Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Tujuh tahun lalu


__ADS_3

Setelah seharian puas menyusuri setiap sudut kota, akhirnya malam ini Alan mendapat tempat berlabuh, di sebuah klub malam Alan memarkirkan mobilnya.


Sudah delapan tahun Alan tak menginjakkan kakinya ditempat itu, dan masih ingat dengan jelas kapan terakhir ia di sana.


Itulah pertama kali ia di pertemukan dengan Faisal dan Daka meskipun dalam keadaan tidak sadar.


Tujuh tahun silam....


Kehidupan yang di penuhi dengan harta berlimpah membuat Alan menjadi remaja dengan pergaulan bebas, klub adalah tempatnya nongkrong setiap malam untuk menghilangkan kejenuhan.


Hingga pada suatu malam pria itu mabuk yang berlebihan hingga membuatnya tak berdaya.


Karena terlalu banyak minum Alan jatuh sebelum sampai ke mobilnya.


Faisal yang saat itu baru turun dari ojek mendapati tubuh Alan yang tergeletak di samping mobil mewah.


''Bangun, hai, menepuk nepuk pipi Alan, Aduh....siapa sih ini, Faisal yang kebingungan itu merogoh kantong Alan untuk mencari nama serta alamatnya, karena nggak mungkin Faisal membiarkan orang tak sadar itu terbengkalai.


Alan Sudrajat.


Setelah membaca nama itu Faisal mengambil kunci yang sudah ada di tangannya.


Masih bingung meminta bantuan siapa, akhirnya Ia memanggil orang yang melewatinya.


''Mas, tolongin dong, kasihan nih orang!" menarik celana pria yang kini mematung di sampingnya.


''Biasa aja mas, disini mah tempatnya orang kayak gini karena kebanyakan minum." menoyor jidat Alan yang sudah tak sadarkan diri.


Sedangkan Faisal yang memang asli baru beberapa hari datang dari kampung hanya manggut manggut mengerti, namun tetap, dia tak tega jika harus meninggalkannya begitu saja. Toh itu bukan kebiasaannya membiarkan orang yang butuh pertolongannya.


''Tapi mas, kasihan masnya ini, kayaknya dia juga seumuran kita, gimana kalau ini terjadi sama kita?'' masih kekeh ingin menolong.


''Kenalan dulu dong.''


Keduanya saling mengulurkan tangan dan berkenalan. Setelah itu Daka yang sedikit tau tentang keadaan kota itu mengambil kunci milik Alan dan menyalakan alarm untuk mencari mobilnya.


Setelah mendapati mobil orang pingsan itu, Faisal dan Daka mengangkatnya ke dalam mobil.


''Berat juga dia, mungkin kebanyakan dosa.'' Ucap Daka dengan nafas ngos ngosan.


''Ah, kamu ini, tubuh dia kan sebesar kita, ya berat lah, setiap manusia itu punya dosa, bukan dia saja.'' cetus Faisal saat orang yang baru di kenalnya beberapa menit itu ngomong asal.


''Iya, bercanda, sudah yuk kita antar pulang.''

__ADS_1


Daka yang memang bisa nyetir itu langsung duduk di tempat kemudi, sedangkan Faisal duduk di sampingnya membiarkan Alan di belakang yang mulai muntah sembari merancau tak karuan.


Daka yang sibuk menyetir menoleh ke arah Faisal yang masih memeluk tas ranselnya.


''Memangnya kamu mau ke mana?'' tanya Daka.


Faisal mendengus kesal karena capek.


''Cari kos kosan, tapi belum nemu harga yang murah, tadinya aku ngekos, tapi sedikit mahal, sayanglah kalau bisa cari harga standart.'' keluhnya menyandarkan punggungnya, ini pertama kali pria itu naik mobil mewah, merasa nyaman untuk melepas lelah.


''Memangnya kamu ke sini mau apa? kerja atau kuliah.'' tanya lagi Daka penasaran, masa iya tampan tanpan mau jadi kuli bangunan, pikirnya.


''Kuliah, jawab Faisal.


''Dimana?'' tanyanya lagi siapa tau sama.


''Di universitas SS.'' jawab Faisal singkat.


''Aku juga di sana, kalau gitu kita satu perjuangan, tinggal di tempatku saja.'' tawar Daka, meskipun belum mengenal lebih jauh, namun Daka tau kalau orang yang saat ini di sampingnya adalah pria baik yang perlu ia bantu.


