Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Selamat jalan Baby boy


__ADS_3

Seminggu penuh, mata Alan nyaris tak terpejam, jika tiga hari mencari Dinda, kini bergantian pria itu menjaga sang buah hati yang makin kritis, meskipun dokter dari luar negeri sudah di datangkan Pak Heru, masih saja kondisinya menurun, bahkan tulang rusuk bayi itu seakan terlihat menonjol, saking kurusnya.


Alan menangis di rangkulan mamanya, ia menganggap kalau ini adalah karma baginya, begitu juga dengan Daka yang hanya bisa berdoa karena tim medis hanya bisa berusaha, bukan menentukan.


Alan mencium pipi bayinya dengan lama dan lembut. Menyayangkan akan sikapnya selama ini yang belum pernah membahagiakan bayi dan ibunya.


''Maafkan papa.'' bisik Alan memeluk putranya.


Tak ada yang tak menitihkan air mata di ruangan itu, termasuk Syntia yang sudah jatuh hati pada bayi Dinda, Daka sebagai tim dokter saja sudah pasrah pada Tuhan, apa lagi Alan yang tak tau apa apa, ia hanya menyerahkan semua itu pada sang Pencipta.


''Ma, tolong hubungi bang Faisal, setidaknya dia tau kondisi keponakannya.'' ucap Alan tersendat.


Din, di manapun kamu berada aku minta maaf, karena aku tidak bisa menjaga putra kita.


''Al.'' Suara Daka dari belakang menepuk bahunya, pria itu tau kalau Alan saat ini di liputi penyesalan yang mendalam.


''Semua manusia hanya bisa berencana. Tapi Tuhan lah yang memutuskan, umur manusia bukan di tangan manusia, tapi di tangan Tuhan.''


Alan menoleh menatap wajah Daka yang juga sembab. ''Apa Dinda benar benar nggak bisa lihat anaknya untuk saat ini?'' tanya Alan berharap kalau wanita itu bisa datang dan memeluk putranya.


Kenyataannya Daka menggeleng, karena Ia tau kalau keadaan Dinda masih sangat minim untuk kembali menyaksikan kepedihan, Dan Daka takut kalau Dinda kembali ke masa yang lebih buruk.


Alan kembali terisak, mengingat saat ia melarang Dinda untuk menemui anaknya. Namun laki laki itu diam, lidahnya sudah keluh untuk mengungkapkan kesalahannya selama ini.


Sesekali Alan menatap layar Monitor berharap mesin itu tetap berbunyi dengan normal.


''Nak, kamu dengar papa, kan? cepat sembuh ya, setelah ini kita akan temui mama, kita jalan jalan bersama, kita akan keliling kota.''


Sekuat apapun, Alan juga manusia yang rapuh jika di terjang musibah, apa lagi bencana yang menimpanya itu bertubi tubi, mungkin kata menyesal saja tidak cukup untuk menebus kesalahannya, dan kini pria itu cukup menerima pelajaran hidup yang begitu pahit.


Beberapa menit berlalu dengan suasana yang masih mencengkam, pintu ruangan terbuka, Sosok pria yang di tunggu datang, dan sama, tak ada senyum yang terukir di wajah itu, namun kesedihan yang di tampilkan Faisal saat mendekati brankar.

__ADS_1


''Keponakan paman, kamu tampan sekali.'' mencium kening bayi Dinda.


Meskipun Faisal saat ini tersulut emosi saat menatap Alan, pria itu tak mau egois dan belum saatnya meluapkan amarah.


Sebenarnya Faisal pun tak sanggup melihat kondisi bayi itu, namun bagaimana lagi, Faisal mewakili keluarganya untuk menjenguk putra adiknya.


"Paman disini, tapi mama tidak bisa datang." suara pelan Faisal seraya mengelus pipi bayi itu.


Alan memilih untuk duduk di lantai.


"Mama sudah meng ikhlaskan kamu dik, jika surga adalah tempat yang paling indah, semua rela untuk melepasmu, dan kamu tidak akan merasakan sakit lagi, mungkin Tuhan lebih sayang kamu dari pada kami, Paman janji, paman akan menjaga mama kamu dengan baik, tidurlah yang tenang."


Faisal mendaratkan ciumannya saat suara jantung dari monitor itu mulai lambat.


Nggak, anakku nggak boleh pergi, dia akan tetap ada di antara aku dan Dinda, dia adalah bukti kalau Dinda adalah milikku.


