Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Mengambil barang


__ADS_3

Kelahiran sang buah hati pastilah akan di rindukan setiap ibu yang mengandung, namun tidak bagi Dinda, seakan menginginkan bayi itu terus ada di dalam perutnya, semakin bertambah umur kandungannya semakin membuat hati Dinda perih, bagaimana tidak, meskipun itu anak kandungnya, Dinda sudah pernah mengucap janji dan itu adalah hutang yang harus di bayar.


Seakan tak reka jika harus berpisah dengan sang buah hati, namun kali ini Dinda mencoba untuk tegar, karena Ia masih bisa melahirkan seorang anak meskipun dari pria lain, tapi Dinda merasa kasihan dengan Syntia, wanita yang malang itu, wanita yang tak bisa memberikan anak untuk suaminya.


''Kamu yakin mau memberikan anak kamu untuk suami kamu?'' dengan sorot mata yang begitu serius Faisal menanyakan hal itu berulang kali, dan jawaban dari Dinda tetap sama mengangguk, dan Dinda tak mau bersilat lidah.


''Baiklah, kalau itu keputusan kamu abang juga nggak bisa berbuat apa apa,'' memeluk Dinda sebelum pamit kerja.


Sepertinya pagi ini mendung, gumpalan awan hitam itu menutupi sang mentari yang akan menampakkan cahayanya.


Dinda yang dari tadi memandang langit itu akhirnya memilih untuk masuk ke dalam rumah, hari ini Amel tak datang karena ada acara penting dengan butiknya, dan wanita itu tak bisa mengajak Dinda karena perjalanan jauh, takut Dinda capek dengan perutnya yang sudah besar.


Sendirian gini enaknya ngapain ya, batin Dinda.


Akhirnya ibu hamil itu membuka ponselnya, barang kali ada yang penting, namun nyatanya Dinda hanya menscroll karena tak ada sesuatu yang penting masuk.


''Apa aku ke rumah Kak Alan saja ya, baju aku kan sebagian masih tertinggal di sana, dan aku akan ambil mesin jahit serta baju buatan aku, siapa tau laku, kalau di jual online.'' gumamnya.


Setelah memantapkan hatinya, Dinda meraih tasnya dan keluar dari apartemen abangnya.


Kali ini Dinda memilih naik taksi dari pada ojek, karena Dinda pun cepat capek jika duduk kelamaan.


Selang tiga puluh menit Dinda sudah tiba di depan rumah Alan, seperti biasa rumah itu sepi, hanya ada penjaga yang bertugas dan pembantu yang melakukan aktivitasnya masing masing.


''Non Dinda, seru Bi Romlah berlari berhamburan memeluk tubuh Dinda yang saat ini ada di ambang pintu. karena kerinduan yang mendalam bi Romlah sampai menitihkan air matanya saat Dinda itu mengulas senyum.


Lesung pipit nan gigi gingsul itu khas membuat siapa aja tak akan bisa melupakan wajah Dinda.


''Bi, jangan gini dong, mengelus punggung Bi Romlah yang bergetar.

__ADS_1


''Apa non pulang ke sini lagi?'' tanya Bi Romlah antusias.


Dinda menggeleng. ''Sekarang aku tinggal dengan bang Faisal, dan maaf aku tidak bisa kesini lagi bersama Bibi, ucapnya melemah. mata Dinda ikut berkaca, meskipun Alan memberi kenangan pahit di rumah itu, tapi Bi Romlah dan pembantu yang lain memberi kenangan yang begitu indah, bahkan Bi Romlah yang membantu Dinda dengan apapun yang di butuhkannya.


''Bibi ngerti, di mana pun non berada, bibi akan doakan semoga non mendapatkan tempat yang terbaik,'' Doa bi Romlah.


Dinda kembali merengkuh tubuh wanita paruh baya itu.


''Non mau ketemu den Alan?'' menggandengnya masuk.


Dinda menggeleng, ''Aku mau ambil baju aku yang ketinggalan disini, dari pada di buang sama kan Alan mendingan aku bawa, dan sekalian mesin jahit, lumayan lah buat nanti di kampung,'' ucapnya menjelaskan lagi tujuannya datang.


