Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Makan malam bersama


__ADS_3

Acara makan malam dengan menu yang sederhana, namun tetap membuat keluarga Dinda merasa hangat. Apa lagi kedatangan Alan semakin meramaikan meja makan di sana. Di lihat beberapa menu khas kampung, namun itu malah makin membuat perut Alan keroncongan ingin mencicipi makanan ala Bu Tatik sang mertua.


''Bu, anak Ibu nggak mau melayani suaminya,'' keluh Alan tanpa menyentuh piring ataupun sendok.


Dinda yang merasa kesal hanya bisa menatap Alan dengan tatapan tajam. Sedangkan Bu Tatik langsung menghampiri Dinda yang sudah memenuhi piringnya dengan nasi dan lauk.


''Nak, nggak baik, biar bagaimanapun Nak Alan masih sah menjadi suami kamu, layani dia dengan ikhlas.'' tutur Bu Tatik pelan.


Mau nggak mau harus mau, itulah jika sang Ibu sudah bicara.


Terpaksa Dinda mengambil piring yang ada di depan Alan dan mengambilkan nasi untuknya, tanpa menawari, Dinda langsung mengambilkan telur balado yang ada di sana.


''Jangan protes, kalau masih mau tidur di kamar, kecuali jika mau tidur di luar.'' Seketika Alan menciut, takut kalau malam yang dingin itu ia harus tidur di kamar Faisal, bagaikan wortel makan wortel.


Makan malam berjalan dengan lancar meskipun sangat hening namun Alan terlihat menikmati masakan mertuanya. Begitu juga dengan Faisal yang memang kangen dengan makanan kampung.


Pandangan Alan masih tertuju pada istrinya yang saat ini ikut membereskan meja bersama Salma dan ibunya, sedangkan Alan berada diruang keluarga bersama abang dan bapak nya.


''Nak Alan, apa kamu sudah bilang sama Bu Yanti kalau mau nginep sini?'' tanya pak Yanto yang asyik nonton acara komedi.


''Belum, pak, niatnya nanti mau Vc dengan Dinda juga.'' ucapnya pelan.


Pak Yanto hanya manggut manggut mengerti.


''Pak...'' panggil Alan lagi dengan serius.


Hemmm.....pak Yanto menaruh remot tvnya dan beralih menatap Alan.


''Apa bapak masih mengizinkan aku untuk membawa pulang Dinda?'' tanya Alan dengan serius, takut kalau niatnya kali ini tak di setujui orang tua Dinda karena kesalahannya dulu.


Pak Yanto tersenyum, ''Bapak tidak ikut menjalani, dan bapak hanya bisa mendukung anak bapak, jadi semua keputusan ada di tangan Dinda, tapi,_ ucapan pak Yanto menggantung dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


''Bapak tidak mau kejadian kemarin terulang lagi, kasihan Dinda, di saat umurnya masih sangat muda, dia harus mengalami kejadian yang pahit,'' ucapan pak Yanto memang bagaikan tusukan untuk Alan, namun bagaimana lagi pria itu harus tetap menerimanya.


''Aku tau pak, dan aku minta maaf sudah menyakaiti anak bapak, aku janji, setelah kita tiba di kota, Dinda akan kembali bersekolah untuk mengejar cita citanya, dan aku akan menjaganya dengan baik.''


Faisal hanya diam mendegarkan ucapan Alan, karena saat ini dirinya pun merasa sedih karena hubungannya yang mungkin sudah benar benar kandas, janji ingin datang ke rumah Amel dalam waktu satu bulan, faktanya ini sudah hampir dua bulan namun Faisal belum memberi kabar apapun pada Amel.


Tak berkata Faisal memilih untuk pergi ke teras depan.


Bang Faisal kenapa, apa dia nggak setuju kalau aku balikan sama Dinda, kok kayaknya dia sedih gitu.


Melihat Dinda yang masih sibuk dengan Ibunya Dan Salma, Alan mengikuti Faisal hingga ke depan.


Ternyata abang iparnya duduk di lantai bawah sembari menatap bintang yang gemerlap, angin malam yang dingin semilir menerpa bulu halus Alan yang saat ini hanya memakai kaos pendek.


