
Pagi tiba, matahari belum menyapa, namun Dinda sudah menyetrika lantai sembari memegang pinggangnya yang merasa pegal.
Sesekali Dinda menatap wajah Alan yang masih terlelap, tak berani untuk membangunkannya namun enggan juga jika keluar, pasti mama dan papa mertuanya juga masih tidur.
Rasa sakit pada perutnya semalam benar benar membuatnya harus terjaga dan terus memiringkan tubuhnya ke kiri kekanan.
''Apa aku telepon abang saja ya?'' gumamnya.
Dinda yang sudah merasa tak betah akhirnya meraih ponsel yang ada di nakas.
Baru saja ingin membukanya, Alan menggeliat dan menepuk nepuk tempat tidur di sampingnya.
Setelah tak menemukan yang di cari Alan mulai mengerjap ngerjapkan matanya.
''Din, panggilnya dengan mata yang masih menyipit, sorot lampu remang remang membuat pandangan Alan begitu samar mencari sosok istrinya yang kini mematung di samping ranjang.
Alan membuka mata dengan lebar mencari keberadaan Dinda yang masih membisu.
''Kamu ngapain disitu?'' Alan menyibak selimutnya dan menghampiri istrinya.
''Perutku sakit.'' jawab Dinda pelan, dan kembali duduk di tepi ranjangnya.
''Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang.'' ucap Alan dan berlari ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama Alan sudah mengganti bajunya dan kembali menghampiri Dinda yang masih di tempat.
Alan menuntun Dinda sembari memainkan ponselnya untuk menghubungi Daka, kali ini tak seperti kemarin, meskipun suaranya masih terlalu berat, Daka langsung menjawab telepon darinya.
''Tolong hubungi abang juga!" Pinta Dinda saat Alan memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
Alan kembali menghubungi Faisal, sama seperti Daka yang antusias, Faisal pun langsung menjawabnya, tak butuh basa basi, Faisal maupun Daka yang ada di seberang sana pun bersiap ke rumah sakit setelah mendengar penjelasan Alan.
Tak sempat untuk membangunkan mama dan papanya, Alan segera membawa Dinda naik mobil saat wanita itu mulai merigis sembari menyangga perutnya yang menurutnya hampir jatuh.
Dalam perjalanan beberapa menit, Dinda hanya bisa diam, sesekali wanita itu menatap arah Alan yang terlihat sedikit panik saat lampu merah.
"Kak," panggil Dinda.
Alan menoleh.
"Jika nanti anakku lahir, tolong jaga dia dengan baik, jika kakak tidak ingin mengingatku, anggap saja anak ini lahir dari rahim Mbak Syntia, terima kasih karena kakak sudah peduli sama aku, setelah ini aku akan ikut abang pulang kampung."
__ADS_1
Dinda menyeka air matanya sembari memegang satu tangan Alan.
"Maaf jika kehadiranku membuat masalah di kehidupan kakak, aku akan tepati janjiku, kita akan bercerai setelah anak kita lahir."
Meskipun terasa pedih namun Dinda tetap harus menerima kenyataan kalau ini adalah detik detik terakhirnya bersama Alan, pria yang pertama kali memasukkannya ke dalam jurang masalah, dan pria yang pertama kalinya mengenalkan akan pahitnya kehidupan.
Masih mengelus perutnya Dinda kembali menatap ke depan. Sedangkan Alan yang mendengar ucapan Dinda kini merasa ngilu, entah kenapa seakan ada hatinya yang tergores saat Dinda meneteskan air matanya.
"Kita bahas lagi nanti, kamu harus fokus dengan anak kita."
Dinda kembali menggigit bibir bawahnya saya
at rasa sakit itu kembali menyerang.
Yang sabar ya nak, tunggu kita sampai tempatnya, Mama nggak mau terjadi apa apa sama kamu. batinnya.
Alan kembali melanjutkan laju mobilnya saat lampu kembali hijau.
Selang beberapa menit mobil Alan tiba di depan rumah sakit, di sana sudah ada Daka yang siaga dengan kursi roda di depannya.
Melihat mobil Alan berhenti, dokter itu berlari menghampiri Dinda dan Alan.