Seketika Faisal melebarkan matanya menatap lekat wajah yang sedikit humoris tersebut.


''Beneran?'' memastikan kalau laki laki di sampingnya itu serius dengan ucapannya.


''Baiklah, nanti kita patungan bayarnya.''


Setelah keduanya tos setuju, kini Daka kembali teringat orang yang ada di belakangnya.


''Ini orang rumahnya di mana?'' tanya Daka saat beberapa menit membelah jalanan.


''Bentar, aku lihat dulu.'' kembali melihat ktp milik Alan yang masih di kantonginya.


''Jalan X.'' ucapnya.


Daka tersenyum, ''Anak orang kaya dia.'' gumamnya.


''Gimana kalau kita buang dia, lalu kita bawa kabur mobilnya, ucap Daka sejenak menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


''E....ladalah....jangan, kasihan dia, nanti kalau kita di tangkap polisi bagaimana, kasihan Ibu dan bapak di kampung.'' jawab Faisal polos.


Daka tertawa lepas mendengar ucapan laki laki itu yang menganggapnya serius.


''Bercanda. ucap Daka menjelaskan saat Faisal menatapnya dengan tatapan selidik.

__ADS_1


Dia benar benar baik, jujur dan apa adanya.


Setibanya di depan rumah besar nan mewah, Faisal dan Daka hanya bisa melongo tak berkedip, ini pertama kalinya ia menatap istana mewah dan itu bukan cuma postingan diponsel, tapi itu nyata di depan matanya.


''Ini benaran rumah dia?'' menunjuk Alan yang sudah terlelap.


''Iya, jawab Daka sembari menatap layar ponsel bututnya.


Faisal memanggil satpam yang baru saja membukakan pintu gerbangnya untuk membantu mengangkat tubuh Alan, kali ini mereka benar benar lelah jika harus berdua saja, belum lagi jarak mobil ke rumahnya beberapa meter, pastilah butuh tenaga ekstra.


Baru juga di depan teras, beberapa pembantu membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk, di dalam sudah ada kedua orang tua Alan yang ada di ruang keluarga.


''Maaf ya, Alan ngerepotin kalian,'' ucap Bu Yanti lembut membuka sepatu putranya.


''Nggak apa apa tante, tapi kita ini bukan sahabatnya,'' jawab Faisal menunduk, takut disalahkan dengan keadaan Alan saat itu.


"Kalau bukan sahbatnya, kalian ini siapa?'' kali ini pak Heru yang buka suara.


Keduanya makin takut dan menautkan kedua tangannya.


''Tadi teman saya ini menemukan anak Om di depan klub, dia nggak tega, jadi kami anterin pulang.''


Pemuda yang baik, Aku harus mengenalkan Alan pada mereka supaya lebih baik lagi dan tidak terlalu bebas.


''Kalian kuliah di mana?'' tanya pak Heru mendekati Daka dan Faisal.


''Di Universitas SS.'' jawab Daka yang lebih dulu masuk kesana.


''Kalau gitu sama dong dengan Alan.'' ucap Pak Heru merasa beruntung karena lebih mudah untuk mendekatkan mereka.


Setelah di kira cukup, Daka dan Faisal pamit untuk pulang karena memang sudah larut malam, apa lagi keduanya tak membawa kendaraan, akhirnya Daka memesan ojek online untuk keduanya.


Flashback on...


Dengan langkah gontainya Alan masuk ke dalam klub itu, mungkin minum adalah jalan satu satunya untuk menghilangkan bebannya saat ini.


Alan menerobos masuk dan duduk di kursi yang kosong sembari menatap para pengunjung yang berlalu lalang.


Belum juga pelayan yang menghampirinya menawarkan sesuatu, Alan sudah lebih dulu mengucapkan pesanannya.


Selang beberapa menit berlalu dua botol wine hadir di depannya, di tatapnya lekat lekat minuman itu.


Heh... Alan tersenyum getir dan meraih botol di depannya.

__ADS_1


Dinda, aku harus mendapatkan kamu kembali, bagaimanapun caranya, kamu harus menjadi milikku. batin Alan sebelum meneguk minuman yang sudah bertahun tahun tak di sentuhnya itu.


__ADS_2