''Abang kangen sama Amel?'' celetuk Alan ikut duduk di samping Faisal


''Nggak enak banget kamu manggilnya, panggil nama lebih enak.''


''Aku kan adik ipar abang, nggak baiklah panggil nama, kurang sopan.''


''Abang kenapa sih, abang nggak setuju kalau aku balikan sama Dinda?'' tanya Alan saat mendapati wajah Alan makin resah.


Faisal menggeleng.


''Berarti benar abang kangen sama Amel?'' Alan kembali memastikan kalau terka nya itu benar.


''Kangen, tapi mungkin aku sudah nggak bisa miliki dia lagi.'' ucapnya menunduk, menyayangkan dengan keadaannya saat ini.


''Kenapa?'' tanya Alan yang tak tau menau perjanjian itu.


''Karena aku nggak menepati janji, aku janji sama Amel akan datang untuk menemuinya dalam waktu satu bulan, tapi ini sudah lebih, dan Om Samuel juga bilang kalau dalam satu bulan aku tidak ke sana, Amel akan dijodohkan dengan orang lain, itu artinya mungkin saat ini Amel sudah bertunangan dengan pria lain.'' Seperti ada patah semangat di wajah Faisal, dan itu membuat Alan harus berpikir keras untuk mempersatukan mereka lagi.

__ADS_1


Faisal terlihat sangat kecewa, tapi bagaimana lagi, semua sudah terlanjur, menyesal mungkin, tapi Faisal bahagia, akhirnya perjuangannya tidak sia sia dan Dinda kembali seperti dulu lagi.


''Abang tenang saja. Aku akan bilang sama papa untuk bicara sama Om Samuel. Semoga mereka mengerti dengan keadaan abang yang tak bisa datang tepat waktu.''


Alan mencoba meyakinkan Faisal untuk menghilangkan rasa gundah yang menyelimutinya saat ini.


''Tidak usah, Mungkin Amel memang belum jodohku, dan aku sudah ikhlas, dengan siapapun dia menikah, yang penting dia bahagia.''


Kasihan bang Faisal, dia sudah banyak membantuku, dan sekarang giliran aku akan membantunya, semoga belum terlambat.


''Kakak, abang,'' suara Dinda mengejutkan Faisal dan Alan, keduanya saling pandang dan saling menelan saliva, takut jika Dinda mendengar percakapan keduanya, pasti wanita itu akan merasa bersalah dengan apa yang menimpa abangnya.


''Kamu dari kapan disini?'' tanya Faisal antusias saat menghampiri Dinda.


''Barusan, memangnya kenapa, ganggu ya?''


Faisal tertawa lalu menggeleng, ''Enggak, Abang cuma terkejut saja.'' merangkul pundak Dinda.


Semoga Dinda nggak dengar percakapanku dengan Alan tadi.


Alan ikut beranjak menghampiri Dinda dan Faisal yang masih berada diambang pintu masih sama saat pertama datang, kali ini Dinda pun masih menatap Alan dengan tatapan sinis.


''Apa lihat lihat, ingat, nanti tidur kakak di bawah,'' ucapnya jengkel mengingatkan kalau Dinda masih marah sama Alan.


''Iya, iya, yang penting aku kan bisa nginep disini, dari pada harus diluar mendingan di bawah, iya kan, bang?''


''Betul, dan jangan sampai kamu tidur disana.'' menunjuk pohon mangga yang begitu besar dan lebat dengan daunnya.


''Nanti bisa bisa di kelonin kunti.'' bisik Faisal membuat bulu kuduk Alan seketika merinding. Ini pertama kalinya ia merasa ngeri dengan hal yang mistis, meskipun pria itu tak begitu percaya dengan hal yang begituan, nyatanya saat ini Alan merasa tak sanggup untuk lama lama di luar.


''Tidur yuk, sudah malam.'' meraih tangan Dinda untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Dinda mengikuti Alan setelah Faisal mengangguk.


Apapun keputusan kamu, abang cuma bisa mendukung, tapi kali ini abang pastikan kalau Alan benar benar mencintai kamu apa adanya. Dan semoga apa yang kamu harapkan bisa terwujud secepatnya.


__ADS_2