Alan bangkit menghampiri Faisal lalu menarik kerah abang iparnya.


"Maksud abang apa, kenapa abang bicara seperti itu? dia akan tetap hidup, dan dia adalah permata ku dan Dinda." ucap Alan lantang.


Belum juga menjawab, Daka dan dokter yang lain kembali panik saat mendengar bunyi monitor itu semakin lambat bahkan bunyi detak jantung pun hampir tak bersuara.


Alan kembali menatap bayi mungilnya itu.


"Al, kasih nama untuk bayi kamu!" titah Faisal.


Alan menggeleng cepat, "Enggak, aku mau nunggu Dinda, kita akan kasih nama untuk bayi kita sama sama." ucap Alan ngeyel.


Syntia yang mendengar ucapan Alan itu sangat cemburu, apa lagi ini pertama kalinya Alan mengatakan di depan umum akan harapannya bertemu dan bersatu dengan madunya itu.


"Tidak, cepat kasih nama sekarang!" titah Pak Heru mendekati Alan dan menepuk bahunya.

__ADS_1


''Kasih nama sekarang, Al, jangan tunda lagi."


Bu Yanti hanya bisa menggenggam kaki bayi itu.


''Aldiansyah Sudrajat.'' ucap Alan lemah. Di saat itulah Daka dan dokter lainnya mulai melepas alat bantu pernafasan serta beberapa kabel yang beberapa hari menghiasi tubuh bayinya.


Tangis di ruangan itu kembali pecah bersamaan dengan melepas bayi mungil yang akan meninggalkan mereka untuk selama lamanya.


Seketika itu pula Bu Yanti pingsan. Sebagian dokter kini disibukkan dengan Bu Yanti yang harus mendapatkan perawatan. Sedangkan yang lain masih tetap di ruangan itu untuk mengurus bayi yang tertidur pulas.


Alan yang tak bisa menopang tubuhnya itu hanya bisa bersandar di tembok dan merosot, ini adalah titik terburuknya, dimana ia harus kehilangan bayinya untuk selama lamanya.


Tak ada yang bersuara, air mata menjadi saksi bisu kesedihan dua keluarga itu, batapa hancurnya hati saat kehilangan orang yang di sayanginya, kehadirannya yang begitu singkat seolah meninggalkan kenangan yang begitu indah. Kini semua hanya bisa menerima walaupun berat.


Setelah semua puas menatap wajah bayi yang teduh itu, kini Daka mendekati Alan dengan pandangan kosongnya, bahkan air matanya sudah habis dan tak bisa mengalir lagi.


Daka berjongkok di depan Alan, pria itu tau bagaimana hancurnya hati Alan saat ini.


''Yang sabar, bayi kamu lebih tenang seperti ini, dan ini adalah terakhir dia ada di dekat kita. Lihatlah, dia tersenyum, dan dia juga tidak ingin melihat papanya sedih, masih ada yang perlu kamu perjuangkan, hidup terus berjalan, dan kamu harus lebih semangat. Buktikan kalau kamu juga ingin lebih baik, semua manusia pasti punya salah, se fatal apapun kesalahan, jika kamu menyadarinya pasti akan mendapatkan yang terbaik juga.''


Alan mengangguk, Daka memang selalu bijak dalam mengambil keputusan apapun, meskipun ia kocak, hidup yang terlalu keras membuatnya menjadi laki laki yang penuh dengan tanggung jawab.


Dengan bantuan Daka Alan mendekati putranya.


''Maafkan papa, karena selama kamu hadir, papa tidak pernah memberikan kasih sayang untuk kamu, bahkan selama di dalam perut mama pun papa tidak pernah memberikan apa yang kamu mau, apa sekarang kamu sudah puas menghukum papa? jika belum, hukumlah papa sampai menyusul kamu nanti.''


Lagi lagi Alan menyeka air matanya dan tersenyum lalu mendekatkan wajahnya di telinga bayinya.


''Goodbye baby Aldiansyah Sudrajat, hope you have the most beautiful place in heaven.''


Setelah berbisik, Alan mendaratkan ciuman yang terakhir kalinya untuk sang buah hati sebelum di bawa tim dokter.

__ADS_1


Nangis berjamaah, yuk!" 😭😭😭😭😭


Sumbang bunga buat Dedek Aldiansyah Sudrajat juga ya, semoga dia mendapatkan syurga di sisi-Nya.


__ADS_2