Gawat, bayi Dinda harus segera diselamatkan.
''Al, cepetan, kita harus bawa Dinda masuk, kita nggak punya banyak waktu.'' ucap Dokter Daka saat Alan tercengang menatap lantai yang sudah basah.
''Maaf, dengan polosnya kata itu meluncur dari bibir Dinda, karena wanita itu merasa kalau dia pipis di sembarang tempat.
Baru kali ini Alan merasa iba melihat Dinda, wanita yang berbulan bulan di nikahinya itu ternyata hanya wanita lemah, bahkan saat wanita itu mencengkeram tangannya dan menangis.
''Din kamu santai ya, semua akan baik baik saja!" ucap Daka menenangkan dan menepuk nepuk lengannya, sedangkan Alan yang masih di sana kini mulai bingung dan tak bisa berfikir jernih dengan apa yang harus di lakukan.
"Al, jaga Dinda, aku akan persiapkan semuanya.'' menepuk bahu Alan lalu berlari keluar.
Alan yang sudah tiba di depan ruang bersalin itu pun membuka dan mengangkat tubuh istrinya membaringkannya di atas brankar.
Dinda melirik tangan Alan yang basah saat menyentuh kakinya.
"Maaf, nanti kalau sudah sehat kembali aku akan mencuci baju kakak," ucapnya tersendat menahan sakit.
Alan tersenyum dan menyelipkan rambutnya yang menutupi jidatnya.
__ADS_1
"Iya, nanti kamu yang akan mencuci bajuku dan menyiapkan makan untuk aku," ucapnya lagi, entah dari hati atau tidak, ucapan itu seakan meluncur begitu saja.
"Aku ingin ke kamar mandi." menarik lengan Alan meminta bantuannya untuk bangun.
Baru saja turun dari ranjang, Daka datang bersama suster.
"Mau ke mana?"
"Kamar mandi." jawab Alan menuntun Dinda.
"Pengin apa Din, pipis apa pup?" tanya Sang Dokter masih dengan ke khawatirannya.
"Dua duanya dok." kembali mencengkeram baju Alan dengan kuat.
"Baiklah, nggak usah di tutup, tidak apa apa."
Selama Dinda di kamar mandi, Alan berjaga di depan pintu, sedangkan Daka mempersiapkan peralatan pemeriksaan juga persalinan, meskipun kurang seminggu prediksi kelahiran Dinda, namun air ketuban yang pecah itu sebagai tanda tanda kelahiran sang jabang bayi.
Sudah hampir sepuluh menit didalam, namun Dinda belum ada tanda tanda untuk keluar, akhirnya Alan yang merasa khawatir itu membuka suara, sedangkan Daka hanya menatap punggung Alan yang masih mondar mandir di depan pintu kamar mandi.
Semoga saja hati Dinda masih selembut dulu dan mau menerima kamu.
''Sudah belum Din?'' teriak Alan yang kedua, tak ada jawaban, namun terdengar isakan tangis dari dalam membuat Alan langsung masuk tanpa permisi.
''Kenapa lagi?'' merengkuh tubuh Dinda yang sesenggukan sembari bersandar tembok di sampingnya.
Kali ini tubuh Dinda merasa lemas dan tak berdaya, jangankan untuk berjalan, menopang tubuhnya pun tak kuat.
"Kak....'' suara lemas itu mengiringi matanya yang kini tertutup rapat.
Seketika Alan langsung memeluk erat tubuh Dinda yang tak berdaya.
Merasa tak ada pergerakan dari Dinda, Alan kembali membopong tubuhnya dan membawanya keluar menuju brankar.
Kini tak hanya kotor dengan air ketuban yang sudah hampir mengering, namun ada bercak darah yang mengenai bajunya.
''Tolong selamatkan Dinda!" menarik lengan Dokter Daka yang mematung di belakangnya.
Dokter Daka mengangguk tanpa suara, bukan hanya karena permintaan Alan, tapi ucapan Faisal yang juga bilang seperti itu saat di telepon.
Aku bukan Tuhan yang bisa memberi kehidupan, tapi aku akan berusaha membuat Dinda serta anaknya selamat dan kembali di tengah tengah kalian.
__ADS_1