Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Cemburu buta


__ADS_3

Plok.... plok..... plok...suara tepuk tangan itu menghentikan langkah Dinda, dengan sigap Ia menoleh ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya saat mendapati suaminya dengan kaki menyilang dan baju yang masih rapi.


Kan Alan, ternyata dia masih di rumah, batin Dinda.


Dinda yang tak mengerti sambutan tersebut kembali melangkahkan kaki mendekati suaminya.


''Kakak nggak ke kantor?'' tanya Dinda dengan polosnya, bahkan wanita itu tak merasa kalau Alan disana gegara dirinya.


''Jam berapa sekarang?'' tanya Alan, namun pandangannya mengarah ke depan.


''Jam Sebelas,'' jawabnya setelah menilik jam yang melingkar di tangannya.


''Apa kamu tau berapa jam kamu di luaran?'' tanya lagi Alan dengan tangan mengepal dan mengeratkan giginya.


''Tiga jam,'' jawabnya lagi santai.


Heh.... Alan memicingkan bibirnya lalu menggebrak meja di depannya hingga membuat Dinda tersentak kaget.


Ada apa dengan kak Alan, kenapa dia harus marah, bukankah dia yang membebaskanku untuk keluar kapanpun.


''Apa yang kamu beli selama itu?'' masih menyelidik.


Dinda membuka kantong kreseknya dan mengeluarkan semua yang di beli di sofa.


''Lihat sendiri,'' pintanya.


Alan sedikit melirik ke arah benda benda yang menurutnya tak penting.


''Kenapa lama sekali, bukankah toko itu dekat?'' Alan tak henti hentinya memberi pertanyaan seperti Budi saja, itulah batin Dinda.


''Tadi aku ketemu sama teman se kampung, jadi aku ngobrol sama dia, jawabnya mulai pelan dan melemah sembari memasukkan kembali barang barang yang baru saja di belinya.


Teman tapi seakrab itu, dia fikir aku bisa di tipunya.


''Jawab yang jujur, siapa laki laki tadi, kenapa kamu tertawa dan bercanda dengan dia, dan sepertinya dia begitu akrab dengan kamu?'' Kali ini wajah Alan sudah berapi api dan menatap lekat manik mata Dinda yang sudah berkaca.


Jadi kak Alan melihat aku dan Mas budi, tapi itu kan benar teman sekampung aku, jika dia tidak punya perasaan sama aku, kenapa dia marah, harusnya dia bahagia dong, batin Dinda.


''Percaya atau tidak, aku sudah berkata jujur, dia teman aku dari kampung, dan dia yang punya toko manik manik di samping cafe tadi,'' jelasnya.


''Dasar pembohong,'' Alan meraih tangan Dinda dan membawanya menuju ke kamarnya.


''Kamu kira aku laki laki bodoh yang gampang kamu tipu,'' mendorong Dinda ke atas ranjangnya.

__ADS_1


''Maksud kakak apa?'' bibir Dinda mulai keluh untuk berkata, tubuhnya merasakan dingin saat Alan mengunci pintu kamarnya dan melepaskan jas dan sepatunya.


Dinda terus mundur, saat Alan kini melepas kemeja dan naik ke ranjang mendekatinya.


'Kak, aku mohon jangan lakukan ini, aku sedang hamil,'' Ucap lagi Dinda mengiba, dan terus menangkupkan kedua tangannya.


Namun Alan menganggap suara Dinda hanya angin yang lewat, baginya ia harus menyalurkan hasratnya pada Dinda.


Dengan emosi yang masih menggebu, Alan tak bisa mengabulkan permintaan Dinda dan terus mengukung istri keduanya dalam dekapan hangatnya.


''Kak, bisik Dinda saat Alan memulai aksinya.


Alan tak menggubris dan melakukannya, tak peduli lagi, ingin segera melampiskan nafsu yang di tahannya dari tadi.


''Apa kamu tidak mau melayaniku?'' tanya Alan dengan suara parau.


Akhirnya Dinda memilih mengangguk tanda menerima, dari pada Alan marah dan melakukan nya dengan kasar seperti waktu itu.


''Pelan pelan,'' bisiknya lagi.


Karena itu adalah hak suaminya yang kapan pun bisa di lakukannya, meskipun Alan tak mencintainya, setidaknya Dinda sebagai istri sudah berusaha membuat suaminya se nyaman mungkin.


