
Satu jam Dinda terkapar di atas brankar, semangat demi semangat ia terima dari seluruh keluarga terdekat, meskipun kini ia lebih merasa tenang, tak dapat di pungkiri kalau rasa takut itu tetap ada di saat Dinda mengalami kontraksi lagi, dan itu makin membuat Alan panik, dan sesekali mencekik Daka jika mendengar rintihan istrinya. Padahal Dokter Indri lah yang menangani persalinan Dinda, namun kekesalan itu selalu di luapkan untuk sahabatnya yang selalu menakut nakuti tanpa henti hentinya. Akhirnya Daka memilih hengkang dari pada harus mati sia sia di tangan sahabatnya.
''Kak, aku ingin lihat Ibu,'' menarik lengan Alan yang ada di sampingnya.
Alan segera keluar dan memanggil mertuanya yang baru saja datang.
Bu Tatik tersenyum saat mendekati Dinda.
''Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu, yang semangat, Ibu yakin kamu pasti bisa.'' Lagi lagi penyemangat itu di dapat dari ibunya.
Dinda mengangguk dan mulai merasakan nyeri lagi di bagian pinggangnya.
''Kakak....'' jerit Dinda saat perutnya kembali merasakan sakit, bahkan kali ini Dinda sudah tidak dapat menahannya lagi untuk tidak membuka suara dan terus memanggil nama Alan.
''Iya, aku disini,'' mengelap peluh yang membanjiri keningnya.
Dinda mencengkeram tangan Alan dengan kuat seraya mendengarkan instruksi demi instruksi yang dokter Indri berikan, sesekali wanita itu menggigit bibir bawahnya saat menahan rasa sakit yang luar biasa, jika dulu dengan tenangnya bayi mungil itu hadir, kini harus penuh dengan tenaga dan perjuangan demi putra putrinya.
''Ayo ibu sekali lagi,'' seketika Dinda mengejan sekuat tenaga saat mendengar perintah dari dari Dokter Indri, tak hanya Dinda, Alan yang ada di dekatnya pun ikut merasakan campur aduk melihat jerih payah sang istri, Bahkan Alan ikut menjerit di saat Dinda mencakar lengannya.
Setelah tiga kali mendengar aba aba dari sang dokter, kini bayi mungil berjenis kelamin laki laki sudah terlahir di iringi dengan tangisan yang menggema.
Entah apa yang di rasakan Alan saat menatap tubuh lemah yang masih berlumur darah, yang pastinya pria itu tak bisa berkata selain memeluk wajah Dinda yang masih terlihat lemas.
Baru saja Dinda ingin bicara, wanita itu kembali mengeratkan pegangannya saat merasakan sakit di bagian perutnya.
''Kak, sakit,'' suara Dinda lemah.
''Iya, aku tau, demi anak kita, bertahanlah, aku akan ada di sini untuk kamu.'' ucap Alan kembali merengkuh tubuh Dinda.
__ADS_1
Seperti saat melahirkan bayi pertamanya, Dinda kembali menjadi pasien yang penurut dan hanya mendengarkan ucapan Dokter yang menanganinya, tak seperti tadi yang butuh waktu lama, dalam waktu lima belas menit, bayi berjenis kelamin perempuan itupun ikut hadir dengan suara merdunya.
Alan kembali menumpahkana air matanya di wajah sang istri, mungkin mengucapkan kata terima kasih saja tidak akan bisa membalas apa yang sudah di berikan Dinda padanya, bahagia yang tak bisa di ungkapkan dengan kata kata membuat Alan terus menangis sedenggukan.
''Kakak sudah dong, malu di lihatin suster,'' ucap Dinda menyeka air mata suaminya.
Alan mencoba tersenyum lalu mencium kening Dinda. ''Terima kasih atas semuanya.''
Dinda mengangguk.
''Permisi,'' suara Dokter Indri dan suster membuyarkan keduanya.
Dokter Indri meletakkan bayi laki laki tepat di dada Dinda, begitu juga sang suster yang juga meletakkan bayi perempuan di sampingnya, untuk menyusu dini.
