
Berat, itulah menurut Alan, mual dan muntah yang di alaminya sangat menyiksa tubuhnya, apa lagi saat di pagi hari, Alan harus memaksakan diri untuk membuka mata gegara perutnya yang tak bersahabat.
''Sayang, tolong ambilkan ponselku!" dengan suara lemah Alan meminta pertolongan Dinda.
Segera wanita itu menyodorkan ponsel suaminya.
"Bang, tolong untuk beberapa hari abang handle pekerjaanku, aku nggak bisa kerja," ucapnya lalu kembali menutupnya, karena bagaimanapun hanya kata sanggup yang di inginkannya dari mulut Faisal.
"Apa ini hukuman yang di berikan Tuhan untukku, apa ini sebuah karma dengan apa yang pernah aku lakukan ke istriku." gumamnya. Sekuat tenaga Alan mencoba bertahan, meskipun kadang juga lelah dan putus asa dengan keadannya saat ini Alan tetap harus melewati ujian dari sang kholiq.
Dinda kembali menghampiri Alan dan duduk di sampingnya.
"Kakak ingin makan apa?" menyunggar rambut Alan yang menutupi jidatnya.
"Salad kampung," jawabnya.
Dinda mengernyit, tak tau apa yang di maksud suaminya.
"Maksud kakak rujak?" Sedikit mengingat waktu itu saat Alan menamai rujak sebagai salad kampung.
Pria itu mengangguk. "Tapi aku pinginnya kamu yang bikin."
Baru saja ingin mencium pipi Dinda, Kedua bocah cilik itu masuk.
"Ada apa, sayang?" Keduanya memeluk Alan dan Dinda.
"Ma, kata Mbak Endah papa hamil."
Alan membulatkan matanya. Ingin rasanya memaki pegawai istrinya itu, namun apa daya, itu tidak mungkin. Jangankan suara keras, untuk berjalan saja harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Dinda tersenyum dan menangkup pipi Fana untuk menjelaskan semuanya.
"Sayang, bukan papa yang hamil, tapi mama."
Ingin ketawa pun nggak jadi, melihat raut wajah suaminya yang kacau balau saat di bilang hamil oleh Fana.
"Itu artinya sebentar lagi Fana akan punya teman?"
Dinda mengangguk, Fana dan Tama langsung mencium perut rata Dinda.
"Cium papa juga dong."
Alan menunjuk pipi kiri dan kanannya.
Kedua bocah itu beralih mencium kedua pipi Alan bersamaan.
__ADS_1
"Sekarang kalian temani papa dulu ya, mama mau ke dapur."
"Oke mama."
Tak mau Alan menunggu lama Dinda segera bergulat dengan bahan yang di perlukan.
"Mau buat apa, Din?" Tanya Bu Yanti yang baru saja tiba, wanita itu mendekati Dinda yang sibuk mengeluarkan buah dari lemari pendigin.
"Kak Alan minta di buatkan rujak." ucapnya mulai mengupas satu persatu buah.
"Tapi dia baik kan?"
Dinda mengangguk. "Mama lihat saja sendiri, anak anak juga di kamar."
Bu Yanti segera melangkahkan kakinya menuju kamar Alan, di lihatnya putranya itu sedang bercanda dengan kedua cucunya, kini tak perlu ada yang di harapkan lagi, semua sudah tercapai, perjuangannya mempersatukan Alan dan Dinda pun sudah terlaksana.
"Mama," panggil Alan saat mendapati Bu Yanti hanya mematung di ambang pintu.
"Kamu nggak apa apa?" tanya Bu Yanti menghampiri ranjang Alan.
"Tidak, hanya lemas saja, mungkin karena kurang nafsu makan."
Puas dengan papanya, kini kedua bocah gesrek itu berhamburan memeluk omanya.
"Inilah yang di rasakan Dinda dulu saat mengandung bayi pertama kamu, jangan pernah mengeluh, istri kamu saja yang lemah bisa melewati cobaan berat, apa lagi kamu. Itu Artinya Tuhan masih sayang sama kamu."
"Iya ma, aku ikhlas menjalani semua ini, yang terpenting istri dan calon bayiku baik baik saja."
Bosan di kamar, dengan langkah pelan Alan keluar kamar, itung itung untuk meregangkan otot ototnya yang kaku.
