
Hari sudah semakin sore, entah karena kasurnya yang begitu empuk atau Dinda memang kecapekan, wanita itu terlelap hingga beberapa jam, karena setelah pindah di apartemen Faisal, Ia sangat sibuk, belum lagi harus menyiapkan makanan dan membersihkan apartemen jika Faisal kerja.
Dinda mengerjap ngerjapkan matanya sembari mengumpulkan nyawanya yang berceceran. di tatapnya langit langit kamarnya dengan lekat.
Aku kan tadi di rumah mama.
Dinda terbangun dan menatap layar ponselnya.
"Apa, sudah jam empat." cicitnya membuat Alan yang tidur di sofa ikut membuka matanya.
Alan menatap Dinda dari jauh, sepertinya wanita itu kecewa.
Ehemmm.... Alan berdehem, Dinda yang sedari tadi belum sadar itu langsung saja menoleh.
Kak Alan, ngapain dia disini?
Tak berkata sepatah katapun, Dinda langsung saja melangkahkan kakinya menuju pintu.
''Kamu mau kemana?'' tanya Alan saat Dinda memegang handle.
''Menemui bang Faisal.'' jawabnya singkat.
''Dia sudah pulang.'' jawab Alan lagi.
''Kalau gitu mau ketemu mama.'' jawab lagi Dinda.
''Mama keluar sama papa.'' jawab Alan.
Dinda mendengus, kenapa bisa abangnya melupakan permintaannya tadi, kesal menyelimutinya, tapi nggak mungkin ia menelepon Faisal untuk kembali menjemputnya, kasihan, Faisal juga butuh istirahat.
''Memangnya kamu butuh apa?'' tanya Alan, entah ilhamnya turun sejak kapan, sampai dia menawari Dinda sesuatu.
''Apa jika aku ngomong kakak mau belikan?'' tanya balik dengan nada cuwek, Dinda kembali duduk di tepi ranjang.
''Nggak janji.'' jawabnya meraih ponsel di meja.
''Kalau gitu nggak usah nanya, dari pada harus makan harapan palsu, mendingan kau tidur.'' ucap Dinda kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya.
Alan yang masih mendengar ucapan Dinda dengan jelas itu merasa tersinggung, tapi ia bisa apa, nyatanya memang begitu, sering kali Ia hanya membuat janji dan tak pernah menepatinya.
Wanita itu memilih untuk memainkan ponselnya dan mengabaikan Alan yang masih ada di kamar tersebut, karena matanya sudah enggan untuk tertutup lagi.
__ADS_1
Selang beberapa menit, Dinda merasa bosan saat melihat lihat gambar ice cream yang begitu menggoda dari ponselnya, wanita itu tak sanggup lagi untuk memendamnya, bukan karena ngidam, namun karena sudah lama ia tak menikmati es di dalam cup yang lumer itu.
''Kak, dari kapan mama pergi?'' terpaksa dia harus bertanya sama Alan, karena air liurnya sudah ingin menetes.
''Baru saja, memangnya kenapa, kalau kamu butuh sesuatu bilang aja!" karena itulah yang di ucapkan Bu Yanti tadi, Alan harus menjaga dirinya sampai sang mertua datang.
Aku bilang nggak ya, tapi, _
"Bilang saja, Aku belikan!" cetusnya tanpa menoleh.
"Nggak kok, aku hanya lapar."
Dinda kembali turun dari ranjangnya dan kembali menuju pintu.
Baru saja beberapa langkah, Dinda menghentikan kakinya dan memegang perutnya dengan erat, Alan yang menatap punggung Dinda itu langsung berlari menghampirinya saat Dinda sedikit terhuyung.
"Kamu kenapa?" tanya Alan menopang tubuh istri keduanya yang saat ini menyengir, sepertinya wanita itu menahan sesuatu.
"Perutku sakit." ucapnya, tak hanya itu, bahkan Dinda pun mengeluarkan peluh yang kini membasahi dahinya.
Alan langsung saja memapah Dinda dan membawanya kembali ke ranjang, tak banyak kata, Alan menghubungi sahabatnya, yang juga menjadi dokter kandungan Dinda.
Seperti kemarin saat ia menghubungi Dokter lapuk itu, saat ini laki laki itu pun tak mengangkat telepon darinya.
Dinda mengangguk, masih seperti tadi Ia terus mendesis sembari mencengkeram spray.
Halo Din, sapa suara yang familiar dari seberang sana.
