Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Penuh kejutan


__ADS_3

Setelah memakan waktu tiga jam. Kini Alan sudah berada di rumah sakit intuk periksa, Faisal yang menjadi supir ikut mengantarkan adik iparnya setelah mengantar istri dan anak anaknya pulang ke rumah. Meskipun masih sebel dengan Alan yang memintanya untuk memakai parfum Amel, peran Faisal tetaplah amat penting bagi Alan dan Dinda yang sedang kesusahan.


"Sini biar aku yang periksa!" Goda Daka yang menyambut kedatangan mereka.


Faisal tertawa lepas, sedangkan Alan malah terlihat cemberut didepan mereka, sepertinya kedua pria itu memang sangat bahagia di atas penderitaannya.


Tanpa bersuara Alan meraih tangan Dinda meninggalkan kedua pria itu.


Alan dan Dinda segera menuju ruangan Dokter spesialis gastroenterologi untuk segera mengetahui kondisi perutnya yang sebenarnya.


Satu jam Alan berada di dalam bersama Dinda memberi tau sang dokter akan keluhannya selama dua hari ini.


"Tapi dari hasil USG tidak ada penyakit yang bapak derita," ungkap Dokter Hadi.


Alan masih saja ngeyel dan mengatakan kalau Dokter itu kurang teliti lagi.


"Kak, mungkin saja kakak hanya masuk angin biasa," ucapan Dinda lah yang bisa menyurutkan emosinya yang sempat memuncak. Karena nyatanya tak hanya kemarin, pagi tadi, bangun tidur sebelum mereka berangkat pulang Alan pun mengalami mual dan muntah.


"Apa Ibu sedang hamil?" tanya Dokter Hadi lagi, tiba tiba saja melintas di otaknya mungkin Alan mengalami sindrom couvade.


Alan Dan Dinda saling pandang lalu keduanya menggeleng.


"Apa Ibu sudah periksa kandungan Ibu?"


Dinda menggeleng lagi, karena semenjak kelahiran dua bocah kecilnya Dinda tak pernah iseng untuk periksa kandungan.


Dokter Hadi tersenyum simpul.


"Sekarang Ibu periksa ke Dokter Daka, dan kemungkinan Pak Alan sedang ngidam."


"Ngidam, bukankah harusnya perempuan yang ngidam, kenapa harus laki laki, apa ini normal?''


Alan tak mau memendam apa yang ingin di tanyakan.


"Normal sekali pak, bahkan beberapa kasus memang seperti itu, istri hamil suami yang ngidam, ada juga istri yang melahirkan tapi suami yang merasa kesakitan." Jelasnya.


Meskipun berat aku ikhlas dan aku siap untuk merasa sakit, merasakan apa yang di rasakan Dinda.


Setelah keduanya berjabat tangan, Dinda menggandeng Alan untuk segera keluar dan bertemu dengan Dokter Daka.


Baru saja membuka pintu, orang yang akan di tuju ada di depannya menyambutnya dengan senyuman.


"Apa dokter bilang?" Tanya Faisal antusias, kali ini pria itu terlihat sangat serius dengan apa yang menimpa adik iparnya.


Alan diam dan melirik ke arah Dokter Daka. Sedangkan Dinda hanya mengulas senyum.


"Kata Dokter Hadi, kak Alan tidak sakit apa apa, aku di suruh periksa ke Dokter Daka," jawab Dinda jujur.


"Maksudnya?" Tanya lagi Faisal yang belum mengerti.


"Mungkin saja aku hamil, kak Alan yang ngidam."

__ADS_1


Keduanya sudah tak bisa menahan tawa lagi, mereka berdua melepas tawa dengan keras sampai sampai mengeluarkan air mata, saking bahagianya.


"Nggak ada yang lucu, Bang," seru Alan tak terima.


''Oke, sekarang kalian ke ruangan ku."


Menggiring Alan Dan Dinda menuju ruangannya, tak berhenti begitu saja, selama perjalanan menuju ruangan Daka,vabang iparnya itu masih saja bisik bisik tentangnya.


Tak menunggu waktu lagi, Dinda segera ke ruangan periksa.


Belum ada raut kebahagiaan di wajah pasangan suami istri itu, namun Alan berharap apa yang di katakan Dokter Hadi itu adalah sebuah kenyataan yang akan di terimanya.


Dengan merasakan sedikit mual, Alan menemani Dinda di ruangan periksa, meskipun tak fokus setidaknya ia masih bisa berada di samping sang istri.


Ada senyum yang terbit di sudut bibir Daka, setelah beberapa menit memeriksa, pria itu tak perlu di ragukan lagi dengan keahliannya memijat perut wanita. Bisa di bilang handal dalam bidang mencari letak janin.


