Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Tingkah aneh Dinda


__ADS_3

Hari yang sangat melelahkan bagi Alan, ini tak pernah di alami sebelumnya, gara gara ucapan bang Faisal, kini ia yang kena karma dari Dinda yang harus membuatkannya roti bakar dengan selai campur tujuh rupa, masih dalam suasana ngambek, Dinda terus berkacak pinggang mengawasi saat Alan di dapur. Ala chef yang memberi waktu kontestan yang sedang mengikuti lomba.


''Lima menit lagi.''


Ucapan Dinda makin membuat Alan gugup. Karena baru saja ia menutup si roti dan belum membaliknya.


''Sayang, ada pelanggan datang tu.''


Sembari menyiapkan piring, Alan pura pura menyungutkan kepalanya ke arah pintu yang terbuka.


''Jangan bohong, aku sudah menyerahkan semuanya sama Endah.'' Salah satu pegawai yang bekerja di konveksi Dinda.


Tuhan, tolonglah aku, jangan bikin istriku ngambek, lama lama kalau kayak gini aku cepat ubanan.


Entah kasihan tau tidak, semenjak pulang dari rumah Faisal ada saja yang diminta Dinda dari Alan.


''Satu menit lagi.'' menilik jam yang melingkar di tangannya, dan mungkin Alam semesta memang berpihak pada Alan yang saat ini sudah membawa roti bakar dengan selai pelangi ke arah istrinya.


"Silahkan tuan putri!" dengan kekesalannya Alan tetap mempersembahkan senyum manisnya.


Tak di makan, Dinda hanya menatap roti bakarnya sembari melirik ke arah Alan yang menautkan kedua tangannya ke arah belakang. Celemek masih belum terlepas dan juga masih bau dapur.


"Kakak harus ganti baju dulu, kalau masih kayak gini aku nggak nafsu makan nih." Ucapnya lagi sebel. Bahkan seakan tak ingin menatap wajah Alan yang saat ini mematung di sampingnya.


Namun rasa kekesalan Dinda lebih jengkel lagi Alan. Karena ini bagaikan siksaan dari Dinda entah yang ke berapa kali. Yang pastinya Alan sudah kenyang dengan permintaan konyol yang sudah berlangsung berhari hari.


"Baiklah tunggu ya, Aku ganti baju dulu!"


Tak mau lama lama, karena Alan pun mau jika kelamaan pasti Dinda akan kembali meluapkan amarahnya.


"Sudah, sayang." Teriaknya dengan membenahi kancing kemejanya.


Kali ini Dinda mendengus kesal saat menatap penampilan suaminya.


"Kenapa pakai baju bagus sih, aku maunya kamu pakai kaos saja, lagi pula nanti kalau ada yang lirik gimana?" masih dengan meninggikan suaranya.


Ya Tuhan, ujian apa ini. Semoga Engkau menidurkan istriku agar aku bisa tenang, doa Alan dalam hati.


Baru saja membalikkan tubuhnya dan beberapa langkah meninggalkan Dinda, pintu terbuka.


Alan dan Dinda menatap dari kejauhan, ternyata Faisal dan Amel serta Daka yang tak sengaja barengan.

__ADS_1


"Abang..." teriak Dinda dengan di iringi senyuman.


Amel menatap Faisal dengan tatapan aneh, sedangkan Faisal sendiri bingung, semua tak sesuai ekspektasinya. Karena Faisal mengira kalau Dinda masih marah dan tak menerimanya saat datang. Tapi semua itu berbanding balik karena Dinda menyambutnya dengan senyuman.


Mengikuti alur cerita wanita itu Faisal ikut tersenyum dan menghampiri Dinda yang baru saja menggigit rotinya di bagian pojok.


"Mbak Amel mau?" menawari yang masih utuh.


Amel menggeleng, karena beberapa hari ini Ia memang tak nafsu makan, apa lagi yang berbau manis.


''Aku yang mau.'' Daka mengulurkan tangannya.


Seketika Dinda menepis tangan Dokter lapuk tersebut seraya mata melotot menegaskan kalau itu bukan untuknya.


Faisal menatap Alan yang masih mematung di belakang Dinda, tak bisa memberi penjelasan, Alan hanya biasa mengangkat kedua bahunya. Tak mengerti dengan Dinda yang emosinya naik turun.


