Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Tingkah konyol Bu Yanti


__ADS_3

Lima hari di rumah sakit, kebosanan melanda di hati Dinda, dan akhirnya wanita itu kekeh untuk minta pulang meskipun Alan masih tak mengizinkannya, namun demi menuruti keinginan istri tercinta terpaksa Alan harus mengalah.


Sambutan yang luar biasa di lakukan seluruh keluarga terutama pegawai rumah Alan, meski bayi yang belum bisa sepenuhnya melihat itu tak tau apa apa, setidaknya antusias mereka begitu besar saat menyaksikan majikannya kembali ke rumah dalam keadaan baik baik saja.


''Habis berapa uang untuk beli balon, Bi?'' Tanya Dinda basa basi saat matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang di penuhi dengan balon warna warni serta di balut dengan pita indah.


Endah menunduk seraya menaut kedua tangannya, sedangkan Bi Romlah menghitung dengan jarinya.


''Kira kira dua ratus ribu, Non.'' Jawab Bi Romlah dengan polosnya.


Dinda menepuk lengan pembantunya, ''Tenang, nanti kak Alan yang bakalan ganti.'' Dengan entengnya ucapan itu meluncur dari bibir tak bertulang.


Cuma dua ratus ribu saja, aku kira habis berapa juta Bi.


Dengan perlahan Alan mendudukkan Dinda di sofa ruang keluarga, sedangkan dua bayi kembar sudah di bawa ke kamar kedua orang tuanya.


''Bibi suka nggak punya majikan yang seperti ini?'' Menangkup kedua pipi Dinda dan menciumnya.


''Suka banget Den, jangan di tanya lagi, pokoknya Bibi akan mengabdi di rumah ini selamanya, tapi,_ ucapan Bi Romlah menggantung.


Kini semua mata beralih tertuju pada wanita paruh baya yang memang tersebut.


''Tapi apa?'' tanya Dinda penasaran.


''Tapi jika Aden dan Non tetap bersatu, kalau sampai kalian berpisah, Bibi nggak mau ikut aden, dan bibi memilih untuk ikut Non Dinda dan dedek kembar.'' celetuk Bi Romlah.


Alan tersenyum, begitu juga dengan Dinda yang meraih tangan Bi Romlah.


Bi Romlah benar benar sayang sama Dinda, sampai sampai dia bilang seperti itu di depanku.


''Tidak akan ada yang berpisah, Kami akan terus bersama selamanya, Bibi jangan khawatir, lagi pula, aku nggak mau kalau istri dan anak anakku yang aku hasilkan dengan susah payah itu menjadi milik orang lain,'' Alan menggenggam kedua tangan Dinda.


''Perjuanganku untuk mendapatkan dirinya saja begitu besar Bi, Dan aku tidak akan menyia nyiakannya lagi, dan semua ini berkat bang Faisal dan Daka yang selalu mendukungku dari belakang, tanpa mereka aku tidak akan bisa mendapatkannya.''


Pak Yanto yang duduk di samping Dinda, no comment, dan hanya bisa tersenyum, akhirnya putera putrinya meraih kebahagiaan juga.


Baru juga keduanya saling bermesraan, terdengar suara tangisan bayi, di pastikan kalau itu adalah bayi mereka.

__ADS_1


Alan dan Dinda menuju ke kamarnya, meskipun sudah ada mama dan Ibu serta Salma di sana, Dinda tetap merasa khawatir dengan suara nyaring tersebut.


''Siapa yang nangis, Ma?'' tanya Dinda menghampiri mamanya yang terlihat panik.


''Ini si Tama kayaknya haus.'' Meskipun sudah di buatkan susu Formula, bayi mungil itu tetap menangis dan tak mau membuka mulut.


''Sini, mungkin haus Asinya, Ma.''


Menang lagi dia, nangis langsung dapat, kira kira kalau aku nangis kejer bakalan dapat itu nggak ya.


Nyatanya Alan hanya bisa menggerutu dalam hati, takut kena bully sang istri.


Setelah duduk di tepi ranjang, Dinda mengambil alih bayi laki lakinya dari tangan mertuanya, sedangkan si Fana tetap terlelap meskipun saudaranya itu geger bikin suasana ramai.


"Nanti Ibu bikinin jamu untuk kamu, supaya asinya lancar,'' ucap Bu Tatik mendekati Dinda dan melihat betapa kuatnya bayinya itu menyedot makanannya.


''Iya, mama juga punya resep lo, jamu tradisional, selain memperlancar Asi juga membuat kamu awet muda,'' imbuh Bu Yanti yang tak mau kalah.


''Ma, ada anggak jamu buat Aku,'' Alan ikut nimbrung, masa iya hanya Dinda yang di tawari sedangkan ia selalu saja menjadi pendengar setia.