"Selamat mual sampai tiga bulan, semoga menjadi bapak yang lebih baik lagi." Memeluk dan menepuk punggung Alan.


Pria itu tercengang mendengar pernyataan Daka.


''Aku hamil?'' tanya Dinda yang masih berbaring.


Daka mengangguk.


Sontak Alan membangunkan tubuh istrinya dan memeluknya dengan erat.


"Akhirnya kerjaku selama ini nggak sia sia."


"Aduuhh...." keluh Alan.


Sedangkan Dinda mencubit pinggang suaminya.


"Kenapa sih?" Tanya Alan pura pura tak ingat dengan ucapan absurdnya.


"Malu maluin?" jawab Dinda berbisik.


Alan hanya terkekeh dan mencium pipi istrinya.


"Harusnya tadi waktu kamu bilang pasang speaker yang tinggi, biar semua orang tau hasil kerja kamu sekarang, kasih tau mereka cara adonnnya juga." celetuk Daka.


Menjadi bapak tak menyurutkan kesoplakan mereka dan terus saja melahirkan tingkah tingkah konyol saat bersama.


"Gimana?'' Tanya Faisal saat pintu terbuka dari dalam.


"Aku benaran hamil, ternyata kak Alan hanya ngidam." Jelas Dinda seraya tersenyum.


Hanya ngidam, tapi rasanya luar biasa.


Faisal dan Daka hanya ber-tos ria merayakan kehamilan sang adik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sesampainya di rumah, tak hanya anak anak anak yang menyambut, namun di teras rumah sudah ada pak Heru dan Bu Yanti, beberapa pegawai dan Salma serta Amel yang sudah di sana.


Dinda terkejut saat menapaki lantai, Ibu dua anak itu di kejutkan dengan perayaan ulang tahun dari anak mertua dan semua pegawainya.


Bingung, itulah Dinda, ia menoleh menatap Alan yang mematung di sampingnya.


"Kakak ulang tahun?" tanya nya.


Alan menggeleng, "Kamu yang ulang tahun." jawabnya.


"Aku?" ucap Dinda lagi, seakan tak percaya kalau hari ini adalah hari bahagianya, di saat bersamaan ia menerima hadiah dari Tuhan.


Jika dulu wanita itu sangat antusias menunggu bertambahnya umur, kini Dinda tak lagi memikirkan itu semua, hari harinya selalu sibuk dengan anak anak hingga ia melupakan setiap hari penting.


"Selamat ulang tahun ya, Dek, di umur yang ke dua puluh empat ini abang harap kamu menjadi istri dan Ibu yang lebih baik lagi."


Dinda memeluk tubuh kekar abangnya.


Kini bukan lagi kado yang di harapkan, tapi doa yang terbaik untuk keluarga kecilnya.


Setelah melepaskan pelukannya, Dinda menangkup kedua pipi Alan.


"Terima kasih kejutannya, Aku tidak tau dengan cara apa aku membalas semua yang kakak berikan, dan aku harap kakak tidak akan berubah pikiran sampai nanti kita menua."


Bukan hanya saat ini saja, tahun tahun sebelumnya Alan juga merayakan ulang tahun Dinda dengan berbagai cara yang berbeda, dan kali ini pun di suasana yang berbeda pula.


Alan mengangguk tanpa suara dan membawa tubuh Dinda ke dalam dekapannya.


Lima tahun kita bersama, setidaknya kebahagiaan yang aku berikan lebih panjang dari pada waktu yang menyakitkan, andaikan waktu bisa di putar, aku ingin membahagiakan kamu dari pertama menikah, tapi semua sudah terlanjur, menyesal pun percuma, dan sebisa mungkin aku akan membuat kamu dan anak anak bahagia.


Setelah puas Dinda dan Alan serta Faisal menghampiri keluarganya yang sudah menyiapkan kue besar di sana.


Meskipun tak tepat seperti yang di rencanakan Alan dan Daka serta Faisal, setidaknya mereka masih bisa merayakan ulang tahun Dinda dengan meriah dan penuh kejutan.


Dinda menghampiri Bu Yanti yang saat ini ikut bertepuk tangan.


"Aku juga punya kejutan buat mama."


"Apa?" tanya Bu Yanti penasaran.


"Aku hamil," ucapnya berkaca, tak bisa membendung air mata kebahagiaan.


Bu Yanti ikut meneteskan air mata dan memeluk menantu kesayangannya.


''Dan mama harus bersiap untuk melayani kak Alan yang ngidam." lanjutnya lagi.


"Jadi...?"


"Jadi kak Alan nggak sakit, tapi ngidam."


Semua hanya bisa tertawa mendengar penuturan Dinda.

__ADS_1


__ADS_2