Bi Romlah mengangguk dan mengantarkan Dinda menuju kamarnya.


Namun kali ini Dinda menghentikan langkahnya saat suara dari kamar Alan dan Syntia itu terdengar ribut, dan selama menikah dengan Alan baru kali ini Dinda mendengar sepasang suami istri itu saling bentak.


Dinda menatap arah Bi Romlah yang kini malah mengangkat kedua bahunya mengisyaratkan kalau Bi Romlah juga tak tau permasalahan yang menimpa Alan dan Syntia.


Dinda yang mengerti dengan maksud Bi Romlah itu pun langsung ke kamarnya.


Dinda membuka lemari mengambil setumpuk baju buatannya serta bajunya sendiri yang masih tersisa di sana, tak ingin menyisakan satu pun miliknya di kamar itu, baginya Ia akan pergi tanpa meninggalkan jejak apapun untuk Alan.


''Gimana dengan mesin jahitnya, Non?'' tanya Bi Romlah, tak mungkin Dinda mengangkat nya sendiri meskipun dengan bantuan Bi Romlah nggak mungkin kuat juga.


''Pak Tedi kan ada Bi, minta bantuan saja sama dia.''


Akhirnya Bi Romlah kembali turun memanggil pak Tedi yang ada di depan.


Sembari menunggu kedatangan Bi Romlah dan pak Tedi, Dinda mengambil sebuah kertas dan pulpen dari laci.

__ADS_1


Di tulisnya sebuah pesan singkat dari hati.


Kan Alan, aku minta maaf, jika kehadiranku selama ini membuatmu dan Mbak Syntia tidak nyaman, aku akan pergi jauh dengan semua luka yang pernah kamu berikan, tapi demi apapun aku tidak akan membalas perlakuan kamu padaku, kita sama sama berdoa saja semoga perpisahan kita adalah jalan yang terbaik, dan di saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada di sini, jangan benci aku sebagai Dinda orang yang masuk ke dalam kehidupan kamu tanpa sengaja, tapi kenanglah dan rindukan aku sebagai Ibu dari anak kita, selamat tinggal.


Setelah menyeka air matanya Dinda melepas cincin kawinnya dan meletakkannya di atas kertas tersebut, lalu melipatnya dengan rapi, tak lupa Dinda kembali memasukkan kertas itu ke dalam laci.


Pak Tedi datang bersama Bi Romlah, keduanya langsung menjalankan perintah mengangkat mesin jahit membawanya turun.


Dinda mengikutinya dari belakang membawa tas ransel miliknya.


Saat melewati kembali kamar Alan, Dinda masih mendengar suara ribut itu, namun tak sekeras tadi, cuek itulah Dinda, baginya Alan dan Syntia bukan urusannya lagi.


Untung wanita itu meminta taksi untuk menunggunya, dan itu memudahkannya untuk pulang.


''Terima kasih ya pak, Bi, Aku pulang dulu,''


Bi Romlah mengangguk, melihat Dinda yang sedikit kesusahan untuk jalan itu membuat bi Romlah kasihan, namun ia bisa apa selain berdoa yang terbaik.


Bi Romlah dan pak Tedi melambaikan tangannya seperti Dinda saat taksi meninggalkan halaman rumah Alan.


Bi Romlah kembali masuk, tak sengaja berpapasan dengan Alan yang memasang wajah kusutnya menuju meja makan.


''Sepertinya ada suara mobil, siapa yang datang?'' tanya Alan yang masih menatap bagian belakang taksi.


''Maaf, den, tadi Non Dinda datang.'' Bi Romlah ragu takut kalau Alan marah.


Seketika Alan menatap wajah Bi Romlah memastikan kalau pembantunya itu tidak bohong.


''Ngapain dia?'' tanya Alan lagi.

__ADS_1


''Ngambil mesin jahit dan bajunya, katanya mau di bawa ke rumah Den Faisal,'' jelas Bi Romlah lalu meninggalkan Alan.


Alan yang merasa masih kacau perdebatannya dengan Syntia itu hanya diam dan menjambak rambutnya seakan pikirannya buntu dan tak bisa berfikir jernih.


__ADS_2