Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Dinda pulang


__ADS_3

Meskipun Alan sudah bilang ingin mengabulkan permitaan Dinda, namun pria itu semakin kacau, bahkan tatapannya kosong, tak ada lagi harapan untuk membuat Dinda kembali, itulah menurutnya, mungkin hari ini adalah hari terburuknya di mana ia harus di hadapkan dengan surat perceraian yang di bawa Faisal.


Hari ini Alan masuk ke kantor memakai baju casual, meski menjadi pusat perhatian, pria itu tak menghiraukan para karyawan yang berhalu lalang.


Alan menghentikan langkahnya saat di depan ruangannya lalu menoleh, di tatapnya ruangan sekretarisnya yang hari ini mulai kosong tanpa penghuni.


Setelah puas, Alan membuka pintu ruangannya dan melangkahkan kakinya menuju sofa, tak ada semangat dan gairah untuk megotak atik laptopnya, baru juga menghempaskan tubuhnya pintu di ketuk dari luar.


"Masuk!" sahut Alan merapikan bajunya dan menuju kursinya karena ia tau siapa yang datang.


"Silahkan duduk!" ucap Alan saat Faisal yang baru saja datang itu mematung dengan map di tangannya.


"Ini surat pengunduran diri aku, dan ini surat perceraian kamu dan Dinda.'' menyerahkan dua berkas di depan Alan.


Alan meraih pulpen dan membuka map pertama yaitu surat pengunduran diri Faisal.


Tidak membaca, Alan langsung saja menanda tanganinya tanpa bertanya.


Setelah menutup map itu, Alan kembali menatap map yang satunya, tanpa memegangnya.


"Akan aku serahkan besok." ucap Alan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa besok, lebih cepat lebih baik, bukankah itu yang kamu mau, berpisah dari adikku?" ucap Faisal dengan jelas.


Itu dulu, tapi sekarang tidak.


Namun nyatanya itu hanya bisa di ungkapkannya dalam hati.


Mulut Alan terkunci dan mengetuk ngetukkan pulpennya di atas meja.


Baru saja ingin membuka map, ponsel Alan berdering, terpaksa Ia harus mengangkatnya lebih dulu.


''Halo,'' Sapa Alan.


Halo Al, hari ini Dinda pulang, kamu cepat kerumah sakit ya, soalnya mama nggak bisa ke sana karena papa kamu ada urusan, ucap dari seberang sana.


Ternyata Bu Yanti yang memberi tau kepulangan Dinda.


Setelah menutup ponselnya, Alan menaruh map itu di laci.


''Kita harus ke rumah sakit, Dinda mau pulang, aku nggak mau kalau mama sampai marah gara gara aku terlambat menjemputnya.''

__ADS_1


Alan beranjak dan meninggalkan berkas itu begitu saja, begitu juga dengan Faisal, yang langsung melupakan sesuatu jika itu memang menyangkut adiknya.


Sedangkan di rumah sakit, ini pertama kalinya Dinda menjenguk sang buah hati yang masih ada di ruangan khusus, meskipun tak bisa menggendongnya, setidaknya ia bisa berdekatan dengan bayi mungil itu, beberapa kali Dinda memotret wajah yang masih memerah tersebut.


''Memangnya anakku kenapa Dok, kenapa dia di pasang selang seperti ini?'' tanya Dinda pada Dokter Daka yang saat ini duduk di sampingnya.


Wanita itu tak tega melihat kabel dan selang yang semrawut di kulit sang bayi.


''Anak kamu cuma kurang sehat saja, dan belum bisa di bawa pulang, mungkin seminggu lagi.'' ucap Dokter Daka, karena ia pun tak mungkin menceritakan kondisi anak Dinda yang memang punya penyakit bawaan.


Itu artinya ini adalah terakhir aku melihatnya, karena aku akan segera pergi.


Cup, sekali lagi Dinda mendaratkan ciumannya di pipi bayinya itu.


Dinda kembali menitihkan air matanya di pipi bayi yang saat ini memejamkan matanya, seperti meninggalkan sebuah jejak kalau dia adalah ibu kandungnya, meskipun akan pergi jauh, yang pastinya kasih sayang Dinda begitu besar untuk putranya.


''Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan keturunan untuk keluarga mama dan papa, semoga mereka akan mengingat Dinda yang pernah menjadi menantunya dan pernah memberi cucu untuknya.''


Apakah masih ada wanita di dunia ini seperti kamu Din, wanita yang kuat yang sabar dan baik.


''Dok, aku mau pulang sekarang.'' ucapnya setelah menyeka air matanya, karena Dinda takut jatuh cinta pada bayinya dan mengingkari janjinya jika berlama lama di ruangan itu.


Dengan cepat Dokter Daka mendorong kursi rodanya keluar untuk menunggu jemputan.


''Dok, kok abang lama banget, kemana ya?'' tanya Dinda lagi.


''Mungkin masih di jalan, katanya tadi mau ke kantor Alan menyerahkan berkas.'' jawabnya karena memang sebelumnya Faisal memberi tau Daka untuk menemani sang adik dan keluarganya sebelum ia kembali.


Lima menit kemudian, mobil Faisal datang, Dinda yang saat ini memang menanti pun menerbitkan senyumnya, baru saja Faisal turun, mobil Alan dari belakang menyusul.


Kak Alan, kok dia bisa bareng sama Abang, apa abang memang dari kantor kak Alan.


Pria itu ikut membuntuti Faisal untuk menemui Dinda dan mertuanya.


''Kalian ini janjian atau kebetulan, kok bisa barengan?'' celetuk sang Ibu.


Alan hanya tersenyum tanpa kata lalu berjongkok di depan Dinda setelah menyalami kedua mertuanya.


"Kita pulang ke rumah ya!" tawar Alan, mengelus punggung tangan Dinda, karena bagaimana pun juga mereka masih sah menjadi suami istri.


Dinda menggeleng.

__ADS_1


"Maaf, aku mau pulang ke rumah abang." ucap Dinda seketika, tak mau terjebak dalam mulut manis suaminya untuk yang ke sekian kali.


"Kenapa?" tanya Bu Tatik yang tak tau menau soal perceraian mereka.


"Nggak kok Bu, nggak kenapa napa, mungkin saja Dinda kangen sama abangnya, sini aku gendong,'' tanpa aba aba Alan mengangkat tubuh Dinda dan membawanya ke mobil miliknya.


"Aku ingin naik mobil abang." lagi lagi Dinda berusaha menghindar dari suaminya.


"Aku mohon, biarkan aku bersama kamu yang terakhir kali." bisik Alan.


Akhirnya tak ada jawaban lain selain mengangguk.


Faisal yang mengerti itupun membukakan pintu mobilnya.


Andai saja kasih sayang kamu itu dari dulu, adikku tidak akan terluka seperti saat ini.


"Aku jalan dulu ya, bang." ucap Alan sebelum melajukan mobilnya.


Sejak kapan Kak alan panggil abang.


Faisal menghampiri Daka yang masih mematung bersama ibu dan bapaknya.


"Terima kasih ya, kamu sudah menolong adikku, semoga jodoh kamu cepat datang." entah itu mendoakan atau mengejek yang pastinya Daka merasa kesal karena Faisal sudah membongkar statusnya di depan kedua orang tuanya.


Bu Tatik terbelalak, tak menyangka Dokter tampan yang saat ini ada di sampingnya itu belum punya pasangan.


"Kamu yakin Sal, kalau nak Daka belum punya pacar?" tanya Bu Tatik memastikan kalau yang di dengarnya itu nggak salah.


"Belum Bu, nggak laku dia." ejeknya.


"Tu Bu, anak Ibu sukanya ngejekin aku, Ibu masih punya anak perempuan nggak, aku mau dong di jodohin sama dia.'' bergelayut manja di lengan Bu Tatik.


"Punya, namanya Salma." cicit wanita tua itu.


Daka terbelalak, sepertinya pernah mendengar nama itu.


Bukankah dia gadis yang waktu itu ikut acara tujuh bulanan Dinda.


Sayang sekali karena waktu itu Daka tak bisa berkenalan dengan gadis cantik sepupu Dinda karena ada masalah kecil.


"Ya ampun Bu, masa iya Ibu mau jodohin dia sama Salma, menunjuk wajah Daka.

__ADS_1


''Ya nggak cocok lah.'' lanjutnya membuat pak Yanto dan Bu Tatik terkekeh.


__ADS_2