Selang beberapa menit Dinda maupun Alan berbaring keduanya saling menatap langit langit dengan selimut yang menutupi tubuh keduanya.


''Lain kali aku tidak mau kamu bicara dengan laki laki di luaran sana, ucap Alan tegas.


Kenapa dengan perutku, kenapa rasanya sakit banget, Ya Tuhan, semoga anakku baik baik saja. keluh dalam hati.


Dinda beranjak dan membawa selimut ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Alan hanya bisa senatap punggung Dinda menghilang di balik pintu.


Aku tidak mencintainya, tapi kenapa aku nggak suka dia dekat dengan laki laki lain, apa lagi dia terlihat begitu akrab dengan laki laki itu.


Entah kenapa Alan pun tak ingin pergi dari kamar istrinya, dan masih bertahan membaringkan tubuhnya yang lemas itu di ranjang Dinda.


Ceklek, pintu kamar mandi terbuka, Dinda muncul dengan jubah mandinya dan rambut basah yang terurai.


Alan menoleh dan mendapati Dinda mendesis sembari memegang perutnya.


''Kamu kenapa?'' tanya Alan biasa, karena baginya Dinda memang manja dan selalu terlihat lemah.


''Kak, perutku sakit,'' mencoba sekuat tenaga untuk sampai di kursi rias.


''Nanti juga sembuh,'' makin cuwek saja dan memilih merem.

__ADS_1


Dinda memilih untuk tak membantah lagi, mungkin benar apa kata suaminya, dan itu hanya efek pergulatannya dan sebentar lagi sembuh, ia memilih untuk mengeringkan rambutnya dan mengganti bajunya.


Namun kali ini Dinda sudah benar benar tak tahan, pandangannya semakin rabun dan itu sukses membuatnya runtuh di atas lantai.


Alan yang sedari tadi memejamkan matanya itu sontak terbangun saat tangan Dinda menyenggol kakinya yang ada di ujung sana.


''Dinda...'' panggilnya saat menatap tubuh Dinda yang sudah tergeletak dengan mata terpejam, dengan sigap Alan memakai bajunya dan menghampiri Dinda yang ada di bawah.


Alan langsung mengangkat tubuh mungil Dinda ke atas ranjangnya.


''Dinda bangun Din, ada rasa takut mendominasi dengan rasa khawatir saat menatap wajah Dinda yang bagat pucat.


''Din, bangun, jangan manja seperti ini, masih menepuk pipi Dinda yang masih saja anteng.


''Aku harus gimana, apa aku harus panggil dokter, ya dokter, gumamnya sembari mondar mandir saat bingung melanda, baru juga ingin meraih ponsel, Alan kembali terbelalak saat melihat darah segar yang menghiasi kaki istrinya.


"Darah apa ini, Apa Dinda pendarahan, apa akan terjadi sesuatu dengan bayiku?'' gumamnya.


Tak hanya kaki Dinda, ternyata tangan Alan pun terkena noda merah, mungkin terkena saat mengangkat tubuh Dinda tadi, namun itu tak di hiraukannnya yang penting saat ini adalah jalan keluar untuk Dinda yang tak berdaya.


Akhirnya Alan kembali membuka pintu dan mengangkat tubuh Dinda membawanya keluar kamarnya.


''Bi, Teriak Alan saat berada di ujung tangga.


''Iya Den, Bi Romlah berlari kecil menghampiri Alan yang sedang menggendong tubuh Dinda.


''Ini kenapa Den?'' tanya Bi Romlah ikut panik.


''Dinda pendarahan Bi, suruh pak Tedi siapkan mobil,'' titahnya.


Tak perlu nunggu waktu, Bi Romlah langsung keluar mencari pak Tadi.


Setelah mobil siap, Alan langsung memasukkan tubuh Dinda lalu duduk di sampingnya menopang kepala Dinda di pahanya.


"Pak cepat dikit ya!" titahnya saat mobil siap melaju.


Pak Tedi mengangguk tanpa suara.


"Aku harus telepon mama," mencari ponsel di sakunya.


Alan berdecak kesal dan memukul pintu mobil, saat ponselnya itu tidak ada.


Aku kan taruh di kamar Dinda tadi, batinnya

__ADS_1


"Pak pinjam ponselnya, ucapnya, karena Ia tak mau salah di mata mamanya yang sangat menginginkan bayinya tersebut.


Setelah tersambung Alan langsung saja bicara ke inti, dan menyuruh mamanya untuk datang ke rumah sakit.


__ADS_2