Bu Yanti diam seperti memikirkan sesuatu.


Seketika Dinda terbatuk mendengar ucapan konyol mama mertuanya. Entah yang melintas dalam otaknya itu benar atau salah yang pastinya Dinda langsung menjurus ke sana.


Sedangkan Salma memilih untuk keluar dari pada harus malu sendiri. Bu Tatik hanya bisa tersenyum, baru kali ini melihat sikap asli besannya yang sangat kocak.


''Kenapa sayang?'' tanya Alan mengambilkan segelas air minum untuk sang istri.


Dinda menggeleng menahan tawa melihat suaminya yang seperti tak paham dengan ucapan mamanya.


''Al,'' panggil Bu Yanti lagi.


Alan menoleh dalam diam saat menatap wajah sang Ibu yang kini terlihat serius.


''Sekarang kamu sudah menjadi Ayah, bagaimanapun juga mereka semua adalah tanggung jawab kamu,'' ucapnya menepuk bahu putranya.


''Dan malam ini kamu tidur di sofa, mama harap kamu jauh jauh dari Dinda sampai waktu yang menentukan.'' Lanjutnya lagi.

__ADS_1


Alan tercengang, makin tak mengerti saja dengan ucapan mamanya.


''Kenapa mama mau misahin aku dari istri dan anak anakku, apa salahku, Ma?'' Alan tak kalah serius, bahkan Alan langsung menaruh gelasnya di atas meja.


''Bukan gitu, Al, mama takut kalau kamu nggak bisa bahan nafsu saat lihat Dinda yang semok begitu.'' menyungutkan kepalanya ke arah sang menantu yang terlihat makin berisi setelah melahirkan.


''Maksud mama apa? bukankah itu memang kewajiban aku memberi nafkah padanya sebagai istriku, kenapa harus mama larang, ini namanya nggak adil.''


Apa? jadi Kak Alan nggak tau kalau ia bakalan puasa lama, dasar otak saja mesum, tapi perkara sepele seperti ini saja nggak tau.


Seketika Bu Yanti menoyor jidat Alan, ''Kamu itu bakalan puasa sampai dua bulan, jadi jangan harap bisa menyentuh Dinda sedikitpun.'' jelasnya.


Alan berpikir sejenak sebelum manggut manggut mengerti, meskipun masih banyak pertanyaan dalam hati Alan memilih untuk diam. Malu dengan Ibu mertuanya yang dari tadi hanya bisa mengulas senyum melihat tingkahnya dan Bu Yanti.


Itu artinya aku nggak bakalan bisa menikmati apa yang aku punya, dan anak anakku sendiri yang akan mengalahkanku, tapi nggak apa apa, pasti bang Faisal juga merasakan sama sepertiku, jadi Daka nggak bisa meledekku.


Malam sudah semakin larut, namun Alan sama sekali tak bisa memejamkan mata dan terus menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, tak peduli Dinda, yang pastinya Alan memendam sesuatu yang tak bisa di salurkan saat itu.


Kenapa ini, kenapa aku jadi gerah banget.


Alan beranjak dan melihat Ac, ternyata normal saja, namun dirinya makin aneh dan memilih untuk membuka piyama tidurnya.


Melihat Dinda dan kedua bayinya yang tertidur pulas Alan mendekati mereka dan menciumnya secara bergantian.


"Kakak, kok belum tidur," ucap Dinda yang merasa terusik dengan benda kenyal di keningnya.


"Nggak tau nih, sayang, tiba tiba saja aku nggak bisa tidur, kayaknya ada sesuatu yang terjadi, apa aku tadi salah makan yang membutaku bergairah ya?" Mengingat ingat makanan yang dikonsumsi segarian ini.


Dinda hanya tersenyum melihat Alan yang tak bisa tenang.


"Sini!" meraih tengkuk leher suaminya.


''Kakak sih ceroboh, Aku yakin itu efek jamu dari mama, lain kali kakak nggak boleh minum sembarang jamu, lihat kan sekarang jadi gini,'' Dinda terus mencium sang suami mencoba untuk meredakan hasrat yang menyelimuti Alan.


Itulah akibat keras kepala, padahal Dinda sudah melarangnya untuk minum, tapi dengan percaya dirinya Alan meneguk segelas obat kuat tradisional dari Bu Yanti yang memang sengaja mengerjainya.


''Mendingan kakak mandi, nanti pasti bisa tidur lagi,'' melepaskan ciumannya dari bibir Alan.

__ADS_1


Alan segera ke kamar mandi, berharap apa yang di katakan Dinda itu benar.


''Dasar mama nggak ada akhlak, bisa bisanya dia membuat aku benar benar kelabakan kayak gini.'' gerutunya saat mengguyur seluruh tubuhnya dengan shower.


__ADS_2