"Mau ke mana, kak?" Tanya Dinda saat Alan hanya melewatinya yang masih sibuk membuat bumbu kacang.
"Ke konveksi bentar." Jawabnya, entah kenapa hari ini ia ingin menilik pegawai istrinya.
"Biarkan saja Din."
Mama terlihat makin muda saja semenjak ada anak anak, aku nggak nyangka bisa memberikan apa yang mama Yanti inginkan, dan sebentar lagi rumah ini akan semakin ramai dengan hadirnya adiknya si kembar.
Alan mengawasi kinerja semua pegawai di sana, mereka terlihat serius dan teliti, pantas saja Dinda tak pernah marah dengan hasil yang mereka buat, Dinda maupun pegawainya benar benar cocok di bidang pakaian.
''Endah...''
Memanggil gadis yang beberapa bulan lalu melepas masa lajangnya.
Alan menoleh ke kanan dan kiri sebelum mengatakan sesuatu.
__ADS_1
''Kamu bilang ke anak anak kalau aku hamil?'' Tanya nya pelan.
Endah menelan ludahnya dengan susah payah, kerongkongannya terasa menyempit dan kering seakan sudah tak mampu untuk memuat air liurnya.
''Ti... tidak pak.'' Jawabnya gugup.
''Tapi kenapa mereka bilang kalau aku hamil?'' Lanjutnya lagi.
Duuuhhh..... anak anak, aku kan cuma bilang kalau papa gantengnya ngidam, bukan hamil. kenapa jadi salah paham gini sih. Lirih hatinya.
Endah masih diam dengan wajah yang di penuhi keringat serta kedua tangan saling bertautan.
''Tadi...''ucapan Endah terpotong.
''Kakak.. suara Dinda menghentikan ucapan Endah.
Segera Alan menoleh ke arah istrinya yang kini berjalan menghampirinya.
''Kalian ngapain?'' Nada curiga, melirik ke arah Endah yang masih menunduk.
''Nggak kok, kita pulang, sudah jadi kan saladnya?'' Merangkul pundak Dinda kembali menuju rumahnya.
Tin.. tin... suara klakson menggema, mobil yang baru saja masuk dari gerbang kini terparkir di samping mobil Alan.
''Salma..'' menghampiri sepupunya dengan perut yang sudah membuncit.
''Ngapain kamu ke sini?'' Tanya Alan sinis ke arah sahabatnya yang sudah cengar cengir.
''Mas, jangan mulai deh,'' mencubit lengan Daka, takut mengejek Alan seperti saat di rumah.
''Iya, kita masuk yuk!" Merangkul pundak Alan, sok akrab, padahal Alan sudah merasa enek dengan Daka yang tak henti hentinya meledek dengan apa yang menimpanya.
"Dia ngidam ini, Din?" Menunjuk ke arah rujak yang siap dia makan.
"Enggak, cuma pengin saja, apa salahnya?" Sahut Alan mencomot buah mangga muda yang dulu ia benci, tak lupa di cocol sambal kacang yang memang sudah menggugah selera.
Salma mendekati Daka.
"Mas, kamu bisa diam nggak sih, kasihan kan mas Alan, orang ngidam itu tersiksa lo, apa lagi terus di ejekin, Mas harusnya beruntung tidak bernasib sial, coba kalau dulu mas yang ngidam, ngeri kan."
''Iya, aku minta maaf ya, Al.'' Menepuk nepuk lengan sahabatnya, meskipun bercanda, tak seharusnya Daka terus terusan meruntuhkan semangat Alan yang sedang berjuang melawan trimesternya.
Tak menjawab, Alan terus melahap rujak dengan aneka buah yang di potong, bahkan kali ini pria itu tak peduli dengan orang di sekelilingnya yang hanya menjadi penonton, Dinda saja yang dulu sangat menyukainya kini hanya menyengir, apa lagi Daka, yang memang tidak suka, ia hanya bisa cegelak cegeluk menelan air liurnya yang ingin menetes.
''Rasanya nggak asem, Al?'' tanya Bu Yanti.
__ADS_1
Seketika Alan menggeleng. ''Kenapa aku baru tau ada makanan seenak ini ya,'' ucapnya di sela sela makannya.
Semua hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar mendengar ucapan Alan.