal menyapa.
Kini semua beralih menatap wajah Faisal, termasuk kedua orang tuanya.
"Kasih aku waktu, aku akan menikahi Amel, tapi nunggu Dinda sembuh, nggak mungkin aku ninggalin adik aku." pinta Faisal, karena Ia pun tak punya ide untuk meredakan tangis Amel.
"Baiklah, aku kasih waktu satu bulan. Jika kamu belum juga menikahi Amel, terpaksa aku akan tetap menjodohkannya dengan anak temanku."
Faisal mengangguk, meskipun belum yakin untuk kesembuhan Dinda, kasihan juga Amel yang terus menunggu kepastian darinya.
Amel kembali memeluk Faisal dengan erat, dan menumpahkan airmata bahagianya di dada kekasihnya.
"Kamu tenang saja, aku pasti datang untuk menikahi kamu, doakan Dinda agar cepat sembuh!"
Amel mendongak menatap wajah Faisal yang terlihat banyak memikul beban.
"Aku akan bantu kamu, aku akan temani dia sampai sembuh, jangan khawatir." tukas Amel.
Hubungan yang hampir kandas itu kini tersambung kembali, dan Amel maupun Faisal berharap semua akan lancar sampai pada waktu yang akan menjawab.
Aku nggak tau, apa yang aku rencanakan ini akan berjalan mulus atau tidak, yang pastinya aku akan mencoba untuk menepati janji.
__ADS_1
Setelah semuanya beres, Faisal dan keluarganya itu pun pamit karena mereka sudah meninggalkan Dinda dengan waktu yang cukup lama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku tak se beruntung kamu." ucap Dinda dengan air mata yang terus menerus membasahi pipi, kali ini wanita itu mengingat masa kecil yang penuh kebahagiaan dan keceriaan, seakan keburukan tak hadir waktu itu, namun musibah dan bencana itu datang di saat dirinya yang menginjak dewasa.
Salma tersenyum dan mengusap bahu sepupunya.
"Siapa bilang, kamu yang lebih beruntung, Bapak dan Ibu masih ada, abang Faisal juga, mereka sangat menyayangi kamu, sedangkan Aku, sudah tidak punya keluarga lagi, kamu yang tenang ya." ucap Salma menangkup kedua pipi Dinda.
Masih dengan merangkul boneka dengan tangan sebelah, Salma mencoba untuk menarik boneka dari dekapan sepupunya itu.
"Jangan ambil dia." Dinda kembali mendekap erat boneka itu sembari menatap sinis ke wajah Salma, kesadarannya kembali hilang saat Salma memegang boneka itu.
"Aku kan mau menimangnya, bukankah dia keponakanku juga." ucap Salma, masih mencoba untuk meraih boneka itu.
Dinda memutar bola matanya seakan memikirkan sesuatu, entah apa hanya wanita itu dan Tuhan yang tau.
"Enggak.... Sedangkan Salma masih mengulurkan tangannya yang menengadah.
Masih juga menggeleng, padahal Salma sebisa mungkin meyakinkan Dinda untuk menyerahkan boneka itu.
Ingatan Dinda kembali lagi ke masa kecilnya di mana mereka sering berebut mainan dan ujung ujungnya berakhir dengan perdebatan kecil.
Dengan bibir manyunnya Dinda menyodorkan boneka itu ke arah Salma, "Tapi kamu harus jaga bayiku dengan benar, jangan sampai dia di rebut kak Alan lagi.'' cicitnya.
Dengan senang hati Salma tersenyum lalu menerima boneka dari tangan Dinda.
Salma mengangguk dan menitihkan air matanya, sedangkan keluarga Dinda yang menyaksikan dari balik kaca itu hanya menangis sesenggukan termasuk Faisal.
Bu Tatik menyeka air matanya memasang wajah tegar dan melangkahkan kakinya menghampiri Putrinya.
''Dinda, anak Ibu.'' panggilnya merentangkan kedua tangannya.
Masih seperti waktu kecil, Dinda yang melihat Ibunya itupun beranjak dari ranjang berlari kecil menghampiri Ibunya yang saat ini mematung dengan sebuah senyuman.
''Ibu...'' teriaknya berhamburan memeluk Bu Tatik.
Ada perasaan lega, setidaknya Dinda sudah ada kemajuan, tidak seperti hari pertama saat Dinda di katakan depresi.
''Aku mau pulang, tiba tiba saja Dinda ingat dengan keinginannya yang belum di penuhi Faisal.
__ADS_1
Bu Tatik tersenyum, ''Iya, nanti ya, kamu kan masih harus di rawat.'' ucap Bu Tatik menyelipkan rambut Dinda.
Dinda menoleh menatap wajah tua di samping ibunya, ''Bapak.'' cicitnya beralih memeluk Pak Yanto.
''Anak bapak baik, kan?''
Dinda mengangguk, lalu menoleh menatap Salma yang masih duduk di tepi ranjangnya.
Dinda kemudian menghampiri Salma dan merebut bonekanya.
''Salma jahat, Bu, dulu dia suka merebut mainanku, dan sekarang di mau merebut anakku,'' seperti bocah yang mengadu pada Ibunya saat bertengkar dengan temannya, itulah Dinda saat ini.
"Biar abang yang hukum Salma, ya?" Faisal menghampiri Salma dan menggandengnya keluar.
Jedug......seketika Salma meringis seraya mengelus jidatnya saat wajahnya menabrak sesuatu yang sedikit keras. Gadis itu belum menatap kedepan dan masih fokus dengan keningnya yang memerah.
"Kamu, ngapain kesini?" tanya Faisal pada orang yang kini berdiri tegap di depan sepupunya.
Tak menjawab, matanya fokus pada gadis di depannya.
"Sini, biar aku obatin." mengambil stetoskop di saku jasnya.
Dengan cepat Faisal menepis tangan pria di depannya yang hampir saja memegang rambut sepupunya.
"Modus, ini jidat, bukan jantung." cetusnya membawa Salma pergi dan melewatinya begitu saja.
Pria itu masuk menatap Dinda yang makin tenang.
"Halo.... suara familiar membuat Dinda segera menoleh ke arah sumber suara.
"Dokter." seru Dinda, masih mengingat jelas pria yang beberapa hari ini membuatnya tertawa geli dengan kekonyolannya.
"Kangen ya sama aku," ujarnya lagi menuntun Dinda membawanya ke sofa.
Dinda menggeleng karena itu kenyataannya.
"Dokter Daka mau periksa bayi aku?" tanya Dinda.
Ternyata pria yang baru saja bertabrakan dengan Salma adalah Dokter Daka, sahabat Faisal.
"Boleh, mengambil alih boneka Dinda, meskipun hatinya pilu melihat keadaan Dinda, Daka tetap menampilkan wajah biasa dan berharap wanita di sampingnya itu cepat pulih kembali.
__ADS_1