''Sekarang pak Alan yang sabar ya, karena bentar lagi mereka yang akan menguasai Bu Dinda sepenuhnya,'' goda sang Dokter yang memang sudah mengenal keluarga Sudrajat.
Alan hanya bisa terkekeh sekaligus malu mendengar ucapan wanita paruh baya tersebut. Benar saja, baru beberapa detik, kedua bayinya sudah mendapatkan apa yang di inginkannya, dan itu akan berlanjut untuk meyisihkannya.
''Jangan buru buru, nak, papa nggak akan rebut kok.'' Melihat keganasan bibir mungil yang dengan lahapnya menyedot milik istrinya, Alan terus saja menggoda, tak peduli para suster menjadi penonton, yang pastinya Alan merasa itu adalah kebahagiaan tersendiri baginya.
Selama beberapa menit, kini kedua bayi yang sudah merasa kenyang itu di bawa ke ruangan bayi di ikuti Alan dari belakang, sedangkan Dokter dan suster membersihkan Dinda setelah lahiran.
''Dok, aku bisa langsing lagi kan?'' tanya Dinda saat di kamar mandi.
Dokter Indri tersenyum, ''Ibu masih sangat muda, jangankan hanya langsing, wajah Ibu saja masih seperti perawan, nggak usah khawatir, tapi saya sarankan, saat menyusui, ibu jangan diet dulu, kasihan bayi ibu, apalagi mereka ada dua, Ibu harus menambah porsi lagi saat makan.''
Ya....kalau gitu kapan dietnya sih, kalau sudah lahir saja masih harus makan banyak, tapi nggak apa apa deh, aku yakin kak Alan pasti mengerti.
Sedangkan di tempat lain, setelah meng-Adzani dua bayinya, kini Alan segera ke kamar mandi, selain mengganti bajunya yang kusut karena ulah istrinya, Alan juga merapikan rambut yang beberapa kali kena jambakan Dinda, tak hanya itu, Alan juga membersihkan luka luka kecil akibat keganasan wanitanya saat melahirkan.
__ADS_1
"Daka, kamu jaga baik baik ketiga cucuku ya!" titah Bu Yanti saat di depan ruangan bayi.
"Baik tante, mereka akan selalu dalam pengawasan kami, dan aku pastikan ketiga cucu tante akan baik baik saja."
Mendengar ucapan Daka, Bu Yanti merasa begitu tenang, meskipun di sana banyak yang menjaga wanita itu tetap tak bisa tinggal diam begitu saja.
Setelah terlihat rapi dan cantik, kini Dinda sudah di pindahkan ke ruang rawat seperti Amel kakak iparnya, namun keduanya tak bisa saling jenguk dan hanya bisa saling mengucapkan selamat lewat ponsel.
"Sayang," Seru Bu Yanti yang baru saja masuk, tak hanya mertua, ibu dan bapaknya pun ikut menjenguknya setelah tadi menjenguk Amel.
"Mama, Kak Alan mana?" Tanya nya karena tak mendapati pria yang menjadi korban amukannya tadi.
"Di sini," tiba tiba suara yang di rindukan menyembulkan kepalanya di depan pintu.
"Mana bisa dia jauh dari kamu, kalian itu kaya magnet yang selalu nempel."
Semuanya hanya bisa tertawa mendengar ucapan Bu Yanti.
"Kalau nggak nempel nggak bisa bikin junior lagi dong ma," Alan menaikkan kedua alisnya dengan cepat.
Semua hanya saling pandang mendengar ucapan mesum Alan yang melebihi tingkat dewa.
"Kakak...itu dedeknya saja belum tumbuh, masa iya mau bikin junior lagi," bisa bisanya suaminya itu kembali membuatnya malu setelah tadi di ruang bersalin.
"Aduh...." cicit Alan mengusap telinganya yang terasa sakit karena jeweran istrinya.
"Bercanda sayang, dua saja sudah membuat aku nggak kebagian itu, apa lagi tiga."
menyungutkan kepalanya ke arah buah dada Dinda yang tertutup rapat.
__ADS_1
Kapan sih kak, kamu nggak mempermalukan aku di depan mama dan ibu, masa iya mau berebut sama anak anak.