''Ini aku Alan,'' jawab Alan datar, tak menyangka kalau sahabatnya benar benar menghindarinya.
''Kamu, ada apa, kenapa pakai telepon Dinda, dia baik baik saja kan?'' Seketika Dokter Daka langsung terlihat panik, takut kalau Dinda kenapa napa.
"Dinda sakit perut, cepat kesini, dia ada di rumah mama!" jelasnya.
Tak menunggu kata kata dari Alan lagi, Dokter Daka langsung mematikan teleponnya.
Segitunya kamu tak mau bicara denganku, apa ini semua juga ada hubungannya dengan masalahku dan Dinda, kenapa kehadirannya membuat orang terdekatku menjauh, bahkan sepertinya kamu khawatir dengan Dinda, apakah ini hanya sebatas pasien, ataukah ada hubungan lain.
''Apa masih sakit?'' tanya Alan lagi, menarik kursi dan duduk di samping Dinda.
''Sedikit,'' jawabnya pelan, Dinda memilih untuk melengos dari pada harus menatap wajah Alan.
__ADS_1
Selang beberapa menit menunggu, suara ketukan terdengar dari luar, Alan segera beranjak dan membukanya, ternyata Dokter Daka.
''Mana Dinda?'' tanya Dokter Daka.
Alan tak menjawab, namun ia memberi jalan agar Dokter dengan julukan lapuk itu masuk.
''Kamu tidak apa apa?'' Sang dokter menaruh tas dan mengeluarkan peralatannya.
Kali ini ada senyuman yang terbit dari bibir Dinda yang membuat Alan kembali tersinggung, tapi Alan tak bisa berbuat apa apa karena apa yang di lakukan Dinda adalah berawal darinya.
''Dokter jangan khawatir gitu, tadi kayaknya dedeknya sedang olahraga, tapi terlalu kenceng sampai rasanya mau keluar.'' ucapnya saat Dokter Daka mulai memeriksa detak jantung bayinya.
Kenapa Aku merasa ada yang tidak baik dengan detak jantung bayi Dinda, apa yang terjadi, batin Dokter Daka sedikit cemas.
Pasalnya tak seperti biasa yang normal, kali ini detakan itu terlalu lambat untuk ukuran bayi yang akan lahir.
Dengan pandangan kosong, Dokter Daka menaruh peralatan dan membantu Dinda untuk bangun, sedangkan Alan hanya bisa mematung menyaksikan Dokter Daka tanpa menanyakan keadaan Dinda pada sahabatnya.
''Dokter kenapa, bayi aku sehat, kan?'' tanya Dinda antusias karena harapannya pun seperti bulan lalu bahwa anaknya memang baik.
Dokter Daka tersenyum dan mengangguk.
Nggak mungkin aku berkata jujur kalau ada yang tidak beres dengan jantung anak kamu, Alan sudah melukai kamu, dan aku tidak mau menambah beban kamu, semoga kamu dan bayi kamu selalu dalam lindungan-Nya.
''Memangnya Faisal ke mana?'' Ucap Dokter Daka, sepertinya kehadiran Alan sudah tak di anggapnya, itulah menurut sahabatnya itu saat ini.
''Nah, itu dia.'' Dinda cemberut masih ingat akan keinginannya makan ice cream di dalam cup.
''Dia pulang nggak bilang bilang, padahal kan abang sudah janji mau beli es cream, tapi dia melupakanku.'' bagai anak kecil, itulah Dinda saat ini.
Dokter Daka yang menganggap Dinda seperti adiknya sendiri itu pun tertawa.
''Baiklah, biar aku yang belikan, anggap saja wajahku ini abang kamu.'' Memasukkan kembali peralatannya kedalam tas.
''Beneran, dok?'' Dinda memastikan, karena wanita itu tak mau janji palsu seperti yang sering Alan ucapkan.
''Aku selalu menepati janji, jadi kamu istirahat, dan tunggu aja es krimnya datang!'' mengelus pucuk rambut Dinda.
Alan yang merasa tersindir memilih untuk diam, baginya tak ada gunanya berdebat toh itu benar adanya.
''Biar aku yang belikan!'' ucap Alan saat Dokter Daka beranjak.
__ADS_1
''Tidak usah, biar Dokter Daka saja, karena aku nggak mau gagal makan es krim,'' ucap Dinda seketika.
Kali ini bukan hanya sindiran, ucapan Dinda bagaikan tusukan yang membuatnya merasa nyeri saat mendegarnya.