''Kamu nggak marah kan sama abang?'' tanya Faisal memeluk Dinda dari samping.


Dinda menggeleng tanpa suara karena mulutnya penuh dengan makanan.


Dia sudah nggak marah sama abang, semoga saja dia juga sudah lupa dengan permintaanya ke aku.


''Kakak....'' panggilnya lagi.


''Aku ngantuk.'' ucapnya lalu menguap setelah meneguk segelas air putih.


Ya ampun itu cewek kayak orang hamil saja.


Nyatanya Daka pun tak berani bersuara dan hanya bicara dalam hati.


''Akhirnya doaku terkabul juga.'' gumam Alan, namun dengan jelas Dinda masih mendengar itu semua.


''Kakak nggak ikhlas melayani aku.'' nada sewot.


Suara Dinda membuat Alan menelan ludahnya dengan susah payah. Kenapa bisa dia keceplosan.


Daka dan Faisal hanya menahan tawa melihat wajah Alan yang menciut, bahkan mereka pura pura untuk tidak melihatnya.


''Bu... bukan itu maksud aku, sayang.'' saking gugupnya Alan persis komedian OVJ.


''Terus?'' bentak Dinda.

__ADS_1


''Doaku karena, masih mikir dengan apa yang akan di ucapkan. ''Kamu menghabiskan rotinya, jadi kan sekarang kamu kenyang, udah ya, marah marahnya, sekarang gantian kita ke kamar.''


Dengan sesabar mungkin Alan meredakan emosi Dinda yang mungkin sudah meletup letup di dadanya.


''Oh... iya, Dinda kembali menoleh saat keduanya sudah tiba di depan pintu.


Alan kembali ketar ketir dengan apa yang di ucapkan Dinda, mudah mudahan tak menyulitkannya lagi.


''Abang, aku ingin Dokter Daka push up.''


Seketika Dokter Daka keselek dengan cemilan yang baru saja masuk ke kerongkongannya hingga membuat Faisal harus membantunya untuk mengambil air minum.


Alan hanya bisa tertawa geli, ternyata kedatangan tamunya kali ini sangat meringankan bebannya untuk menjadi pelampiasan Dinda.


''Din, ada orang ngelahirin, aku mau balik.'' merogoh kunci dari saku jasnya.


''Awas saja, sekali lagi kamu melangkah keluar, aku pastikan Salma tidak akan menjadi istri kamu.'' ancaman Dinda yang sukses menghentikan langkah Dokter Daka.


''Karena Dokter Daka pun tak mau wanita yang baru di lamarnya sebulan yang lalu itu tak menjadi pendampingnya.


Alan tak bingung dengan kelakuan istrinya yang seperti orang kesurupan, karena itu memang sudah berlangsung beberapa hari. Dan kali ini giliran Faisal yang mendekati Dinda dan menempelkan punggung tangannya di kening sang adik.


Nggak demam, tapi dia kenapa ya.


''Berapa kali Din?'' mungkin mengalah akan membuat suasana kembali baik.


''Lima puluh kali, kalau bantah seratus kali.''


Dan lagi lagi suara Dinda menghentikan mulut Daka yang mangap ingin protes.


''Abang, awasi dia, kalau sampai berhenti, aku pastikan dia nggak akan jadi sepupu aku.''


Setelah punggung Dinda menghilang, Daka dan Faisal serta Amel bernafas dengan lega setelah beberapa saat tegang.


Meskipun Dinda sudah tak nampak, tetap Daka mau melakukan hal konyol meskipun dengan gerutuan yang tak berhenti.


Tak seperti saat di luar yang sok kuasa, Kini Di dalam kamar Dinda menangis sesenggukan di pelukan Alan, tak mengerti dengan dirinya sendiri yang memang ingin marah, jika di tahan malah membuat dadanya sakit.


''Kak, aku minta maaf.''


Ucapan Dinda malah membuat Alan tak mengerti.

__ADS_1


''Nggak apa apa, aku ikhlas kok, yang penting kamu bahagia, apapun akan aku lakukan demi kamu.''


Alan membawa Dinda ke ranjang lalu membaringkannya.


__ADS_2